Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Pergi


__ADS_3

Clarissa terdiam melihat layar hpnya saat ini. Ada sebuah panggilan video dari Mahen. Seseorang yang sangat ingin dia hindari.


Dia hanya bisa menatap layar hpnya dengan tatapan kosong. Dia menahan tangannya sekuat tenaga agar tidak menyentuh hpnya.


Tapi jauh dalam dirinya, dia sangat ingin menekan tombol berwarna hijau itu.


"Maaf kan Caca Kak" ucap Clarissa kemudian lebih memilih membuang hpnya ke sembarang tempat.


Dia turun ke bawah untuk makan malam. Disana sudah ada papa dan mamanya.


"Malam pa, ma" ucap Clarissa kemudian duduk di kursi miliknya.


"Pa" panggil Clarissa.


"Hmm" ucap Syam namun dengan tangan masih sibuk dengan layar tab di depannya.


"Clarissa mau belajar bisnis" ucap Clarissa.


Syam terdiam beberapa saat, dia melepas tab di tangannya kemudian menatap anak satu-satunya itu.

__ADS_1


"Kamu yakin sayang? papa sangat senang mendengarnya" ucap Syam.


Clarissa mengangguk mantap.


"Iya pa. Tapi sebagai gantinya, papa kembalikan basecamp anak jalanan dan Clarissa mau pindah sekolah" ucap Clarissa.


Dia sudah memikirkan semuanya dengan matang. Dia tidak akan sanggup jika harus bertemu dengan Mahen lagi. Dia tidak akan sanggup untuk menjauhinya. Satu-satunya cara agar dia fokus menjalankan bisnis sekaligus sekolah adalah ini.


"Oke deal, Untuk sekolah kamu bisa ambil home schooling" ucap Syam. Clarissa menggeleng.


"Tidak pa, Clarissa ingin pindah ke luar negeri. Clarissa sudah memikirkannya matang-matang, Clarissa ingin memegang salah satu cabang perusahaan papa di Singapura. Sekaligus belajar bisnis disana" ucap Clarissa.


"Kamu yakin sayang?" Tanya Kirana yang terlihat tidak rela jika harus jauh dengan anak satu-satunya.


"Iya Ma" ucap Clarissa mantap.


"Iya sudah jika itu keinginanmu. Kapan kamu akan memulainya?" Tanya Syam.


"Besok Clarissa akan langsung berangkat Pa" ucap Clarissa.

__ADS_1


"Sayang, kau tega sekali meninggalkan mama secepat ini. Tunggu seminggu dulu atau sebulan. Mama belum siap" ucap Kirana dengan mata yang terlihat sudah basah. Dia tidak pernah membayangkan akan jauh dengan anaknya seperti ini. Ini terlalu mendadak menurutnya.


"Semakin cepat semakin baik Ma. Clarissa pasti akan balik lagi. Setelah Clarissa sukses, Clarissa akan mengejar kebahagiaan Clarissa disini" ucap Clarissa. Kalimat yang diucapkan Clarissa tadi memiliki makna yang mendalam.


Kirana cukup mengerti apa yang dimaksud Clarissa. Dia juga tidak tega jika harus melihat anaknya menangis setiap hari. Menahan beban yang menurutnya belum waktunya untuk anak seusia Clarissa.


"Baiklah, tapi ingat untuk selalu VC sama Mama. Kalau tidak mama akan menyusul kamu disana" ucap Kirana.


Syam hanya diam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang hanya dia yang tahu. Namun matanya menyiratkan sebuah beban pikiran yang begitu berat.


"Ya sudah, ayo makan dulu" ucap Mama.


Mereka semua pun makan dalam diam.


"Apalah pilihan yang aku ambil ini sudah benar. Apa aku rela jika harus mengorbankan masa mudaku dengan belajar bisnis yang pastinya begitu memuakkan nanti. Apa aku bisa jauh dengan papa dan mama. Tidak bertemu dengan Nadin lagi. Tidak melihat geng the king. Pasti aku akan kangen berantem dengan kak Sindi. Apa kak Mahen akan marah dengan keputusanku. Apa aku egois?"


setiap kalimat itu menari-nari di kepala Clarissa saat ini. Benar-benar berat rasanya untuk meninggalkan semuanya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2