
Hari ini Clarissa sekolah seperti biasanya. Berangkat sekolah dengan sepeda tentunya. Ditambah ada pengawal yang mengikutinya. Namun kali ini suasana sekolah tampak berbeda.
Beberapa siswi yang dia temui menatap aneh ke arahnya.
"Cieee" ucap salah satu siswa yang dia temui.
"Apaan sih?" tanya Clarissa risih. Namun siswa tersebut hanya tersenyum kemudian berlalu pergi meninggalkannya.
Dia berjalan kembali melewati koridor sekolah. Lagi-lagi dia menemui siswi yang menatapnya aneh.
"Dasar cewek kecentilan" ucapnya dengan wajah sinis.
Hal ini tentunya membuat dia semakin bingung.
"Ada apa ini?" Pikir Clarissa.
Hingga dia melihat seseorang berlari kearahnya.
"Cara, akhirnya kau datang juga, ayo ikut aku" ucap Nadin Sambil menarik tangan Clarissa.
Clarissa mengikuti langkah Nadin yang malah terkesan berlari. Mereka menuju ke Mading sekolah. Disana sudah terlihat beberapa siswa dan siswi yang berkumpul sambil memandangi sebuah foto di Mading.
Disana juga sudah ada Sindi CS. Melihat kedatangan Clarissa, para siswi langsung menatap kearahnya.
Ada yang menatapnya dengan tatapan sinis, Namun ada juga yang menatapnya dengan tatapan biasa saja. Dan ada juga yang menatapnya sambil senyam senyum.
Ini membuat Clarissa semakin bingung dengan situasi sekarang.
"Oke sepertinya masalahnya ada pada mading itu" ucap Clarisa kemudian berjalan ke arah Mading untuk memastikan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Astaga" ucap Clarissa sambil menutup mulutnya.
"Kenapa ada foto ini, kapan ini diambil?" Tanya Clarissa lagi.
"Mana aku tahu Ca, justru itu yang aku ingin tanyakan padamu. Karena foto ini sudah membuat satu sekolah heboh" ucap Nadin. Clarissa terdiam sesaat sambil memikirkan kapan dan bagaimana foto ini diambil.
"Astaga, Jangan-jangan" ucap Clarissa kemudian hendak berlari meninggalkan tempat itu namun langsung dihadang Sindi CS.
"Mau kemana kamu cewe kecentilan. Anak baru juga, banyak tingkah ya" ucap Sindi kemudian mendorong Clarissa. Namun Clarissa berhasil menghindar hingga membuat Sindi tersungkur.
"Maaf kak, aku tidak punya waktu meladenimu" ucap Clarissa kemudian meninggalkan Sindi CS.
Melihat Sindi yang terjatuh, tentunya membuat sepasang mata yang melihatnya tertawa puas.
"Ishhh, benar-benar menyebalkan. Awas saja kau. Jangan ketawa, kalau tidak kalian akan tahu akibatnya" ucap Sindi sambil menatap sinis pada siswi disana.
Menikmati angin yang berhembus sambil menatap ke arah langit biru yang begitu cerah.
"Hey, aku mencarimu kemana-mana ternyata kau disini. Apa kau tidak lihat keributan yang sudah kau buat?" ucap Alex yang baru datang dan langsung duduk di tembok tidak jauh dari kursi tempat Mahen tidur.
"Hmm, untuk apa. Tidak penting juga" ucap Mahen tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.
"Tidak penting bagaimana. Kau hampir mencium siswi kelas 1. Kau bilang tidak penting? dan sekarang Bryan sedang mencarimu juga. Apa kau tidak memikirkan perasaannya. Kau sendiri yang bilang tidak tertarik dengan gadis itu" ucap Alex.
"Dia punya nama" ucap Mahen kemudian menghela nafasnya berat.
"Iya terserahlah. Intinya kau harus selesaikan masalah ini" ucap Alex.
"Masalah apa. Aku tidak pernah merasa ini sebuah kesalahan. Pertama, aku tidak pernah mencium Clarissa. Kedua, aku tidak pernah mengambil atau memajang foto itu. Ketiga, Aku tidak pernah merasa menghianati Bryan. Jadi ini bukan urusanku" ucap Mahen kemudian berdiri meninggalkan Alex yang masih terdiam dengan jawabannya.
__ADS_1
"Memang susah ngomong sama es batu, hatinya pun membeku, tidak ber peri kemanusiaan sekali" ucap Alex kemudian mengikuti langkah Mahen.
Baru akan menuruni anak tangga. Langkah Mahen langsung terhenti karena dia melihat orang yang sangat dia kenali berjalan ke arahnya.
"Oke, aku melihat pertunjukan menarik saat ini" batin Alex.
"Kak Mahen" ucap Clarissa saat melihat Mahen di depannya.
"Hmmm" ucap Mahen sambil menatap lurus ke arah Clarissa. Tentunya dengan wajah platnya.
"Apa maksud kakak tempel foto kita berdua di Mading sekolah?" Tanya Clarissa. Kali ini nada bicaranya sedikit kesal. Namun dia tetap menaruh hormat pada Mahen.
"Aku tidak pernah menempel foto itu" ucap Mahen dengan mata yang tidak terlepas sama sekali memandang Clarissa.
"Berarti kakak sudah lihat. Kenapa kakak tidak mencabutnya pas kakak lihat?" tanya Clarissa lagi yang membuat mahen mengangkat satu alisnya.
"Apa kamu sudah mencabutnya?" Tanya Mahen kembali. Otomatis Clarissa langsung menggeleng.
Mahen tersenyum kemudian mendekati Clarissa.
"Lalu kita sama, masalahnya dimana lagi?" Tanya Mahen sambil mendekatkan wajahnya pada Clarissa. Hal ini sontak membuat jantung Clarissa kembali berdetak tidak karuan.
Dia terdiam sesaat, kemudian pergi meninggalkan Mahen begitu saja.
"Ishh menyebalkan sekali" ucap Clarissa sambil menghentak-hentakan kakinya di tangga. Dan itu tidak luput dari penglihatan Mahen.
Mahen pun tersenyum sambil memandangi punggung Clarissa yang menjauh.
-Bersambung-
__ADS_1