Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Makan Malam


__ADS_3

Hari ini Mahen berencana untuk ke rumah Clarissa. Dia sudah mengatakannya pada Papa Alexander dan Mama Sarwenda bahwa mereka akan mengadakan makan malam keluarga.


Mahen sudah siap dengan kemeja putih dan jas krem. Dia sedikit merapikan rambutnya sehingga membuatnya terlihat begitu sangat tampan.


"Kau sudah siap?" Tanya Mama Sarwenda.


Mahen membalas dengan anggukan.


"Apa kau yakin dengan ini?" Tanya Papanya.


Lagi-lagi Mahen membalas dengan anggukan.


"Kalau begitu ayok" ucap Papa dan Mamanya.


Mahalini pun ikut dalam acara keluarga ini.


Dia mengenakan gaun putih dengan rambut terurai. Sehingga membuatnya tampilan sangat cantik.


Disisi lain, Clarissa saat ini tengah bersiap. Dia menggunakan gaun krem pink dengan rumbai ditangannya. Dia menguncir rambutnya ke belakang, dengan menyisihkan beberapa helai, hingga membuatnya begitu sangat cantik.



Kirana yang saat itu sudah selesai berdandan. Langsung menuju kamar anaknya. Dia ingin melihat apakah Clarissa sudah siap atau tidak.


Namun baru saja dia sampai di depan pintu kamar Clarissa langsung terbuka. Clarissa yang sudah siap terlihat keluar dengan begitu anggun.


"Kamu cantik sekali Ca" ucap Mama Kirana.


Clarissa hanya tersenyum kemudian mengatakan terima kasih.


"Oya, mereka sudah sampai mana" Tanya Kirana.


"Tadi kata kak Mahen sudah jalan Ma. Mungkin 10 menitan lagi sampai" ucap Clarissa.


Kirana hanya mengangguk kemudian mengajak Clarissa turun.


Bibi terlihat sedang menaruh piring di meja makan. Sedangkan Syam terlihat sedang mengobrol serius dengan Leon.


"Apa kau yakin dengan yang kau katakan?" Tanya Syam pada Leon.


"Sangat yakin tuan. Dari rekaman CCTV, terakhir kali dia terlihat mengintai beberapa meter dari depan rumah" ucap Leon.


"Kalau begitu perketat penjagaan disini dan cari dia. Aku tidak mau ada kesalahan. Kalau bisa kita bunuh dia" ucap Syam.


"Siap tuan" ucap Leon.


Setelah melihat kehadiran anak dan istrinya. Syam langsung meminta Leon untuk pergi.


"Pa" ucap Clarissa dengan senyum di wajahnya.


"Anak papa cantik banget" ucap Leon.


"Anak siapa dulu dong. Anaknya papa dan mama harus cantik dong" ucap Clarissa.


Syam mengangguk. Dia tersenyum namun pikirannya entah pergi kemana.


Hingga suara bel rumah berbunyi.


"Itu pasti kak Mahen" ucap Clarissa.

__ADS_1


"Bik tolong bukakan pintu" ucap Kirana.


Setelah beberapa saat, Mahen dan orang tuanya datang.


"Selamat datang di rumah kami" ucap Papa Syam menyambut kedatangan mereka.


"Terima kasih. Maaf kami hanya membawakan ini. Semoga suka ya" ucap Sarwenda sambil memberikan bingkisan pada Kirana.


"Wah, ada kue Bolu. Ini kesukaan Clarissa banget. Terima kasih ya Wen" ucap Kirana.


"Iya sama-sama Na" ucap Kirana.


"Iya udah. Ayo kita makan dulu" ucap Mama Kirana mengajak mereka semua.


Mahen menarik tangan Clarissa dan membiarkan kedua orang tuanya berjalan lebih dulu.


"Kamu cantik banget Ca" bisik Mahen yang membuat bulu kudung Clarissa langsung berdiri.


"Makasi loh kak. Tapi udah tahu dari dulu. Haha" ucap Clarissa.


"Kak Caca Cantik banget loh" ucap Mahalini yang entah datang darimana.


"Ya ampun lini. Kapan kamu datang?" tanya Clarissa.


"Kemarin kak. Ya tadi lah. Kakak Caca ini terlalu fokus sama kak Mahen sampai lupa sama aku" ucap Mahalini kesal.


"Tidak sayang. Tapi kakak bener-bener Nggak lihat. Kamu cantik banget sih. Kaka gemes banget lihatnya" ucap Kirana sambil mencubit pipi Mahalini gemas.


Mahalini hanya tersenyum kemudian mengatakan terima kasih.


Dia melupakan kekesalannya. Dia malah tersenyum malu sekarang.


"Idih, centil banget sih kamu ini. Ayo cepat mama papa nungguin kita pasti" ucap Mahen.


"Dihh ganggu saja" ucap Mahalini kemudian berjalan mendahului mereka.


Saat di meja makan


Clarissa tampak membantu mengambil makanan untuk Mahen. Sedangkan Kirana membantu mengambilkan makanan untuk Syam dan Sarwenda membantu mengambilkan makanan untuk suaminya.


Mahen tampak tersenyum melihat Clarissa yang saat ini tengah menaruh beberapa makanan di piringnya.


Begitupun dengan kedua orang tuanya.


"Rupanya anak kita sudah bener-bener siap menikah ini" ucap Sarwenda.


Mendengar hal itu, Clarissa hanya tersenyum kemudian menyerahkan piring yang sudah berisi beberapa makanan pada Mahen.


"Terima kasih sayang" ucap Mahen.


"Astaga. Ada anak di bawah umur ini" ucap Mahalini sambil menutup telinganya.


Yang lainnya hanya tertawa mendengar respon Mahalini.


Clarissa menawarkan mengambilkan makanan untuk Mahalini, namun dia menolak.


"Nggak apa-apa Kak. Mahalini saja. Aku nggak kayak kak Mahen yang pemalas" ucap Mahalini.


"Bilang saja iri" ucap Mahen kembali.

__ADS_1


"Ihh, ngapain iri sama pemalas" ucap Mahalini kembali. Syam dan Kirana langsung tertawa. Rasanya Meja makan mereka hidup karena jarang sekali mereka bisa merasakan hal-hal seperti ini.


Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Sehingga jarang sekali bisa makan bersama.


Setelah makan malam, mereka kembali ke ruang tamu.


Mereka semua terlihat berkumpul disana. Tertawa sesekali melihat tingkah Mahalini yang begitu menggemaskan.


Hingga tibalah acara inti. Kirana dan Sarwenda mengajak Mahalini untuk pergi sebentar.


Sisa Mahen, papa Alexander, Syam dan Clarissa disana.


Mereka tampak terdiam beberapa saat. Hingga papa Syam meminta mereka untuk berbicara.


"Jadi begini Om. Saya kesini berniat untuk menyampaikan keseriusan saya pada Clarissa. Saya ingin menikahi Clarissa. Namun mengingat Clarissa masih sekolah, jadi kami lamaran dulu sebagai pengikat. Jika om mengizinkan, kami sudah menentukan tanggal untuk lamaran" ucap Mahen yang terlihat begitu deg-degan sekarang.


"Hmm, Ini cukup berat untuk saya jawab. Mengingat usia Clarissa yang masih sangat muda. Clarissa juga sudah menyampaikan pada saya sebelumnya. Jadi untuk masalah ini, saya serahkan semuanya pada Clarissa. Mana yang terbaik menurut Clarissa saya akan dukung. Karena dia yang akan menjalaninya nanti. Yang terpenting kamu berjanji untuk tidak menyakiti anak saya kedepannya" ucap Syam.


"Saya berjanji om, untuk tidak menyakiti Clarissa dan akan berusaha untuk menjaganya" ucap Mahen mantap.


Clarissa hanya tersenyum melihat Mahen. Entah mengapa rasanya dia ingin menangis sekarang. Menangis haru melihat ketulusan Mahen padanya.


"Lalu kapan kalian akan melangsungkan lamaran?" Tanya Syam.


"Setelah ujian Om" ucap Mahen yang membuat Clarissa sedikit terkejut mendengarnya.


"Sebentar lagi dong" batin Clarissa.


"Apa tidak terlalu cepat?" Tanya Syam.


"Tidak om. Saya sudah memikirkan ini matang-matang. Mama dan papa juga sudah mengizinkan. Kalau om mengizinkan lalu tinggal saya eksekusi" ucap Mahen.


Syam terdiam sebentar. Dia melihat Clarissa. Clarissa hanya mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan persiapan tempat, tamu undangan dan lain-lain. Bukannya itu butuh waktu" ucap Syam.


Mahen mengangguk tanda setuju.


"Untuk itu, nanti saya yang urus Om" ucap Mahen lagi.


"Tidak bisa begitu Nak. Kamu kan sebentar lagi mau ujian. Kamu tidak mungkin melakukan 2 hal sekaligus. Kamu tidak akan fokus nantinya. Lamarannya kita adakan 1 bulan lagi. Nanti untuk persiapannya. Biar Aku dan Alexander yang urus. Kalian berdua fokus saja dengan sekolah kalian. Mengerti" ucap Syam.


"Aku setuju. Aku sudah mengatakan padanya Syam. Tapi anak kita bersikeras. Apalagi Mahen, bener-bener seperti orang kebelet kawin" ucap Alexander.


"Tidak beda jauh lah dengan dirimu" ucap Syam.


"Beda lah, aku tidak menikah muda ya" ucap Alexander lagi.


"Terserahlah. Jadi bagaimana?" Tanya Syam kembali.


Mahen melihat Clarissa. Clarissa juga bingung harus mengiyakan atau tidak.


"Baiklah Om, jika menurut Om itu yang terbaik" ucap Mahen kemudian.


Mereka pun akhirnya setuju untuk mengadakan acara lamaran 1 bulan lagi. Menurut Mahen itu terlalu lama. Karena dia tidak tahu kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kedepannya.


"Hmmm" batin Clarissa. Dia juga merasa sedih karena lamarannya diundur. Tapi perkataan papanya bener juga.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2