Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Calon menantu


__ADS_3

Mahalini dan Mahen langsung menatap Clarissa yang saat ini terlihat begitu penasaran. Mereka terdiam kemudian saling pandang satu sama lain.


Mereka seperti sedang berbicara satu sama lain dari tatapan mereka.


Mahen tersenyum ke arah Clarissa.


"Tentu saja kami saling kenal kak Caca. kak Mahen kan kakak nya lini" ucap Mahalini yang membuat Clarissa terdiam seketika.


Dia begitu syok mendengar apa yang baru saja dituturkan oleh Mahalini. Dia menatap Mahen tidak percaya.


"Ja-jadi sedari tadi aku mengobrol dengan adik dan mamanya kak Mahen" batin Clarissa sambil menetap mereka tidak percaya.


"Wah ca. Calon mertua di depan" bisik Nadin. Clarissa langsung menyenggol bahu temannya, kode agar dia diam.


Nadin hanya terkekeh dalam hati melihat ekspresi Clarissa saat ini.


Wajah yang begitu tegang dan tidak tahu harus apa.


Dia melihat Sarwenda. Dia terlihat ragu beberapa saat.


Sarwenda pun mengangguk dan tersenyum.


"Tante, maafin Clarissa karena tidak mengenali Tante" ucap Clarissa kemudian spontan mencium tangan Sarwenda.


Tangannya terlihat bergetar seketika. Entah kenapa sekarang dia diliputi rasa gugup.


"Hahaha" hal itu sontak membuat Nadin ketawa.


Semua orang menatap ke arah Nadin. Dia langsung menutup mulutnya dan meminta maaf.


"Iya-iya Maaf maaf. Kau lucu sekali Ca. Sudah hampir satu jam kita duduk disini dan kau baru mencium tangan Tante Sarwenda. Apa kau segugup itu?" ucap Nadin sambil menahan tawanya.

__ADS_1


Nadin langsung menerima tatapan mematikan oleh Clarissa hingga membuatnya diam seketika. Namun dia masih menahan tawanya sekarang. Menurutnya ini adalah kejadian ter awkward yang pernah dia lihat.


"Bagaimana bisa aku bertemu dengan orang tua kak mahen dengan cara seperti ini" batin Clarissa.


"Haha, santai saja sayang. Tante bukan tipe ibu-ibu yang jahat sama calon mantu kok" ucap Sarwenda sambil mengulum senyumnya. Dia juga seperti menahan tawa melihat expresi Clarissa sekarang.


"Calon mantu?" tanya Clarissa dengan wajah yang terlihat bingung, tapi jauh di dalam dirinya dia merasa begitu bahagia mendengar kata itu.


"Mama" protes Mahen yang langsung membuat ekspresi Clarissa berubah kembali.


"Apa?" ucap Sarwenda tidak mau kalah.


Memang, jiwa ibu-ibu nya mampu mengalahkan segalanya. Mahen langsung diam dan melihat ke arah Clarissa yang saat ini melihatnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Ohh ini toh, kak Caca yang sering kak Mahen ceritain ke lini itu" ucap Mahalini tiba-tiba. Mahen langsung membungkam mulut Mahalini dengan tangannya hingga membuat pemiliknya langsung berontak.


"Nanti kakak beliin es cream yang banyak ya. Jadi Diam" ucap Mahen penuh perintah.


Mahen tidak mau kalah. Dia kembali menawarkan hal lainnya untuk menyogok adik satu-satunya ini. Dia rela kehabisan uang tabungannya, dari pada harus menanggung malu karena rahasianya terbongkar.


"Oke, deal" ucap Mahalini.


"Emang apa itu lini?" tanya Clarissa.


"Rahasia dong. kalau kak Caca mau tahu. Besok pas nggak ada kak Mahen aku kasi tahu ya" ucap Mahalini sambil tersenyum nakal melihat ke arah kakaknya.


"Deekkkk" ucap Mahen.


"Iya-iya Canda" ucap Mahalini kemudian tertawa.


Clarissa yang melihat kedekatan Mahen dengan adiknya hanya bisa menatap iri.

__ADS_1


Dia anak tunggal, tidak punya kakak atau adik seperti Nadin dan Mahen. Sering sekali dia sering merasa kesepian di rumah karena tidak punya teman mengobrol atau bercengkrama seperti itu.


"Enak ya punya adik" batin Clarissa.


"Oya, mama lupa. Mama ada arisan hari ini" ucap Sarwenda sambil melihat jam tangannya.


"Padahal Mama masih ingin mengobrol dengan Clarissa" ucap Sarwenda dengan wajah sedih.


"Kapan-kapan kita ketemu lagi ya Tan" ucap Clarissa.


"wah, boleh banget tu. Nanti kabarin saja ya sayang" ucap Sarwenda kemudian mengajak Mahalini untuk pulang juga.


"Siap Tante" ucap Clarissa yang terlihat begitu bahagia dan bersemangat.


"Mama saja yang pulang. lini masih ingin disini" ucap Mahalini menolak ajakan mamanya.


"Ya sudah. Mama titip lini ya. Jaga adekmu Hen" ucap Sarwenda kemudian berpamitan pulang.


Dia sebenarnya berat hati untuk pergi. Karena ada banyak hal yang ingin dia tahu tentang wanita yang berhasil merebut hati anak laki-laki satu-satunya itu. Tapi dia juga tidak mau kena semprot teman-teman sosialitanya karena telat.


"Hati-hati Tante" ucap Clarissa.


"Dahh" ucap Sarwenda sambil melambaikan tangannya.


"akhirnya" batin Clarissa sambil memegang jantungnya saat Sarwenda sudah menjauh.


Sedari tadi jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bagaimana bisa dia bertemu calon mertua seperti ini. ehh calon mertua, sebentar. Tadi Mahen bahkan menolak jika dirinya adalah Menantu Mamanya.


"Hmm, jangan terlalu berharap Ca" batinnya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2