
Bryan terlihat sedang duduk sendiri sambil memetik gitar dipangkuannya, sedangkan Alex sedang sibuk menggoda Nadin yang saat ini sedang membawakan minuman kepada mereka.
Mahen sibuk menatap layar hpnya berharap ada notifikasi disana.
"Bisa diem nggak sih kak" ucap Nadin karena Alex terus mencoba menggodanya.
"Aku cuma berusaha membantumu agar air ini tidak tumpah mengenai karpet ini" ucap Alex sambil memegang gelas yang saat ini tengah dipegang juga oleh Nadin.
"Nggak mungkin jatuh kalau kakak juga nggak pegang gelas ini. Kakak mengganggu banget. Kalau bukan karena teman kak Nathan udah aku usir dari tadi" ucap Nadin kemudian melepas gelas itu dan pergi meninggalkan mereka.
Nathan hanya menggeleng melihat kelakuan temennya itu.
"Aku diam saja bukan berarti aku tidak kau memperlakukan adikku seperti itu ya" ucap Nathan sambil melihat Alex kesal.
"Sorry Bro. Kan cuma bercanda" ucap Alex.
Nathan memilih diam. Dia sungguh malas menceramahi temennya yang satu itu. Entah sejak kapan dia berubah menjadi sangat cerewet.
"Ngomong-ngomong bagaimana? apa Clarissa masih tidak mengangkat telpon mu?" Tanya Nathan pada Mahen yang masih sibuk dengan Hpnya.
__ADS_1
"Sekarang sudah tidak aktif" ucap Mahen dengan wajah lesu.
"Mungkin dia sudah tidur atau baterai hpnya habis" ucap Alex menimpali.
"Dia tidak pernah seperti ini. Beberapa hari ini aku merasa sikapnya begitu aneh. Tapi aku tidak tahu mengapa" ucap Mahen sambil mengingat-ngingat sikap Clarissa yang terlihat begitu ceria namun seperti menyimpan banyak hal.
"Mungkin perasaan mu saja. Menurutku dia biasa saja" ucap Alex.
Bryan hanya diam, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ya sudah, kalian kan juga besok bertemu. Sekarang minum dulu nih" ucap Nathan.
"Hmm, kenapa perasaanku nggak enak ya" ucap Mahen sambil memegang dadanya.
"Oya, aku mau nanyak sama kamu. Hubunganmu dengan Clarissa apa sih?" Tanya Nathan tiba-tiba.
Mahen terdiam sesaat, dia juga bingung apa hubungannya dengan Clarissa. Dikira pacaran tapi tidak pernah ada kata pacaran. Dikira tidak, tapi sudah seperti orang pacaran.
"Aku juga tidak tahu" ucap Mahen.
__ADS_1
"Pantes!" ucap Alex dan Nathan bersamaan.
"Aku udah mau nembak dia beberapa kali. Tapi tidak pernah Nemu waktu yang tepat" ucap Mahen dengan wajah menyesal.
"Kau mau nunggu waktu yang tepat seperti apa lagi? kalian selalu pulang bareng, saat jam istirahat juga bareng. Ada banyak waktu berdua Hen. Aku nggak habis pikir sama kamu" ucap Alex sambil menggeleng.
"Liat si kanebo kering kita, dia bahkan sudah rela melepaskan Clarissa buat kamu. Tapi kamu malah gantung anak orang. Nggak habis pikir" ucap Nathan menambahi sambil melihat Bryan yang masih tetap sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia mendengar percakapan mereka, tapi dia sungguh malas untuk menimpali.
"Aku nggak maksud buat gantungin Clarissa. Aku kan sudah bilang, aku udah mau nembak dia beberapa kali. Tapi disaat aku mau ngomong serius pasti ada aja hambatannya. Mulai dari Clarissa yang tiba-tiba sakit perut, dan sebagainya. Aku juga nggak ngerti!" ucap Mahen sambil menjambak rambutnya frustasi.
"Hati-hati saja Clarissa keduluan di ambil orang. Secara dia kan cantik dan famous banget di sekolah" ucap Nathan.
"Aku bakal pastikan cowok itu nggak hidup dengan tenang" ucap Mahen sambil memberikan tatapan mautnya pada Nathan.
"Haha, ya sudah cepat tembak. Atau kamu mau kami bantu?" Tawar Nathan.
"Nggak, ini hubunganku. Aku nggak mau ada orang yang campur tangan. Besok aku akan tembak dia sendiri. Aku pastikan itu" ucap Mahen sambil mengepalkan tangannya sebagai bentuk semangat yang membara.
"Oke, kami tunggu PJ nya. Kalau nggak, Clarissa buat aku ya" ucap Nathan sambil mengedipkan matanya sebelah.
__ADS_1
"Siap saja masuk rumah sakit kalau berani" ucap Mahen.
-Bersambung-