Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Jauhi Dia


__ADS_3

Mahen keluar dari toilet dengan wajah yang terlihat basah.


Namun hal itu tentu saja menambah ketampanan diwajahnya.


Hingga langkahnya terhenti ketika tidak sengaja melihat orang yang selalu menggangu pikirannya beberapa hari ini sedang berjalan ke arahnya.


Sepertinya Clarissa belum menyadari keberadaan Mahen yang sedang menatap ke arahnya.


Mahen menarik tangan Clarissa yang tentu saja membuat Clarissa langsung terkejut dibuatnya.


"Kak Ma hmmmmm" tangan Mahen langsung membungkam mulut Clarissa kemudian membawanya ke taman belakang yang tidak jauh dari toilet sebelumnya.


"Ke-kenapa kak?" Tanya Clarissa gugup saat Mahen memojokkannya di dinding.


Mahen hanya diam sambil menatap Clarissa di depannya.


"Kak? Nanti ada yang lihat?" ucap Clarissa sambil mencoba melepaskan dirinya dari jebakan tangan Mahen.


"Lalu?" tanya Mahen yang kemudian semakin memajukan wajahnya.


"Kak?" teriak Clarissa yang langsung saja membuat Mahen menutup mulut Clarissa.

__ADS_1


"Kau ini, nanti guru kesini" ucap Mahen.


"AW" runtuh Mahen saat Clarissa menggigit tangannya.


"Sakit? Siapa suruh? kak Mahen sih" ucap Clarissa tanpa rasa bersalah.


Mahen diam saja kemudian menatap Clarissa dengan tatapan yang tidak mampu diartikan.


"Ke-kenapa kak?" Tanya Clarissa.


"Aku boleh minta tolong?" Ucap Mahen.


"Tergantung" ucap Clarissa yang membuat Mahen langsung menaikkan alisnya.


"Tergantung minta tolong apa? kalau aku bisa, pasti aku bantu kak. Tapi emang seorang kak Mahen mau minta tolong apa sama adek kelasnya ini?" Tanya Clarissa dengan wajah yang menurun Mahen sangat lucu.


Mahen merasa tidak sanggup jika berduaan terus dengan Clarissa karena jantungnya selalu tidak bisa bersahabat jika berdekatan dengan Clarissa.


"Kau tidak boleh seperti ini pada laki-laki lain oke" ucap Mahen penuh penekanan. Hal ini tentu saja membuat Clarissa semakin bingung. Tapi dia memilih untuk tidak memperpanjang masalah ini. Dia takut jika nanti ada teman-temannya yang melihat.


Bisa-bisa dia akan dibully habis-habisan lagi oleh semua kakak kelas fans Mahen.

__ADS_1


"Jadi?" Tanya Clarissa.


"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Bryan. Jadi jangan terlalu dekat dengan dia" ucap Mahen. Clarissa mengernyit alisnya.


"Kenapa? Kak Bryan itu anak sahabat papa. Aku tidak mungkin menjauhinya. Lagi pula kenapa aku harus menjauhi kak Bryan? Dia tidak jahat" ucap Clarissa yang tentu saja membuat emosi Mahen terpancing lagi. Dia berusaha menahan agar tidak terlalu memperlihatkan perasaan cemburunya.


"Karena kamu milikku" batin Mahen namun dia berusaha keras untuk tidak mengucapkan itu. Dia tidak ingin terlihat posesif, karena dia tidak ingin Clarissa menjauhinya.


"Dia sering mainin perasaan wanita. Aku tidak mau kau juga dimainin" ucap Mahen.


"Aku sama kak Bryan hanya berteman. Aku tidak peduli dia suka mainin cewek atau apalah itu. Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi aku mau kembali ke kelas" ucap Clarissa kemudian menginjak kaki Mahen dan berlari meninggalkannya.


"Hey" teriak Mahen sambil memegang kakinya yang terasa begitu sakit.


"Dasar aneh" ucap Clarissa saat sudah menjauh dari Mahen.


Dia memegang dadanya yang terus berpacu sejak berdekatan dengan Mahen tadi. Ini pertama kalinya dia merasakan hal seperti ini.


"Kenapa jantungku seperti ini sekarang? Aneh sekali" batin Clarissa kemudian berjalan kembali memilih mengabaikannya.


Hingga dia teringat pada satu hal.

__ADS_1


"Astaga, aku lupa" ucap Clarissa kemudian berbalik lagi ke ruang guru. Karena guru tadi memintanya buku paket di ruang guru. Tapi karena Mahen dia menjadi lupa.


-bersambung-


__ADS_2