
Mahen dan Clarissa terlihat boncengan menjauh dari sekolah.
Dari kejauhan Bryan melihat itu semua. Dia mengepal tangannya dengan kuat. Terpancar kemarahan dimatanya.
Di sisi lain, Clarisa dan Mahen tengah berperang dengan pikiran mereka masing-masing.
Mahen menatap lurus ke depan, begitu pun dengan Clarissa yang sibuk menatap ke arah jalanan raya dimana banyak orang berlalu lalang disana.
Hingga di persimpangan jalan mereka melihat seorang nenek-nenek sedang diperlakukan dengan tidak baik oleh 3 laki-laki dewasa.
"Kak diam bentar" ucap Clarissa.
Mahen pun langsung menepi. Tanpa aba-aba Clarissa langsung turun dari motor dan mendekati mereka.
"Hey, hentikan" teriak Clarissa.
Clarissa sungguh tidak tega ketika melihat nenek tua renta disakiti seperti itu.
"Ca, apa yang kamu lakukan?" ucap Mahen mencoba menghentikan Clarissa.
"Aku tidak bisa melihat mereka melakukan itu kak. Kasian neneknya" ucap Clarissa.
"Tapi ini berbahaya ca" ucap Mahen.
"Memang kakak tega melihat nenek itu dipukuli seperti itu?" Tanya Clarissa balik.
"Tentu saja tidak. Aku hanya tidak mau kamu kenapa-kenapa. Kalau aku sih tidak apa-apa babak belur. Tapi kamu? aku tidak mau kamu kenapa-kenapa Ca" ucap Mahen.
"Kan kakak yang akan menjagaku" ucap Mahen.
"Mereka 3 orang loh Ca. kakak mungkin sanggup melawan 2 orang. Sisanya?" ucap Mahen.
"Tenang kak, nanti Clarissa bantu" ucap Clarissa sambil tersenyum dan menepuk bahu Mahen.
"Aduh, meleleh gw" batin Mahen.
"Hey bocah, ada apa?" teriak salah satu dari pria dewasa itu.
"Mari kita berdiskusi dulu kak" ucap Mahen.
"Om kenapa memukul nenek itu? Salah nenek itu apa?" Tanya Clarissa.
__ADS_1
"Anaknya tidak mau membayar hutangnya. Jadi dia yang harus membayar hutang anaknya" ucap salah satu dari pria dewasa itu.
"Kenapa nenek ini yang harus bayar. Kan yang berhutang anaknya. Sungguh tidak adil" ucap Clarissa.
Mahen yang ada di samping Clarissa hanya diam mendengarkan, sambil sesekali tersenyum melihat keberanian Clarissa.
"Tentu saja dia, karena anaknya saat ini menghilang tidak tahu kemana. Dan keluarganya hanya tersisa dia disini" ucap pria itu lagi.
"Owh begitu. Anak durhaka" ucap Clarissa.
"Siapa yang kau bilang anak durhaka?" ucap Pria itu.
"Tentu saja anak nenek tersebut" ucap Clarissa.
"Benar sekali" ucap ketiga pria itu sambil mengangguk.
"Om namanya siapa? dan darimana?" Tanya Clarissa yang langsung membuat Mahen mengeryit dahinya nya bingung.
"Dia mau kenalan atau bagaimana sih, ini panas banget astaga" batin Mahen.
"Tidak mungkin selera Clarissa seperti ini kan. Aku sungguh tidak rela" tambah Mahen lagi.
Ketiga pria tersebut menyebutkan nama masing-masing dan asalnya darimana serta nama perkumpulan mereka.
Hingga dia teringat sesuatu.
"Jadi kalian mengenal Syam Wijaya?" ucap Clarissa.
Ketiga tentu sangat bingung. Darimana gadis kecil ini tahu petinggi terbesar dari perkumpulan mereka.
Mereka saja tidak berani menyebut nama aslinya. Kenapa gadis ini sangat berani. Hingga salah satunya teringat sesuatu.
"Bos, jangan-jangan dia nona muda" bisiknya.
"Astaga, aku sampai tidak mengenalinya. Bagaimana ini?" tanya pria itu.
"Matilah kita. Apalagi jika sampai nona mengadu pekerjaan tambahan kita ini pada pimpinan besar. Bisa mati kita" ucap pria itu kembali.
Clarissa memberi kode pada mereka untuk merahasiakan identitas. Karena disana sedang ada Mahen.
"Pergilah dan lepaskan dia. Aku akan merahasiakan ini" kode Clarissa. Tentu saja dengan kode rahasia dari perkumpulan mereka.
__ADS_1
Beruntung Clarissa sudah mempelajari nya sejak dulu.
"Baik nona" kode mereka.
Mereka bertiga pun pergi. Hal ini tentu saja menimbulkan banyak tanda tanya untuk Mahen.
"Ca, kamu bilang apa ke mereka? bagaimana bisa?" Tanya Mahen masih tidak menyangka apa yang baru saja terjadi.
"Tidak tahu. Mereka mungkin sadar sendiri" ucap Clarissa.
Dia pun mendekati Nenek itu dan membantunya untuk membereskan barang dagangannya.
"Makasi ya cu" ucap Nenek itu.
"Iya nek. Nenek hati-hati ya nanti. Ini buat nenek. Clarissa pergi dulu ya nek" ucap Clarissa kemudian memberikan beberapa lembar uang untuk nenek tersebut.
"Te-terima kasih nakk. Alhamdulillah ya Allah SWT" ucap Nenek tersebut sambil sujud syukur.
"Aku semakin yakin kenapa aku tergila-gila sama kamu Ca" batin Mahen.
"Wow, jadi aku benar-benar tidak berguna disini" ucap Mahen sambil tersenyum pada Clarissa.
"Hehe, kakak di samping Clarissa saja udah sangat membantu" ucap Clarissa spontan.
Hal ini tentu saja membuat Mahen begitu terkejut. Seperti ada kupu-kupu menari diperutnya.
Menyadari perkataannya tadi Clarissa langsung menutup mulutnya. Wajah nya memerah menahan malu. Dia menutup wajahnya sendiri.
"Hey, tanggung jawab" ucap Mahen kemudian memegang tangan Clarissa lembut.
"Ta-tanggung jawab apa kak?" Tanya Clarissa gugup.
"Ini" ucap Mahen kemudian meletakkan tangan Clarissa di dadanya.
"Kamu membuat detak jantungku menjadi tidak normal" ucap Mahen sambil tersenyum lembut.
Clarissa bisa merasakan detak jantung Mahen yang terasa semakin cepat. Dia pun langsung menarik tangannya dari sana.
"Apaan sih kak. Ayo, nanti anak-anak lama menunggu" ucap Clarissa mengalihkan pembicaraan.
Mahen hanya tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Ayo" ucap Mahen.
-Bersambung-