
Clarissa menangis sesenggukan di kamarnya. Udah hampir 3 jam an dia menangis dan mengurung diri di kamar.
"Ca" beberapa kali Kirana mengetuk pintu namun tidak kunjung mendapat jawaban.
Hingga Kirana mengambil kunci serep untuk membuka pintu tersebut. Dia sangat khawatir jika terjadi hal buruk pada anaknya.
"Ca" ucap Kirana sangat melihat anaknya sedang duduk di balkon sambil melihat ke arah luar.
"Ma, Caca capek" ucap Clarissa dengan mata yang terlihat sudah sangat sembab.
Kirana mendekati Clarissa kemudian memeluk anaknya erat.
"Papa kenapa lagi sayang?" tanya Kirana.
Clarissa menceritakan semuanya bagaimana ayahnya yang memaksanya untuk berhenti ke basecamp.
"Sayang, mungkin maksud papa baik. Papa tidak ingin belajarmu terganggu nantinya" ucap Kirana.
"Ini tidak mengganggu belajar Caca sama sekali loh Ma. Anak-anak pasti sedih kalau Caca tidak kesana lagi" ucap Clarissa.
"Ya sudah, nanti mama coba bicarakan dengan papa ya. Sekarang kamu makan dulu" ucap Kirana. Clarissa tersenyum kemudian mengangguk.
"Makasi ya Ma" ucap Clarissa kemudian memeluk Kirana erat.
***
"Ca" panggil Mahen saat melihat Clarissa baru ingin berbelok ke arah kelasnya.
Bagaiman mendengar hantu, Clarissa langsung saja berlari. Dia masih merasa sangat malu akan kejadian kemarin.
Dia berlari secepat kilat, hingga baru beberapa detik dia sudah tidak terlihat di pandangan Mahen.
"Lah, dia kenapa?" Tanya Nathan yang saat ini berdiri di samping Mahen.
__ADS_1
Mahen hanya tersenyum tanpa berniat menjawab ucapan Nathan.
Dia mengerti kenapa Clarissa menghindarinya. untuk itulah dia memilih untuk diam. Dia akan menyelesaikannya nanti, sekarang bel sudah berbunyi, jadi dia memilih untuk pergi ke kelasnya.
Saat jam istirahat, The king langsung saja ke kantin. Tidak dipungkiri mereka selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan ekor mata semua siswi disana mengikuti langkah gerak mereka.
"Guys, ada geng the King, wah cuci mata nih" ucap salah satu siswi disana.
Sindi yang melihat kehadiran mereka, langsung saja mendekati meja Nathan.
"Nat, kenapa loh ninggalin gw sendiri kemarin? loh sengaja ya?" tanya Sindi dengan muka yang terlihat sedang menahan amarah.
"Lah, bukannya kak Sindi yang hilang. Bilangnya ke toilet, tapi berjam-jam nggak nongol. Ya aku pulang lah" ucap Nathan dengan ekspresi seperti sedang menahan diri untuk tertawa.
Ketiga temennya hanya diam menyimak tanpa berniat ikut campur.
Sindi melihat sekitar, ada banyak sekali pasang mata yang sedang melihatnya sekarang. Jika dia memberitahu kejadian kemarin, bisa-bisa dia yang malu.
Setelah kepergian Sindi, Alex mulai membuka suara.
"Kau apakan anak orang?" Tanya Alex.
"Hanya bermain-main" ucap Nathan.
-Flashback-
"Kamu mau makan apa Tan?" Tanya Sindi sambil memegang lengan Nathan.
Mereka menjadi pusat perhatian di mall tersebut. Pasalnya wajah Nathan yang menawan membuat beberapa wanita disana tidak henti-hentinya mengagumi Nathan.
Sindi merasa begitu bangga bisa berjalan dengan Nathan seperti ini. Menjadi pusat perhatian adalah apa yang dia suka. Dia pun mempererat gandengan tangannya.
"Aku mau makan mie setan" ucap Nathan yang sontak membuat Sindi begitu terkejut. Dia benar-benar tidak bisa makan makanan pedas. Tapi dia benar-benar tidak ingin mengecewakan Nathan.
__ADS_1
"Hmm, kau yakin?" Tanya Sindi yang terlihat sudah mulai pucat.
"Iya, ayo" ucap Nathan sambil memegang Sindi yang tentu saja membuat Sindi begitu bahagia.
Mereka pun langsung menuju restoran yang di maksud.
"Level paling tinggi ya Mas" ucap Nathan. Lagi-lagi Sindi tidak mampu berkata-kata dengan apa yang di dengarnya.
"Aku suka masakan pedas" ucap Nathan. Sindi yang ingin mendapatkan perhatian Nathan langsung saja memesan menu yang sama.
"Masa bodoh dengan nanti" ucap Sindi.
Mereka pun langsung mengambil tempat duduk. Tentu saja beberapa pasang memperhatikan mereka. Lebih tepatnya para wanita yang sedang mengagumi ketampanan Nathan.
Selang beberapa lama menunggu, makanan mereka pun sampai.
Suapan pertama Sindi sudah mulai keringat dingin. Suapan kedua, dia sudah mulai merasakan goncangan di perutnya. Dan pada suapan ketiga dia sudah tidak sanggup lagi.
"Aku ke kamar mandi dulu" ucap Sindi kemudian ke kamar mandi setengah berlari.
Nathan hanya diam sambil terus memakan pesanannya seperti biasa.
Di kamar mandi ternyata Sindi tengah mencuci mukanya sambil mencuci mulutnya yang terasa begitu kepedesan.
"Aku harap aku tidak sakit perut" ucap Sindi dengan wajah yang terlihat begitu mengkhawatirkan.
Belum beberapa detik dia berbicara, perutnya langsung bergejolak. Dia berlari ke toilet.
Disisi lain, Nathan tengah sibuk dengan hpnya. Sudah 5 menit Sindi tidak keluar. Dia pun memilih untuk pergi dari tempat itu.
"Emang enak" ucap Nathan.
-Bersambung-
__ADS_1