
Keesokan paginya, Clarissa masih kepikiran dengan ucapan Mahen tadi malam. Tapi apa boleh buat. Dia tidak mampu berkata-kata.
Bahkan sekarang dia malas untuk ke sekolah. Rasanya dia ingin baring saja di kamarnya. Tenaganya rasanya sudah habis hanya untuk memikirkan siapa wanita yang dimaksud Mahen.
Bahkan wanita itu berhasil membuat Mahen berkerja terlalu keras seperti itu.
"Dia pasti sangat beruntung" batin Clarissa.
"Tok Tok" suara ketukan pintu membuatnya langsung menutup badannya dengan selimut.
Seseorang terdengar masuk ke kamarnya.
"Astaga, Ca bangunn. Ini udah siang, kau tidak sekolah apa?" ucap Mama Kirana.
Clarissa tidak berkutik, dia masih pura-pura tidur di balik selimut.
Kirana mencoba menarik selimut yang dipakai Clarissa. Hingga membuat setengah badan Clarissa terlihat.
Dia berpura-pura menggeliat, kemudian berpindah posisi dan berpura-pura tidur lagi. Kirana hanya menggeleng melihat tingkah anak semata wayangnya ini.
"Ca, kalau kamu tidak bangun, mama siram pakai air satu bak" ucap Kirana.
Namun Clarissa tidak berkutik, dia malah mengambil bantal kemudian membenamkan wajahnya disana.
__ADS_1
Kirana menggeleng melihat Clarissa. Hingga dia menemukan semua ide.
"Ca, Mahen nunggu kamu di bawah itu" ucap Kirana yang membuat Clarissa langsung bangun dari tidurnya.
"Kak Mahen? Kak Mahen di bawah Ma? Kenapa Mama nggak bangunin Clarissa dari tadi" ucap Clarissa.
"Astaga anak ini. Itu kan apa mama bilang. Kau pasti akan langsung bangun. Mahen ada di rumahnya. Sekarang Mandi dan sekolah. Pak Toni nunggu di bawah itu" ucap Kirana kemudian berlalu meninggalkan Clarissa.
"Ma, kenapa Mama jahat banget. Kirain kak Mahen bener-bener disini" ucap Clarissa. Kantuknya bener-bener hilang seketika. Jadi dia langsung ke kamar mandi untuk mandi.
Lagipula bukan waktunya bermalas-malasan sekarang.
***
"Pagi banget Lu disini, tumben" ucap Alex pada Mahen. Karena beberapa hari ini Mahen jarang sekali kumpul dengan mereka.
Sering telat masuk sekolah, pas jam makan siang tidur. lalu pulang sekolah paling cepat.
"Syukur dong dia kumpul lagi sama kita. Kemarin itu dia sibuk banget. Kalah-kalah pak pejabat" ucap Nathan.
"Jadi bagaimana perusahaan? lancar nggak?" Tanya Bryan.
Mahen mengangguk.
__ADS_1
"Lancar-lancar. Ternyata nggak semudah yang aku pikir" ucap Mahen.
"Awalnya emang gitu, tapi lama-lama kamu akan biasa kok, percaya deh sama aku" ucap Bryan.
"Iya deh iya. Bisnisman termuda. Bijak banget sekarang" ucap Alex.
"Diam Lo" ucap Bryan sambil menatap Alex kesal.
"Iya, Aku salut banget sama kamu Bray. Kamu bisa mengurus perusahaan semuda ini. Bahkan sekolahmu lancar banget. Aku tahu sekarang, kenapa Papa Clarissa lebih milih lo" ucap Mahen dengan wajah sedih.
Yups, dia sudah tahu mengenai perjodohan Clarissa dengan Bryan. Dia tahu dari Bryan. Awalnya dia begitu sedih, marah bercampur kesal pada Bryan.
Namun, Bryan meyakinkannya bahwa dia tidak akan menerima perjodohan ini. Dia tidak ingin menikah dengan orang yang mencintai laki-laki lain. Walaupun sebenarnya dia juga memiliki perasaan yang sama.
Bryan pun berjanji untuk membantu Mahen mendapatkan restu dari Papa Clarissa. Satu-satunya cara yaitu dengan membuat Mahen menjalankan bisnis dan membuktikan bahwa dia orang yang tepat untuk Clarissa.
"Aku lebih iri sama kamu Hen. Kamu bisa dapetin hati Clarissa. Sedangkan aku, hanya dianggap teman olehnya" ucap Bryan sambil tersenyum miris.
"Udah-udah, apaan sih kalian ini. Sekarang kita pesan makanan dulu. Mahen yang traktir. Haha" ucap Nathan.
"Lah, mana ada" ucap Mahen.
"Nggak pakai nolak" ucap Nathan yang membuat Alex dan Bryan hanya menggeleng.
__ADS_1
-Bersambung-