Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Pantai


__ADS_3

Saat ini mereka sudah ada di mobil, mereka mau menuju ke sebuah tempat rekreasi.


"Kak ini serius nggak apa-apa? Bukannya kakak harus belajar ya. Minggu depan kan mau ujian" ucap Clarissa.


"Tenang saja Ca. Tanpa belajarpun aku bisa menjawab. Haha" ucap Mahen yang membuat Clarissa langsung melirik aneh.


"Idih, sombong banget" ucap Clarissa.


"Biar, sombong-sombong gini calon suami kamu loh" ucap Mahen.


"Belum kak Belum. Sebelum kakak datang melamar aku di depan mama dan papa, belum sah ya" ucap Clarissa.


"Haha, Iya sayangku" ucap Mahen.


Clarissa pun terdiam, dia memilih memandang jalanan yang dia lalui. Entahlah dia malah overthingking sekarang.


Apa dia siap menjadi istri, dan tentunya apakah dia akan siap menjadi ibu muda nantinya. Dia tahu mamanya dulu juga nikah muda, tapi entah mengapa membayangkannya dia takut.


"Kak" ucap Clarissa kemudian.


"Iya sayang" ucap Mahen.


"Kalau beneran nikah, sekolah aku nanti gimana? kan aku belum selesai kak. Baru kelas 2. Mau naik kelas 3" ucap Clarissa.


Mahen menepi sebentar. Dia tidak bisa berbicara serius sambil menyetir.


"Ca, kakak sudah memikirkan ini matang-matang. Nanti kakak tunggu kamu selesai sekolah baru kita menikah. Kita tunangan dulu sebagai pengikat agar kamu tidak nakal disini. kakak juga harus mulai belajar mengurus perusahaan sendiri di Amrik sambil kuliah. Kakak tentunya harus menyiapkan uang untuk pernikahan kita bukan? Jadi kamu tenang saja ya. Kamu fokus sekolah saja dulu ya" ucap Mahen sambil mengacak rambut Clarissa gemas.


"Tapi... aku mungkin bisa untuk tidak dekat dengan laki-laki manapun. Bagaimana dengan kakak disana? siapa yang tahu. Apalagi disana banyak cewek cantik. Atau apa boleh Clarissa ikut?" tanya Clarissa.


"Lalu sekolahmu?" Tanya Mahen kembali.


"Gampang, tinggal pindah" ucap Clarissa.


"Kau mau pindah berapa kali Ca? wkwk. Apa kata papa Syam nanti jika kau ingin pindah lagi" ucap Mahen.


"Iya juga sih. Hmmm" Clarissa tampak sedih karena tidak mendapatkan solusi terbaik.


"Kamu percaya kan sama kakak. Kakak nggak mungkin mengkhianati kamu Ca" ucap Mahen.


" We never know kak" ucap Clarissa kembali.


"Berarti kamu tidak percaya sama kakak" ucap Mahen kembali.


"Aku percaya kak, asalkan kak Mahen janji buat nggak ngelakuin itu" ucap Clarissa.


"Iya sayang, aku janji oke" ucap Mahen sambil menjulurkan jadi kelingkingnya


"Oke janji" kata Clarissa kemudian menautkan jari kelingkingnya pada Mahen.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju tempat rekreasi yang dimaksud. Lebih tepatnya ke sebuah pantai yang lumayan ramai pengunjung.


Mahen yang tidak menyukai keramaian menatap ragu pada kumpulan orang-orang di depannya.

__ADS_1


"Kau yakin Ca" tanya Mahen kembali.


"Aku sangat yakin kak, ayo. Udah lama aku nggak pernah kesini lagi" ucap Clarissa kemudian keluar dari mobil dan berlari ke arah pantai.


Dengan berat hati Mahen mengikuti Clarissa. Dia lebih memilih duduk di sebuah kursi bambu di pinggir pantai. Dia mengamati Clarissa yang saat ini terlihat begitu bahagia sambil memandangi desiran ombak di depannya.


Clarissa berbalik kemudian mendekati Mahen. Mahen tersenyum sambil berusaha merapikan rambut Clarissa yang terlihat acak-acakan karena hembusan angin.


"Kau terlihat bahagia sekali" ucap Mahen.


"Tentu saja, aku tidak pernah kesini dalam waktu lama. aku sangat merindukannya" ucap Clarissa.


"Jika itu membuatmu bahagia, aku juga akan bahagia" ucap Mahen.


Clarissa menatap Mahen dengan tatapan curiga.


"Kak Mahen kenapa? Tumben banget bisa gombal" ucap Clarissa.


"Itu bukan gombal, tapi tulus. Beda ya" ucap Mahen.


Clarissa hanya mengiyakan. Dia pun menaruh sepatunya di dekat Mahen.


"Kak Mahen nggak mau main air" tanya Clarissa.


Mahen menggeleng, Clarissa pun mengerti. Dia tidak ingin memaksa. Mahen mengajaknya kesini saja dia sudah sangat bahagia.


"Kak jagain ya, wkwk" ucap Clarissa.


"Iya" ucap Mahen.


Dia mencipratkan air tersebut ke udara sambil tersenyum yang membuat siapapun yang melihatnya menatap kagum pada keindahan makhluk ciptaan sang pencipta ini.


Begitu pun dengan Mahen yang tidak henti-hentinya menatap ke arah Clarissa.


"Aku akan merindukan senyummu Ca" ucap Mahen yang ikut tersenyum.


Hingga seorang laki-laki asing mendekati Clarissa yang membuat senyumnya hilang seketika.


Laki-laki itu berperawakan kekar dan sepertinya terlihat sudah dewasa, mungkin usia anak kuliahan.


"Hallo" ucap nya yang membuat Clarissa langsung berhenti dari kegiatannya.


"Eh, iya kak. Kenapa?" tanya Clarissa bingung.


"Perkenalkan, namaku elizer" ucap Elizer sambil mengulurkan tangannya. Clarissa yang merasa asing tidak berani untuk membalas uluran tangan tersebut. Dia tampak ragu, Mahen mendekatinya dengan tatapan yang bener-bener mematikan.


"Ahh Halo kak" ucap Clarissa. Hanya itu yang bisa dia katakan.


"Nama kamu siapa?" Tanya Elizer.


"Kenapa kamu peduli" ucap Mahen yang saat ini sudah berada tepat dibelakang Elizer.


Mahen menarik Clarissa agar mendekat ke arahnya. Kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Clarissa.

__ADS_1


"Aku hanya ingin berkenalan dengan nona Cantik ini" ucap Elizer tanpa mengalihkan pandangannya pada Clarissa.


"Dia sudah punya pacar. Jadi aku harap kamu jangan mengganggunya" ucap Mahen kembali.


Elizer tersenyum, Bukannya merasa bersalah karena mendekati Clarissa. Dia malah terlihat menantang Mahen.


"Baru pacaran saja sudah sombong" ucap Elizer.


Ini sontak membuat amarah Mahen langsung naik. Rasanya dia ingin menonjok mulut laki-laki di depannya.


"Kak udah jangan diladenin. Ayo kita pergi saja dari sini" ucap Clarissa.


"Hey mau pergi kemana. Kamu belum memberitahukan namamu" ucap Elizer lagi.


"Mohon maaf kak. Saya tidak memiliki nama" ucap Clarissa lagi.


"Kalau begitu, aku akan memberimu nama sayang. Bagaimana?" ucap Elizer sambil tersenyum genit.


"Bruk" satu pukulan berhasil mengenai pipi Elizer. Mahen yang sudah tidak mampu menahan emosinya karena sikap Elizer langsung saja memukulnya.


Clarissa tampak syok, dia langsung mundur beberapa langkah.


Elizer hendak membalas, namun Mahen berhasil menangkisnya.


Dia kembali memberikan pukulan pada Elizer hingga menarik perhatian masa untuk melihat.


"Awas lu ya" ucap Elizer kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Kak Mahen nggak apa-apa?" Tanya Clarissa sambil berusaha melihat pergelangan tangan Mahen.


"kalian nggak apa-apa kan? Tanya seseorang disana.


"Nggak apa-apa buk" ucap Clarissa.


"Kalian hati-hati dengan dia. Dia itu ketua geng yang suka bikin onar disini" ucap Ibu-ibu tersebut.


"Siap buk, terima kasih" ucap Clarissa kemudian.


Dia awalnya takut jika Mahen akan disalahkan karena memukul seseorang. Tapi yang ada dia malah dibela. Jadi Clarissa sangat bersyukur sekarang.


"Aku nggak apa-apa kok sayang. Lain kali jangan kesini lagi ya kalau nggak sama aku. Oke" ucap Mahen kemudian mencium kening Clarissa. Rasanya Mahen masih tidak rela jika laki-laki tersebut sudah menggoda Clarissa tadi.


Clarissa hanya membalas dengan anggukan. Mereka pun kembali ke mobil.


"Kita pulang saja ya" ucap Mahen kemudian menyalakan mobil.


Namun entah kenapa, perasaan Clarissa tidak enak sekarang. Dia merasa akan terjadi sesuatu, apalagi tadi laki-laki tersebut mengancam mereka.


"Kak kenapa perasaanku nggak enak sekarang" ucap Clarissa.


"Makanya kita pulang sekarang ya. Tenang saja. Tidak akan terjadi sesuatu kok" ucap Mahen kemudian keluar menjauh dari tempat tersebut.


Tapi tetap saja Clarissa merasa tidak tenang sekarang.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2