Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Flashback 1


__ADS_3

"Tante kita mau kemana?" Tanya Clarissa bingung, karena mereka berjalan terlalu jauh. Bahkan tempat yang dia lewati mulai tampak sepi.


Alex memegang tangan Clarissa.


"Ca, kamu kuat lari kan?" bisik Alex.


Clarissa hanya mengangguk.


"Oke, saat hitungan ke tiga, kita lari" bisik Alex lagi.


Lagi-lagi Clarissa mengangguk.


"Oke, 1, 2, 3" ucap Alex.


Saat hitungan ketiga mereka langsung berlari.


Namun baru beberapa langkah, seseorang berbadan besar menghadang mereka.


"Hey, mau kemana anak manis" ucap pria besar itu.


"Ka-kamu siapa?" Tanya Clarissa sambil melangkah mundur.


"Lari Ca" ucap Alex kemudian menarik Clarissa ke sisi lainnya.


Lagi-lagi seseorang bertubuh besar sudah ada di belakang mereka.


"Kak, bagaimana ini?" Tanya Clarissa yang terlihat mulai ketakutan.


"Clarissa takut" ucap Clarissa sambil mempererat pegangan tangannya pada Alex.


"Tenang Ca. Ada kakak" ucap Alex meyakinkan Clarissa.


"Pak polisi?" Ucap Alex.


Mereka bertiga sontak langsung melihat ke arah tersebut.


Clarissa dan Alex langsung berlari kabur.


"Akhirnya kita berhasil kak" teriak Clarissa yang saat ini berbicara sambil berlari.


"Sial, tangkap dia" ucap wanita tersebut.


Namun, "Bruk" mereka berdua menabrak seseorang yang tiba-tiba datang dan menghadang mereka.

__ADS_1


Mereka berdua terjatuh, Alex yang melihat siapa yang dia tabrak langsung tersenyum bahagia.


"Paman Andre" ucap nya kemudian memeluk pamannya.


"Hey, kalian ngapain disini?" ucap Andre.


Andre adalah paman satu-satunya Alex. Dia adalah saudara dari Alexander (papa Alex).


"Ada orang jahat Paman. Mereka ingin menculik kami" ucap Alex sambil menunjuk beberapa orang yang sedang berlari ke arahnya.


"Tenang saja Ca. Ini paman aku. Kita sudah aman sekarang" ucap Alex sambil tersenyum bahagia.


Wanita yang mengejarnya tadi, mendekati mereka kemudian tersenyum.


Melihat gelagat mereka yang tidak takut. Alex terlihat bingung.


"Bos, rupanya kau sendiri yang menangkap mereka" ucap wanita tersebut.


Andre tersenyum.


"Bawa mereka" ucapnya.


"Paman, apa maksudnya ini?" teriak Alex saat orang-orang besar tersebut mengangkat tubuh mereka.


Alex dan Clarissa terus memberontak. Alex terus memanggil pamannya. Namun pamannya tidak berkutik sama sekali. Dia bahkan tidak menengok sedikitpun.


"Diam kalian" ucap bodyguard tersebut.


"Bius saja mereka" ucap wanita satu-satunya disana.


Setelah menghirup obat bius, mereka langsung pingsan dan tidak sadarkan diri.


Disisi lain, Syam yang tengah meeting langsung menghentikan meetingnya karena mendapat kabar anaknya menghilang.


"Bagaimana bisa? Apa yang kalian lakukan huh?" Bentak Syam pada anak buahnya.


"Maafkan kami tuan" ucap bodyguard tersebut.


"Aku tidak mau tahu, sekarang cari anakku sampai ketemu" ucap Syam lagi.


"Leon, kerahkan semua koneksi kita. Aku mau Clarissa ditemukan secepatnya. Dan Bunuh orang yang berani bermain-main denganku" ucap Syam sambil mengepal tangannya keras.


"Siap tuan" ucap Leon.

__ADS_1


Alexander juga setelah mendengar berita penculikan anaknya. Langsung menelpon semua koneksinya.


"Hallo, periksa juga keberadaan Andre" ucap Alexander.


Kedua kubu keluarga mengerahkan semua pasukannya untuk mencari anak satu-satunya.


Sedangkan Sarwenda saat ini tengah menenangkan Kirana yang terus menangis.


"Anak kita pasti ketemu, mereka anak-anak yang kuat" ucap Sarwenda.


"Tapi tetap saja. Mereka masih terlalu kecil. Pasti Clarissa saat ini sangat ketakutan. Hiks" ucap Kirana.


"Mari kita berdoa saja. Semoga mereka baik-baik saja" ucap Sarwenda lagi.


Kirana hanya mengangguk.


***


Sudah hampir satu jam. Clarissa dan Alex masih terbaring karena pengaruh obat bius.


"Kita apakan anak ini tuan?" Tanya wanita yang sering disapa Jen.


"Bagaimana kalau kita lepas saja mereka ke kandang buaya" ucap Andre sambil tersenyum.


"Mereka terlalu berharga tuan untuk kita bunuh dengan cepat" ucap Jen.


"Plakk" satu tamparan berhasil mengenai pipi Jen.


"Tutup mulutmu. Mereka tidak berharga sama sekali. buaya peliharaan ku jauh lebih berharga. Aku tidak sabar melihat mereka dimakan oleh buaya tersebut" ucap Andre sambil tersenyum. Senyum yang membuat siapapun bergidik ngeri melihatnya.


Andre memang terkenal psikopat. Dia tidak segan-segan membunuh siapapun yang mengusiknya.


Bahkan tidak ada yang namanya keluarga. Dia tidak pandang bulu sama sekali. manusia yang tidak berhati, begitulah orang sering menyebutnya.


"Tapi tuan, dia masih sangat kecil. Kita bisa memperkerjakannya sebagai budak jika kau mau. Bukankah salah satu dari mereka adalah keponakanmu" ucap Jen sambil mengelus pipinya yang habis kena tamparan tersebut.


Dia sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Namun karena perasaan cintanya pada Andre yang membuatnya bertahan sampai sekarang.


"Dia bukan keponakanku lagi. Papanya adalah musuhku. Jadi aku sudah tidak memiliki hubungan darah dengannya" ucap Andre.


Jen tidak bisa berkata-kata. Dia hanya diam sambil memandang malang pada kedua anak di depannya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2