
"Ada apa pa?" Tanya Clarissa yang saat ini tengah duduk di ruangan Syam.
"Memangnya papa tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini. Tinggalkan basecamp anak jalanan itu" ucap Syam dengan tegas.
"Deg" seperti sebuah pukulan hebat mengenai dadanya. Dia begitu terkejut dengan ucapan papanya.
"Apa maksud papa?" Tanya Clarissa.
"Apa kurang jelas apa yang papa katakan?" ucap Syam dengan tangan masih fokus pada tab di tangannya.
"Aku tidak mau pa" ucap Clarissa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ya sudah, papa akan tutup basecamp itu secara paksa" ucap Syam.
"Hmmm" Clarissa menarik nafas nya pelan. Nafasnya terasa begitu sesak.
"Pa, kenapa papa melakukan ini?" Tanya Clarissa pada akhirnya.
Baru beberapa hari ini dia merasa begitu bahagia, dan sekarang dia harus mengalami hal yang tidak menyenangkan seperti ini. Dia tidak habis pikir dengan papa nya yang selalu bersikap seenaknya.
"Tidak semua hal harus kau tahu Ca. Turuti saja permintaan papa. Nanti kalau sudah waktunya kamu akan tahu sendiri jawabannya" ucap Syam.
"Tapi pa" ucap Clarissa.
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapi Ca, papa sudah cukup mengerti ya kamu tidak mau belajar bisnis. Sekarang papa tidak mau menerima bantahan lagi" ucap Syam.
Clarissa tidak mampu berkata-kata lagi. Dia memilih untuk pergi.
"Papa egois" teriak Clarissa saat sudah di mobil.
Dia tidak bisa membayangkan jika hari-hari akan membosankan lagi seperti sebelumnya karena tidak ada anak-anak itu yang akan menemani harinya. Entah sejak kapan, air matanya sekarang sudah mengalir dengan hebatnya.
Dia bahkan tidak memperdulikan kedua bodyguard papanya yang berada di mobil saat ini.
Hatinya terasa sesak sekali dan dia tidak tahu cara menghentikan tangisnya.
Sesampainya di rumah dia langsung turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
"Astaga nona" ucap para bodyguard itu sambil memegang dadanya.
"Ca" ucap Mahen yang saat ini tengah duduk di ruang tamu.
"Ka-kak, ngapain disini?" tanya Clarissa.
"Aku khawatir terjadi sesuatu padamu, untuk itulah aku kesini" ucap Mahen kemudian mendekati Clarissa.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Mahen yang terlihat begitu khawatir.
__ADS_1
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Kirana yang datang entah darimana.
"Mama" ucap Clarissa kemudian langsung berhambur dipelukan Kirana.
Dia menangis sejadi-jadinya disana. Dia bahkan lupa jika ada Mahen yang melihatnya saat ini.
"Hikss, Ma" ucap Clarissa di sela tangisnya. Kirana yang bingung penyebab anaknya menangis hanya bisa mengelus punggung anaknya berharap dia bisa lebih tenang.
"Tidak apa-apa menangislah" ucap Kirana.
Hingga Clarissa tersadar bahwa ada mata yang saat ini tengah memperhatikannya.
"Kak Mahen" ucap Clarissa pelan. Ada rasa penyesalan karena sudah menangis di depan Mahen.
"Mama kenapa tidak bilang jika kak Mahen masih disana" kata Clarissa kemudian berlari naik ke atas tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Astaga anak itu" ucap Kirana sambil melihat kearah Clarissa.
Berbeda dengan Mahen yang saat ini malah tersenyum melihat kekonyolan Clarissa.
"Maaf ya nak Mahen. Dia memang seperti itu. Tunggu sebentar ya, saya panggilkan lagi" ucap Kirana.
"Tidak usah Tante. Kirana seperti nya lagi ada masalah. Mahen pulang dulu ya. Maaf sudah merepotkan disini" ucap Mahen kemudian mencium tangan Kirana.
__ADS_1
"Iya. Hati-hati ya" ucap Kirana sambil mengangguk.
-Bersambung-