Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Pulang


__ADS_3

Mahen hanya diam melihat Clarissa yang saat ini sedang menyuapi Ica dengan penuh kasih sayang.


"Ca, sepertinya kamu sudah cocok menjadi ibu" ucap Nadin.


"Hey enak saja. Aku masih 17 tahun ya" ucap Clarissa.


"Banyak loh ca yang nikah muda di luar sana" ucap Nadin lagi.


"Nggak dulu Nad" ucap Clarissa sambil menggeleng. Dia benar-benar tidak pernah kepikiran untuk menikah muda. Ada-ada saja memang Nadin.


"Belum siap aku. Dan papa juga pasti nggak Bolehin" ucap Clarissa.


"Nggak boleh gimna? orang dia udah jod..." ucapannya terhenti saat menyadari bahwa ada orang lain di sekitar mereka saat ini.


Clarissa langsung melotot ke arah Nadin.


Nadin langsung terdiam seketika. Dia merutuki kecerobohan nya.


"Jod apa kak Nadin" tanya Mahalini yang sedari tadi menyimak ucapan orang-orang dewasa di depannya.


"Jodiak nya kak Caca sama kayak papanya" ucap Nadin asal.


Hal itu tentu saja membuat Mahen semakin yakin bahwa mereka berdua menyembunyikan sesuatu.


"Apa sih kak. Nggak nyambung banget kalimatnya" ucap Mahalini.


"Udah lupain saja dek. Dia emang suka rada-rada" ucap Clarissa sambil melihat Nadin dengan tatapan kesal. Nadin hanya membalas tatapan Clarissa penuh penyesalan.


"Maaf ya Ca" seperti itu yang ingin Nadin ucapkan.

__ADS_1


Berbeda dengan Mahen yang saat ini melihat mereka penuh intimidasi.


"Aku harap kamu jujur padaku Ca" Satu kalimat itu berhasil membuat Hati Clarissa langsung runtuh.


Clarissa hanya bisa mengangguk kemudian kembali fokus pada Ica untuk mengalihkan pandangan Mahen yang terus melihatnya saat ini.


"Kak, Ica udah kenyang. Oya kak, ini kan ada satu porsi yang Ica nggak pernah sentuh. Ica mau bawain mama boleh?" tanya Ica yang terlihat sedikit ragu.


Dia tiba-tiba mengingat mamanya yang saat ini sendiri di rumah. Dia yakin mamanya pasti belum makan.


"Tentu saja boleh sayang" ucap Clarissa kemudian memanggil pelayan dan meminta salah satu makan tersebut di bungkus. Dia juga memesan yang lain untuk di bungkus.


"Makasi kak caca" ucap Ica dengan mata yang terlihat begitu haru.


"Kembali sayang" ucap Clarissa sambil mencubit pipi Ica gemas.


Mahen terlihat bingung. Darimana Clarissa tahu jika Ica sudah sekolah. Pikirnya.


"Iya kak, Caca sudah sekolah. Ada orang baik yang membantu membayarkan sekolah Ica. Tapi Ica nggak bisa ketemu sama orang baik itu. Ica pengen banget ketemu buat bilang makasi" ucap Ica dengan penuh semangat.


Mahalini dan Nadin terlihat menetes kan air mata karena haru. Namun dia segera mengusap air matanya dengan cepat. Malu jika ditahu menangis.


"Ica kalau mau berterima kasih sama orang itu caranya harus rajin belajar ya. Biar jadi orang sukses. Kalau Ica jadi orang sukses pasti orang baik itu akan sangat bahagia" ucap Clarissa sambil mengelus kepala Ica.


"Siap kak Ica" ucap Ica sambil menaruh tangannya di kepala seperti sedang hormat bendera.


"Pinter banget sih" ucap Clarissa gemas.


Beberapa saat kemudian, waiters terlihat membawakan makanan pesanan Clarissa. Setelah itu mereka pergi dari cafe itu.

__ADS_1


"Nad, kamu pulang duluan ya. Nanti aku nyusul. Mau nganter Ica dulu. Bawa saja mobilku ya" ucap Clarissa.


"Siap" ucap Nadin kemudian mengambil kunci mobil tersebut.


"Hey, kakak pulang dulu ya. Jaga kak Caca. Jangan sampai di apa-apain sama kakak mu" ucap Nadin pada Mahalini.


"Tentu saja kak. Kalau kak Mahen nyakiti kak Caca aku yang akan maju paling pertama untuk menghukum kak Mahen" ucap Mahalini yang sontak membuat Nadin dan Clarissa tertawa.


Mahen diam saja, dia memilih masuk ke mobil.


"Ya sudah. Hati-hati ya Nad" ucap Clarissa. Nadin mengacungkan tangannya tanda setuju.


Mereka bertiga pun masuk ke mobil. Mereka memilih di jok belakang. Hingga membuat Mahen sendirian di depan.


"Hey, kalian pikir aku supir" ucap Mahen kesal.


"Kak Caca saja yang di depan. Aku mau kenalan sama Ica dulu. Dari tadi aku tidak punya giliran bicara sama Ica" ucap Mahalini.


"Haha. Maafkan Kakak sayang. Ya sudah. Silahkan tuan putri" ucap Clarissa kemudian memberikan ruang pada Mahalini dan duduk di depan.


Setelah itu yang terdengar hanya pembicaraan kedua bocah di belakang itu.


"Dia memang banyak omong. Maklum saja" ucap Mahen pada Clarissa yang saat ini tengah duduk di sampingnya.


"Iya, berbeda sekali dengan kak Mahen. Makanya aku sampai tidak menyangka kalian saudara" ucap Clarissa sambil melihat Mahen dengan senyum terindahnya.


"Jangan senyum seperti itu di depan laki-laki lain" ucap Mahen kemudian menatap lurus ke jalanan di depannya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2