
"Ayo naik" ucap Mahen pada Clarissa. Namun Clarissa terlihat diam saja tanpa berbicara sedikitpun.
"Aku pakai sepeda kak" ucap Clarissa.
"Kakak duluan aja deh" tambah Clarissa.
"Aku kesini menjemputmu untuk jalan bareng ca. ayo naik Ca. Tidak ada penolakan" ucap Mahen.
"Ishh, Ya sudah. Cerewet banget sih" ucap Clarissa kemudian menurut.
Entah mengapa dia begitu penurut pada mahen. Pada papanya saja dia mati-matian berdebat masalah sepeda atau mobil untuk ke sekolahnya.
Clarissa pun naik di atas motor Mahen. Mahen meminta Clarissa untuk berpegangan namun dia menolak.
"Pegangan Ca, kalau tidak nanti kamu jatuh. Aku sudah berjanji untuk menjagamu tadi. Cepat" ucap Mahen.
"Tidak mau kak. Ayo cepat jalan" ucap Clarissa. Mahen kali ini tidak mau berdebat lama dengan Clarissa. Dia memilih untuk melajukan motornya.
"Kita sarapan dulu" ucap Mahen. Namun samar-samar sehingga tidak didengar jelas oleh Clarissa. Clarissa hanya mengangguk dari balik spion sambil sibuk memegang tas Mahen karena takut jatuh.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah warung kesukaan Mahen.
"Lah, ngapain disini kak?" Tanya Clarissa.
__ADS_1
"Sarapan dulu. Kamu tadi nggak sarapan" ucap Mahen sambil membantu Clarissa turun dari motornya.
"Nggak deh kak. Kakak saja" ucap Clarissa karena memang sedang tidak nafsu makan. Lebih tepatnya tidak nafsu karena takut ada siswi yang melihatnya bersama Mahen saat ini.
Dia benar-benar tidak ingin adanya fitnah ataupun gosip aneh tentangnya lagi.
"Bentar saja. Aku tidak mau merasa bersalah jika nanti kamu kenapa-kenapa di sekolah karena tidak sarapan" ucap Mahen sambil menatap Clarissa penuh penekanan.
"Lebay. Ya udah ayo. Bentar tapi ya" ucap Clarissa.
"Iya bawel" ucap Mahen kemudian mengacak rambut Clarissa yang tentu saja membuat yang punya berdumel kesal.
Mahen menyapa pemilik warung dengan begitu ramah.
"Iya ini buk. Tadi habis jemput dia dulu. Takut kesiangan" ucap Mahen sambil menunjuk Clarissa.
"Wah wah. Ini siapa, pacarnya nak mahen ya?" Tanya Ibu Roh.
Clarissa dengan cepat langsung menggeleng. Berbeda dengan mahen yang terlihat diam dan begitu santai.
"Doain aja ya buk" Bisik mahen pada buk Roh yang tentu saja meninggalkan senyuman di wajah ibu pemilik warung langganan Mahen itu.
"Mau makan apa nak?" Tanya Ibu Roh pada Clarissa.
__ADS_1
"Samain saja sama kak Mahen buk" ucap Clarissa.
"Wah ternyata selera nya sama. Jangan-jangan jodoh ni" ucap Ibu Roh.
"Ishh, apaan sih ibu. Kak Mahen cuma Kakak kelas Clarissa kok" ucap Clarissa.
Ibu Roh hanya diam saja kemudian tersenyum. Dia mulai sibuk membuatkan pesanan keduanya.
"Kamu suka sambal hati juga?" Tanya Mahen pada Clarissa yang saat ini tengah menatap kelincahan ibu Roh mengambil beberapa lauk disana.
"Iya, kenapa kak?" Tanya Clarissa kemudian berbalik menatap Mahen.
"Nggak ada sih. kamu suka hati tapi seringnya nggak punya hati ya. Nggak pekaan banget orangnya" celetuk Mahen.
"Ishh mana ada. Kak Mahen nggak boleh menilai orang terlalu cepat. Siapa bilang Clarissa nggak peka coba? ada buktinya?" Tanya Clarissa tanpa mengalihkan tatapannya dari Mahen.
"Sekarang kakak balik nanyak. Kamu tahu kakak alasan kakak telpon dan jemput kamu? kakak nggak pernah lakuin ini ke perempuan lain sebelumnya loh" ucap Mahen sambil menatap Clarissa tidak mau kalah. Kapan lagi dia bisa sedekat ini dengan Clarissa.
"Hmm, Nggak tahu. emang kenapa?" Tanya Clarissa balik.
"Karena.... Hmmmm... lupain aja deh. Ayo makan dulu" ucap Mahen karena saat itu pesanan mereka sudah datang.
Clarissa diam saja dan menurut. Walaupun di kepalanya masih terngiang ucapan mahen barusan.
__ADS_1
-Bersambung-