
"Apa aku tidak salah ini?" Tanya Mahen.
"Benar tuan. Guru baru di sekolah nona adalah anak dari Andre" ucap Leonardo.
"Kalau begitu Clarissa dalam bahaya. Apa kau tahu dia dimana sekarang" Tanya Mahen.
"Kemungkinan besar nona sedang di sekolah karena ada pembagian raport" ucap Leonardo kembali.
"Astaga aku lupa. Dia hari ini ada pembagian raport" batin Mahen.
Dia pun langsung meminta untuk Leonardo pergi. Setelah itu di mencoba menghubungi Clarissa.
Drrttt drrrttt Drrttt
Panggilan tidak kunjung diangkat.
Mahen bener-bener mulai khawatir.
Dia mencoba menelpon Clarissa lagi. Namun tidak kunjung diangkat. Hingga dia memilih menelpon Nadin.
"Hallo kak" ucap Nadin saat panggilan sudah tersambung.
"Clarissa mana?" ucap Mahen to the point.
"Clarissa? ini dia lagi bersama Nadin kak" ucap Nadin kemudian.
Mahen langsung bisa bernafas lega.
"Berikan hp mu ke dia" ucap Mahen.
Nadin pun langsung memberikannya pada Clarissa.
"Hallo" ucap Clarissa.
__ADS_1
"Kemana saja? kakak telpon nggak diangkat-angkat" ucap Mahen sambil menarik nafasnya pelan berusaha untuk mengontrol emosinya.
"Eh, hp Clarissa lagi di charger kak. Maaf. Tadi habis ambil raport Clarissa langsung ke rumah Nadin. Tumben banget kak Mahen nelpon jam segini" ucap Clarissa karena biasanya Mahen menghubunginya saat malam hari.
"Syukurlah. Diam-diam disana. Kalau kemana-mana kasi tahu kakak ya" ucap Mahen.
Clarissa merasa sedikit aneh dengan sikap Mahen. Namun dia tidak ingin mengambil pusing.
"Siap kak" ucap Clarissa. Setelah berbicara beberapa lama, panggilan pun terputus.
Nadin melihat ke arah Clarissa.
"Kenapa Ca?" Tanya Nadin penasaran.
"Nggak tahu itu kak Mahen. Katanya harus melapor kalau kemana-mana" ucap Clarissa.
"Ciee ciee. Yang udah punya tunangan mah bebas" ucap Nadin.
Tapi dia berusaha berpositif thinking. Dia tidak ingin membebani pikirannya. Lagi pula dia bisa bela diri.
Hanya itu yang menjadi penguatnya sekarang.
***
Hari ini adalah hari pertama dia libur semester. Rasanya dia ingin berlibur ke Amrik untuk menyusul Mahen. Tapi papanya tidak mengizinkan.
Jadi dia pun harus menghabiskan waktu di rumah dengan menonton drama kesayangannya.
Drama yang selalu dia ulang-ulang sejak menonton pertama kali.
"Ca, nggak bosen apa nonton itu terus?" Tanya Kirana.
"Nggak Ma" ucap Clarissa seadanya. Karena saat ini dia fokus menonton.
__ADS_1
"Ca, boleh minta tolong nggak? beliin mama rujak di depan komplek dong" ucap Kirana sambil mendekati Clarissa.
Clarissa langsung mengiyakan. Dia pun mengambil sepedanya. Karena memang sangat dekat. Tapi berjalan kaki lumayan akan menyita banyak waktu jadi dia memilih menggunakan sepeda.
Dia menyusuri kompleks itu sambil melihat ke sekeliling. Entah kenapa bayangan dulu saat dia disana bersama Mahen terlintas di kepalanya.
"Kenapa aku jadi kangen kak Mahen ya" batin Clarissa.
Namun dia tidak mampu berbuat apa. Walaupun dia rindu tapi dia yakin masih bisa menahannya.
Hingga dia melihat pedagang rujak yang sedang dia cari.
"Mas rujak mas" ucap Clarissa sambil mengayuh sepedanya.
Namun sepertinya pedagang itu tidak mendengarnya, Hingga dia pun harus mempercepat laju sepedanya.
"Heyy, pak rujaaakkk" teriak Clarissa sekencang-kencangnya hingga membuat pedagang tersebut pun akhirnya berhenti.
Clarissa pun tersenyum. Dia pun langsung mengerem sepedanya.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya.
"Heyy, awas awas" teriak Clarissa. Namun mobil itu memilih diam dan berhenti tepat di depannya.
Beruntungnya dia pada posisi sedang mengerem sepedanya. Jadi dia pun bisa melewati tabrakan tersebut.
"Astaga" ucap Clarissa sambil mengelus dadanya.
"Hey, bisa pakai mobil nggak sih. Ini jalan, diam sembarangan" teriak Clarissa marah.
Pintu mobil pun terbuka. Seseorang muncul disana.
-Bersambung-
__ADS_1