Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Mobil


__ADS_3

Saat di dalam mobil, Clarissa tidak henti-hentinya melihat ke arah Mahen. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang.


"Jangan menatapku sepeti itu" ucap Mahen dengan tatapan masih tetap lurus kedepan. Entahlah darimana dia tahu jika saat ini dia sedang tidak ditatap oleh Clarissa padahal dia sedang fokus melihat ke arah jalan.


"Aku masih speechless kak" ucap Clarissa tanpa memutuskan pandangan matanya.


"Kenapa?" Tanya Mahen.


"Kakak bisa nyanyi sejak kapan? kok aku nggak tahu" ucap Clarissa.


"Aku tidak suka menyanyi. Aku hanya menyanyi kalau terpaksa" ucap Mahen.


"Owh, jadi tadi terpaksa ya?" ucap Clarissa yang sekarang malah langsung menghadap ke arah lain.


Mahen langsung menarik tangan Clarissa kemudian menciumnya dengan mata masih memandang lurus ke depan.


"Iya sayang, aku terpaksa karena mereka yang menyuruhku. Aku ingin suaraku yang bagus ini hanya didengar oleh orang yang aku sayang" ucap Mahen sambil menatap Clarissa sekilas kemudian memandang lurus ke depan lagi.


"Kakak sayang aku nggak?" Tanya Clarissa.


"Pertanyaan apa ini" batin Mahen.


"Menurut kamu?" Tanya Mahen.


"Kalau kakak sayang, ayo nyanyiin caca lagi. Aku mau denger suara kakak lagi" ucap Clarissa.


"Hmmm, jangan dulu ya" ucap Mahen.


"Hmm, katanya sayang" ucap Clarissa sambil menyilangkan tangannya dan memandang jalanan dengan kesal.


"Suaraku bagus kalau sedang terpaksa saja sayang" ucap Mahen lagi.


"Alasan" ucap Clarissa.


Mahen diam sesaat. Dia sangat malas sekali bernyanyi.


Lama mereka diam tanpa suara.


Clarissa pun tidak ingin memulai pembicaraan. Dia memilih mengabaikan Mahen.


Bukan karena kesal atau marah. Tapi karena saat ini dia teringat kembali bahwa mungkin akan ada beberapa hari tersisa untuk bisa seperti dengan Mahen lagi.


Mahen yang merasa diabaikan pun langsung mencoba mencari topik pembicaraan.


"Ca" panggil Mahen.


"Hmm" ucap Clarissa.


"Kamu marah karena aku tidak menuruti keinginanmu?" ucap Mahen.


"Nggak kak" ucap Clarissa sambil menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Mahen.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hari aku jika tanpa kakak" ucap Clarissa berusaha menahan sesak dihatinya.


Mahen pun langsung memutar stir dan berhenti di pinggir jalan.


Dia melihat Clarissa yang saat ini sedang menatap matanya sambil bersandar di kursi.


"Kenapa kamu berkata begitu? Jangan bilang kamu akan pergi lagi?" Tanya Mahen.


Clarissa menggeleng.


"Kak Mahen yang akan pergi ninggalin aku" ucap Clarissa sambil menghapus air mata yang mengalir dari sela matanya.


"Emang kakak pernah bilang gitu?" Tanya Mahen.


"Bukannya kata Mama Sarwenda kakak akan kuliah di Amrik" ucap Clarissa.


"Mama, bener2" batin Mahen menyesali perbuatan mamanya.


"Ca, lihat kakak" ucap Mahen.


Clarissa langsung menggeleng. Matanya tetap tertutup seperti biasanya. Dia malah membalikkan wajahnya agar tidak melihat ke arah Mahen.


"Ca, lihat kakak. Masak ngomong sama orang kayak gitu" ucap Mahen sambil menggenggam tangan Clarissa.


"Nggak mau. Aku malu, aku sangat cengeng" ucap Clarissa.


"Itu kan?" ucap Clarissa dengan air mata yang bener-bener tumpah dan mata yang sudah mulai memerah.


"Hey, kenapa menangis. Dari tadi kamu menahan ini?" ucap Mahen. Dia pun langsung menarik Clarissa ke dalam pelukannya.


Semua air mata yang Clarissa tahan, tumpah seketika, dia menangis ke dalam pelukan Mahen.


"Hiks, hiks" Clarissa terus menangis.


"Keluarkan, agar kamu tenang" ucap Mahen sambil mengelus punggung Clarissa.


"Kakak tisyu?" ucap Clarissa.


"Ini" ucap Mahen sambil menyerahkan setumpuk Tisyu pada Clarissa.


Clarissa langsung mengelap air mata dan ingusnya.


Mahen hanya melihat dalam diam.


Sebenarnya dia juga tidak ingin meninggalkan Clarissa. Tapi dia harus punya masa depan. Demi Clarissa juga.


"Udah tenangan?" tanya Mahen.


Clarissa hanya mengangguk.

__ADS_1


"Oke denger kakak?" ucap Mahen.


"Maafin kakak, karena tidak bercerita sebelumnya. Kakak ingin menceritakanmu pada waktu yang tepat, tapi ternyata kamu tahu lebih dahulu. Kakak harus ke Amrik Ca, kakak harus mengurus bisnis papa disana karena ada masalah disana. Jadi kakak tidak sepenuhnya akan kuliah disana. Kuliah hanya sebagai alibi dan sambilan kakak saja. Kakak satu-satunya anak laki-laki papa yang akan meneruskan perusahaan papa. Jadi kakak harus kesana. Sebenarnya berat untuk pergi. Berat banget malah. Kakak bener-bener tidak bisa meninggalkanmu. Jadi aku harap kamu mengerti diposisi kakak ya. Tolong support kakak" ucap Mahen dengan mata seperti menahan air mata.


Clarissa mengangguk,


"Caca mengerti kak, kakak boleh pergi. aku hanya sedih bahwa hari ini dan beberapa hari ke depan akan menjadi hari terakhir sebelum tidak melihat kakak dalam waktu lama. Kau pasti akan sangat merindukan kakak. Apapun yang kakak lakukan, selama itu tidak mengkhianati Clarissa. Clarissa akan sangat mendukung" ucap Clarissa.


Mahen tersenyum. Air matanya tiba-tiba mengalir dengan sendirinya.


"Kakak pasti akan sempatkan pulang Ca. Jadi jangan sedih ya. Kamu menangis seperti ini membuat kakak bener-bener sakit" ucap Mahen sambil menghapus air mata Clarissa yang masih tersisa dipipinya.


"Kakak janji ya, bakal sering-sering menghubungi Clarissa. Jangan menghilang apalagi Deket sama cewek lain disana" ucap Clarissa.


"Mana berani. Bisa remuk tulang kakak kamu tendang. Secara berurusan sama pelatih pencak silat dengan tingkat tertinggi " ucap Mahen sambil tersenyum.


Clarissa langsung mencubit perut Mahen karena kesal.


"AW, itu kan, baru dicubit saja rasanya sakit sekali" ucap Mahen sambil memegang perutnya dan berakting kesakitan.


"Emang beneran sakit ya kak?" ucap Clarissa kemudian melihat ke arah tempat dia mencubit perut Mahen tadi.


"Kakak bercanda sayang" ucap Clarissa sambil memegang tangan Clarissa yang ingin menyentuh perutnya.


"Jangan disentuh dulu. Nanti kakak khilaf" ucap Mahen.


"Maksudnya?" Tanya Clarissa


"Nggak ada sayang" ucap Mahen kemudian mengacak rambut Clarissa gemas.


"Ishh nyebelin, Iya, aku akan pastikan kakak dan selingkuhan kakak tidak akan hidup dengan tenang jika sampai itu terjadi. Amit-amit semoga nggak deh" ucap Clarissa.


Mahen mencubit pipi Clarissa gemas. Mood Clarissa bener-bener sulit untuk ditebak. Baru tadi dia menangis sekarang dia sudah tersenyum bahagia.


Mahen semakin yakin bahwa dia akan sangat merindukan Clarissa nantinya.


"Tapi aku masih berharap semoga kakak nggak jadi pergi" ucap Clarissa sambil tersenyum dan memegang pipi Mahen.


"Aamiin" ucap Mahen kemudian menggenggam tangan Clarissa yang saat ini di pipinya.


"Sepertinya aku akan dimarah oleh papa Syam dan Mama Kirana karena membawa mu pulang dalam keadaan mata bengkak seperti ini" ucap Mahen.


"Apa aku nginap di rumah kakak saja?" Tanya Clarissa sambil tersenyum nakal.


"Ide yang sangat bagus" ucap Mahen.


"Haha, nggak dulu deh. Aku takut papa akan mengeluarkan ku dari KK" ucap Clarissa.


"Haha, oke. Aku antar pulang ya" ucap Mahen.


"Siap Sayang" ucap Clarissa.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2