Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Jogging


__ADS_3

Disisi lain, Mahen diam saja, dia terus bermain games tanpa menghiraukan teman-temannya. Lain halnya dengan ketiga temannya yang sedang memperhatikannya saat ini.


Sejak kepergian Clarissa, ketiganya terus memperhatikan reaksi Mahen.


"Aku tahu kalian sedang memperhatikanku" ucap Mahen.


"Kenapa kau diam saja tadi Hen? aku tahu kau masih mencintai Clarissa" ucap Alex.


"Sotoy" ucap Mahen kemudian bangun dan mengambil kunci motornya.


"Lah kamu mau kemana?" ucap Alex.


"Mau cari udara segar" ucap Mahen kemudian meninggalkan mereka.


"Aku yakin dia masih mencintainya" ucap Alex sambil menatap kepergian Mahen.


"Kok bisa kamu seyakin itu Lex" tanya Nathan.


"Entahlah" ucap Alex yang seperti menyembunyikan sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu.


Baru berjalan beberapa langkah dari kamar Nathan, langkah Mahen langsung terhenti saat melihat Clarissa juga keluar dari sana.


Matanya terlihat begitu sembab seperti sehabis menangis. Mahen hanya menatap Clarissa dingin tanpa berniat bertegur sapa dengannya.


Hingga Clarissa pun tersenyum.


"Kak Mahen" ucap Clarissa.


Mahen hanya diam, kemudian melanjutkan langkahnya. Melalui Clarissa dalam diam.


"Kak Mahen mau kemana?" Tanya Clarissa lagi. Namun Mahen hanya diam saja. Dan saat bertemu dengan Nanda di bawah baru dia bersuara.


"Tante, Mahen pulang dulu ya" ucap Mahen kemudian mencium tangan Nanda.


"Oya, hati-hati ya" ucap Nanda.

__ADS_1


Clarissa hanya bisa memandang kepergian Mahen dengan miris.


Sepertinya Mahen hanya bersikap dingin padanya. Sangat berbeda dengan Mahen yang dia kenal dulu.


Namun dia tidak mengambil pusing. Dia kembali ke kamar Nadin, dia mengurungkan diri untuk ke dapur.


"Nad, aku pulang ya" ucap Clarissa kemudian mengambil tasnya.


"Lah, kok buru-buru, makan dulu" ucap Nadin.


"Iya juga sih, ya udah ayo makan dulu, nggak enak sama Tante" ucap Clarissa kemudian melepas tasnya kembali. Dia tampak lebih ceria sekarang. Entahlah, aneh banget memang.


Baru tadi dia nangis, bahkan matanya masih bengkak. Tapi sekarang dia terlihat baik-baik saja.


"Ayo dah" ucap Nadin tanpa ingin mengambil pusing dengan sikap Clarissa.


Saat di meja makan.


"Jadi bagaimana Ca? apa rencana mu selanjutnya?" Tanya Nadin.


"Contohnya?" tanya Nadin bingung.


"Liat saja nanti, sekarang kita makan dulu. Aku lapar" ucap Clarissa.


"Heh, bukannya kita sebelum ini sudah makan kan Ca?" ucap Nadin.


"Aku kan tadi sudah nangis. Ya tenaga aku berkurang, habis buat nangis. Sekarang harus diisi lagi dong" ucap Clarissa kemudian menyuapi makanan ke mulutnya lagi.


"Bisa-bisanya" ucap Nadin sambil menggeleng.


***


Keesokan harinya, Clarissa sudah bangun pagi. Hari ini hari Minggu, dia sangat yakin Mahen pasti berlari hari ini.


"Ca, mau kemana?" tanya Kirana saat melihat Clarissa sudah rapi dengan sepatu, dan topi di kepalanya.

__ADS_1


"Jogging lah Ma" ucap Clarissa.


"Owh, ya udah hati-hati ucap Kirana.


"Siap Mam" ucap Clarissa kemudian pergi.


Dia menyusuri kompleks menuju lapangan tempat dimana dia biasanya dulu jogging.


Menyusuri kompleks sendirian. Sesekali tersenyum ke ibu-ibu kompleks yang tengah duduk ngerumpi pagi-pagi.


"Itu bukannya Clarissa anaknya bapak Syam dan Ibu Kirana ya?" sayup-sayup terdengar obrolan mereka di telinga Clarissa.


Clarissa memilih tidak memperdulikan mereka. Dia lebih fokus mengamati sekeliling yang sangat berbeda dibandingkan terakhir kalinya dia melihatnya.


"Kak Mahen" batin Clarissa saat melihat sesosok laki-laki tengah memperbaiki sepatunya.


"Oke, Show time" ucap Clarissa.


Dia berlari pelan menuju Mahen.


"Kak Mahen. Lagi lari pagi juga ya?" tanya Clarissa.


Mahen menengok sebentar. Dia terlihat terkejut saat melihat siapa wanita yang sedang menyapanya ini.


Namun dia kembali fokus mengikat sepatunya.


"Dingin banget sih. Kek es batu. Awas hati-hati kak, nanti kalau dingin terus nggak ada yang mau sama kakak" ucap Clarissa kemudian memilih melanjutkan kegiatan joggingnya.


Mahen hanya diam. Kemudian saat mendengar langkah kaki yang menjauh. Mahen langsung mengangkat kepalanya lagi.


Dia melihat Clarissa yang sudah pergi menjauh.


Terlihat jelas wajah kekecewaan terpancar di wajahnya.


Clarissa kembali melanjutkan jogging, menyapa beberapa orang yang ditemuinya. Seperti tidak pernah terjadi apapun. Walaupun dalam pikirannya masih ada Mahen yang berlarian disana.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2