Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Curhat


__ADS_3

"Aku pulang saja, lagi pula tidak ada Mahen disini" ucap Mia kemudian pergi begitu saja.


"Bener-bener cewek tidak tahu malu" ucap Nadin yang langsung mendapat tatapan sinis dari Nathan.


"Iya kak Iya, Maaf" ucap Nadin.


"Ini serius acaranya dua hari lagi?" Tanya Clarissa.


"Iya Ca" ucap semuanya serentak.


"Kalau begitu aku izin papa dulu ya. Nanti aku kabarin aku ikut atau nggak nya" ucap Clarissa sambil menatap Nadin penuh rasa bersalah.


"Selow saja Ca. Nanti aku bantu izin juga deh. Pasti diizinin kok. Bentar lagi kamu juga berangkat ke Singapura kan. Kapan lagi kan bisa kumpul kayak gini" ucap Nadin.


Clarissa mengangguk. Sebenarnya dia juga tidak rela jika harus kembali. Tapi apa boleh buat, dia juga harus menyelesaikan studinya.


"Oke, semua sudah fix ya. Marilah kita tutup dengan melafalkan hamdalah" ucap Alex.


"Alhamdulillah" ucap semuanya serentak.


"Perasaan tadi nggak ada pembukaannya deh. Kok sekarang ada penutupnya" ucap Nadin.


"Diam kau bocah" ucap Alex.


Setelah itu meja mereka dipenuhi dengan keributan Alex dan Nadin yang terus saling adu mulut.


"Guys, aku pulang duluan ya. Soalnya Papa telpon terus nih" ucap Clarissa.


"Aku ikut dong Ca. Aku males banget disini. Apalagi harus ketemu terus sama cowok jadi-jadian ini" ucap Nadin.


"Hey, siapa yang kau maksud cowok jadi-jadian" tanya Alex sambil melihat Nadin kesal.


"Yang merasa saja. Ayo Ca" ucap Nadin.


"Kak Nat, aku izin ke rumah Caca dulu ya" ucap Nadin.

__ADS_1


Nathan hanya mengangguk.


"Hati-hati ya Ca" ucap Bryan.


"Iya kak" ucap Clarissa ramah.


Bryan mengangguk kemudian tersenyum. Mata Bryan tidak henti-hentinya memperhatikan Clarissa. Bahkan sampai Clarissa sudah tidak terlihat sama sekali sekarang.


"Hey, Liat nya gitu banget dah" ucap Alex sambil mencoba mengalihkan fokus Bryan.


"Biasa saja" ucap Bryan.


Diperjalanan ke rumahnya. Clarissa terus bersenandung bahagia. Entah apa yang membuatnya sebahagia itu sekarang.


"Sepertinya tadi sudah terjadi sesuatu" ucap Nadin yang saat ini tengah duduk di samping kemudi.


"Tidak terjadi apapun. Suasana hati ku sedang baik saja" ucap Clarissa tanpa mengalihkan matanya dari jalanan di depannya saat ini.


"Oya? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang lain ya" ucap Nadin.


Nadin mendengus kesal. Dia tidak ingin memaksa Clarissa cerita. Dia yakin nanti Clarissa juga akan cerita sendiri.


***


Sesampainya di rumah. Mahen langsung menuju ke kamar Mahalini.


"Dek" ucap Mahen.


Mahalini saat ini tengah mengerjakan tugas sekolahnya. Dia sibuk menulis beberapa jawaban di bukunya hingga dia malas untuk membalas panggilan kakaknya.


"Dek, kakak mau cerita" ucap Mahen.


"Hmm, cerita saja kak" ucap Mahalini tanpa mengalihkan wajahnya.


Mahen pun mulai bercerita seperti biasanya. Mahalini hanya bisa mendengarkan kakaknya.

__ADS_1


"Kisah cinta orang dewasa ribet sekali" batin Mahalini.


"Bagaimana menurut kamu dek?" Tanya Mahen.


Mahalini mengerutkan dahinya. Dia sendiri masih bingung kenapa kakak nya suka sekali cerita padanya. Padahal dia masih terlalu kecil untuk mengurusi hubungan orang dewasa.


Tapi dia memang cukup memakluminya, karena kakaknya cuma punya dia. Mama dan Papa sibuk dengan urusan masing-masing.


"Mana lini tahu kak. Setau lini kalau orang jatuh cinta. Kalau suka ya bilang suka saja. Temen-temen lini juga begitu" ucap Mahalini dengan polosnya.


"Tapi kakak takut yang seperti dulu akan terulang lagi" ucap Mahen sambil mengingat kejadian satu tahun yang lalu.


"Mau Lini bantuin nggak?" ucap Mahalini.


"Masih kecil juga. Kamu bisa apa" ucap Mahen meremehkan.


"Malah meremehkan. Lihat sekarang. Kakak saja curhat sama Lini kan" ucap Mahalini sambil membusungkan dadanya penuh bangga.


"Ini mah, karena kakak nggak tahu mau curhat ke siapa lagi" ucap Mahen.


"Ya sudah sih. Kan aku cuma nawarin saja" ucap Mahalini kemudian kembali fokus mengerjakan PR nya.


"Oya, 2 hari lagi kakak mau kemah" ucap Mahen.


"Lini mau ikut" teriak Mahalini antusias.


"Tidak bisa. Nanti kau hanya merepotkan" ucap Mahen.


"Kalau begitu, ngapain cerita ke lini sih" ucap Mahalini sambil melihat Mahen kesal.


"Haha, terserah kakak sih" ucap Mahen kemudian meninggalkan Mahalini yang kesal dan meneriakinya habis-habisan saat ini.


Mahen mengabaikan teriakan Mahalini. Sekarang dia sudah di kamarnya. Membanting tubuhnya di kasur. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


"Kenapa cinta serumit ini" batin Mahen.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2