
Mahen terdiam sesaat dengan posisi seperti itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya membiarkan Clarissa menangis dalam pelukannya saat ini.
Hingga akhirnya Clarissa berhenti menangis dan melepas pelukannya.
"Maaf kak" ucap Clarissa saat melihat bekas air matanya membasahi baju Mahen saat ini.
"It's oke. Duduk dulu yuk" ucap Mahen kemudian mengajak Clarissa duduk di sebuah bangku taman.
Mahen diam sebentar, membiarkan Clarissa menenangkan dirinya sendiri.
Clarissa terlihat mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Aku belikan air dulu ya" ucap Mahen kemudian pergi meninggalkan Clarissa sendiri yang tengah duduk sambil memandang deretan air mancur yang berjajar dengan rapi dan cantik.
"Hmm, aku tidak boleh bercerita masalah ini pada kak Mahen" ucap Clarissa.
Setelah beberapa lama, Mahen terlihat datang sambil membawa sebuah botol minuman.
"Ini minum dulu" ucap Mahen.
Clarissa menurut, dia minum dalam diam.
"Makasi kak" ucap Clarissa kemudian mengembalikan minuman itu kepada Mahen.
__ADS_1
"Hmmm" ucap Mahen sambil memandang Clarissa dalam diam.
Lama mereka terdiam, mereka terlihat canggung satu sama lain.
"Kak Mahen kok bisa ada disini?" Tanya Clarissa mencoba memulai pembicaraan.
"Tadi aku melihat kamu melajukan mobil dengan sangat cepat. Aku takut terjadi apapun, untuk itulah aku mengikutinya" ucap Mahen jujur.
Clarissa menelan ludahnya mendengar pernyataan Mahen yang begitu jujur.
"Jadi, kak Mahen masih mengkhawatirkan ku?" Tanya Clarissa dengan polosnya.
Mahen hanya diam saja, dia memilih menatap deretan daun kering yang mulai berjatuhan.
"Tidak" ucap Mahen singkat.
"Lalu? kenapa kak Mahen mengabaikan ku kemarin?" tanya Clarissa.
"Aku hanya sedikit kecewa Ca. Kamu tahu, setiap hari aku selalu mengkhawatirkan mu. Apakah kamu makan dan tidur dengan nyaman disana. Tapi kamu bahkan tidak bisa dihubungi Ca. Walaupun aku tahu, kamu tidak mungkin akan kekurangan apapun disana. Tapi aku tetap khawatir" ucap Mahen tanpa berani melihat wajah Clarissa sama sekali.
Setetes air bening keluar lagi dari mata Clarissa.
"Kamu tahu Ca, setiap malam aku tidak bisa tidur karena memikirkan mu. Dan aku tidak habis pikir sampai sekarang. Bagaimana bisa kamu menulis surat yang memintaku untuk mencari wanita lain. Sedangkan pikiranku dipenuhi kamu terus setiap harinya" ucap Mahen lagi.
__ADS_1
Ada rasa bahagia bercampur sedih mendengar pengakuan Mahen. Clarissa hanya bisa mengelap air matanya yang terus menetes.
"Maafin Caca kak" ucap Clarissa. Hanya kalimat itu yang bisa terucap di mulut Clarissa.
"Hmmm hehh" Mahen hanya bisa menghela nafasnya. Dadanya terasa lebih plong sekarang setelah mengutarakan perasaan hatinya selama ini.
"Kamu tidak salah Ca. Itu hak kamu untuk mengejar karier mu. Tapi bisakah kau tidak menghilang. Bisakah kau memberi kabar. Aku tersiksa disini Ca" ucap Mahen. Air mata mulai menetes membasahi pipinya. Tapi dia langsung menghapusnya.
"Maafin Caca kak, maaf, hiks" ucap Clarissa yang sudah tidak mampu membendung air matanya. Lagi-lagi dia menangis. Kali ini menangis karena hal yang berbeda. Lebih kepada menangis karena rasa bersalah dan haru karena Mahen yang dulu masih sama.
Mahen pun menarik tubuh Clarissa kemudian mendekapnya dan membenamkan ya di dadanya. Clarissa menangis lagi di dada Mahen.
"Maafin Caca kak, hiks" ucap Clarissa lagi sambil terus menangis.
Mahen hanya diam sambil menepuk punggung Clarissa pelan, berharap bisa menetralkan hati Clarissa.
"Maafin kakak juga karena sudah membuatmu menangis seperti ini" ucap Mahen.
"Tidak, kak Mahen tidak salah apa-apa, Clarissa yang salah" ucap Clarissa sambil menggeleng dan menghapus air matanya.
Mahen mengangkat kepala Clarissa kemudian menghapus air mata di pipinya.
"Kamu sangat jelek ketika menangis seperti ini" ucap Mahen sambil mencubit hidung Clarissa yang sudah memerah.
__ADS_1
-Bersambung-