
Saat ini Clarissa sedang duduk berdua di ruang keluarga bersama Syam. Mereka tengah menonton tv bersama.
Clarissa terlihat ragu untuk memulai berbicara. Hingga akhirnya dia tidak tahan lagi.
"Pa" panggilnya.
"Iya" ucap Syam,
"Mau apa?" tambah Syam lagi. Dia sudah tahu jelas sifat anaknya. Kalau sudah seperti itu, pasti ada maunya.
"Clarissa boleh ikut kemah nggak lusa Pa. Ada Nadin juga" ucap Clarissa.
"Boleh" ucap Syam langsung.
"Ha? serius pa?" tanya Clarissa yang terlihat begitu antusias.
"Iya" ucap Syam lagi. Clarissa mulai curiga, tidak mungkin bisa semudah itu untuk mendapatkan izin pada papanya.
"Kok tumben?" tanya Clarissa sambil menatap papanya penuh curiga.
"Itu hadiah buat papa karena kamu sudah mau melanjutkan bisnis papa" ucap Syam kemudian kembali fokus menonton tv.
"Clarissa sebenarnya nggak mau pa. Tapi terpaksa. Haha. Btw Terimakasih Pa, Clarissa sayang banget sama Papa" ucap Clarissa kemudian memeluk Papanya.
"Hmmm" ucap Syam.
"Oya Pa, satu lagi" ucap Clarissa sambil bergelayut manja pada Syam.
"Apa?" tanya Syam.
__ADS_1
"Clarissa sudah bisa dekat dengan kak Mahen juga dong?" tanya Clarissa yang mencoba meminta restu Syam.
"Memang kapan papa larang?" Tanya Syam.
"Amnesia ya Bun. Jadi boleh ni?" tanya Clarissa.
"Berteman boleh saja. Tapi untuk lebih jangan dulu" ucap Syam.
"Kenapa pa?" Tanya Clarissa penasaran.
"Kamu masih kecil. Papa ingin laki-laki yang terbaik buat kamu Ca" ucap Syam.
"Kak mahen adalah laki-laki yang terbaik buat Clarissa Pa" ucap Clarissa.
"Papa sudah siapkan laki-laki yang terbaik buat kamu" ucap Syam yang membuat Clarissa diam seketika. Dia begitu terkejut mendengar penjelasan papanya.
"Apa maksud papa?" ucap Clarissa dengan mata yang terlihat sudah berair.
"Pa jawab?" ucap Clarissa yang sudah melepaskan pelukannya.
Kirana terlihat datang dengan nampan di tangannya.
"Ada apa ini?" Tanya Kirana saat melihat Kirana yang sudah meneteskan air mata.
"Jangan bilang Clarissa sudah dijodohkan" tanya Clarissa dengan air mata yang sudah tidak dibendung lagi.
Syam menutup matanya, menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.
"Pa, kenapa? kenapa papa selalu ikut campur masalah hidup Clarissa. Mulai dari mimpi hingga kisah cinta Clarissa. Caca udah mau relain mimpi Caca buat papa. Kenapa harus kisah cinta Clarissa juga sih Pa. Intinya Clarissa nggak mau. Sampai kapanpun tidak akan mau" ucap Clarissa kemudian meninggalkan papa dan mamanya yang masih mematung.
__ADS_1
Dia berlari ke kamarnya, kemudian mulai mengemasi barangnya. Mengambil kunci mobil kemudian berjalan keluar.
Mungkin menghilang dari rumah ini adalah cara terbaik untuknya saat ini.
"Ca, mau kemana?" teriak Kirana dari pintu rumahnya.
Namun Clarissa sudah pergi jauh dengan mobilnya.
Dia terus menangis sampai sesegukan.
" Haaaaa" teriak Clarissa mencoba menghilangkan sesak di dadanya.
Dia masih tidak habis pikir kenapa papanya malah menjodohkannya.
Baru tadi dia bahagia, sekarang apa ini. Air matanya saja tidak bisa berhenti keluar sejak tadi.
"Kenapa pa, kenapa? hiksss" tangis Clarissa tidak mampu terbendung lagi. Bahkan pandangan matanya mulai pudar karena terus menangis. Dia pun akhirnya memilih menepi di parkiran sebuah taman yang cukup sepi.
Menangis disana sejadi-jadinya. Mencoba menghilangkan beban nya selama ini.
Lama dia menangis dalam posisi itu. Hingga seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Clarissa menengok.
"Kak Mahen" katanya pelan.
Dia langsung membuka pintu mobilnya kemudian turun.
"Kak" katanya dengan mata yang sudah sangat sembab dan hidung yang memerah.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang dia langsung memeluk Mahen erat dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Mahen.
-Bersambung-