Pesona 4 Tuan Muda Tampan

Pesona 4 Tuan Muda Tampan
Jangan Pergi


__ADS_3

"Kak Mahen" ucap seorang wanita yang entah datang darimana.


"Deg" jantung Mahen tiba-tiba berdetak semakin cepat. Detak jantung akibat terlalu lelah berlari bercampur dengan detak jantung akibat panggilan dari seorang wanita yang sangat dia kenal.


Dia merasa begitu lemas hanya untuk menengok ke belakang. Dia takut untuk berharap lebih.


"Itu tidak mungkin Clarissa" ucap Mahen terus dalam hatinya.


"Kak" ucap Clarissa yang saat ini tiba-tiba sudah berdiri di depan Mahen.


Mahen dengan cepat langsung mendongak.


"Ca" ucapnya kemudian berhambur memeluk Clarissa. Rasanya dia tidak rela jika harus kehilangan Clarissa.


Clarissa begitu terkejut. Namun dia memilih untuk terdiam.


Terasa begitu nyaman dalam pelukan Mahen saat ini.


"Aku yakin Ca kamu tidak akan pergi meninggalkan ku begitu saja" ucap Mahen kemudian mempererat pelukannya.


"Kak, malu loh dilihat banyak orang disini" Bisik Clarissa pelan.


"Aku tidak peduli Ca" ucap Mahen.


"Hmmmm" terdengar suara orang lain disana. Suara deheman laki-laki yang begitu khas. Mahen langsung menengok ke arah sumber suara. Disana sudah ada Bryan dan Syam tengah memperhatikan mereka. Rasanya dia sangat ingin mengabaikan mereka.

__ADS_1


Tapi dia sadar diri dan sadar posisi.


"Omm" ucap Mahen kemudian melepas pelukannya pada Clarissa.


Syam diam saja, berbeda dengan Mahen yang malah senyum-senyum sendiri melihat tingkat temannya itu yang terlihat malu-malu.


"Apakah sudah selesai, pesawat Clarissa akan segera berangkat" ucap Syam.


"Ca, kamu jadi pergi?" Tanya Mahen dengan wajah yang begitu sedih. Baru tadi dia begitu senang bahwa Clarissa nya akan kembali. Tapi apa ini sekarang.


"Iya kak, Maafin Clarissa ya" ucap Clarissa kemudian menunduk sedih.


"Harus ya Ca?" Tanya Mahen lagi. Clarissa hanya membalas dengan anggukan sambil menatap Mahen sedih. Entah apa yang ada dipikiran Mahen saat ini. Rasanya dia tidak rela melepas Clarissa yang bahkan belum jelas statusnya.


"Ca, bolehkan aku minta sesuatu sama kamu?" Tanya Mahen sambil menggenggam tangan Clarissa.


"Tolong jangan pergi. Aku tidak akan tahu apa jadinya jika aku tidak melihat senyummu setiap hari" ucap Mahen sambil memegang pipi Clarissa. Matanya terlihat penuh harap.


Bryan yang ada disana begitu terkejut mendengar pengakuan Mahen yang menurutnya tidak mungkin. Bagaimana mungkin orang sedingin Mahen bisa merayu seperti itu.


"Maafin Clarissa kak. Aku nggak bisa. Clarissa janji akan kembali kak. Jadi izinin Clarissa pergi ya" ucap Clarissa sambil menggenggam tangan Mahen erat. Berusaha membujuk Mahen.


"Ca, cepat!" ucap Syam tegas.


"Maafin Clarissa ya kak" ucap Clarissa kemudian mencoba melepas genggaman tangga Mahen.

__ADS_1


"Tapi kamu harus janji untuk kembali Ca" ucap Mahen kembali.


Clarissa hanya tersenyum kemudian melambaikannya tangannya pada Mahen. Entah apa yang bisa Mahen lakukan lagi. Rasanya dia tidak ikhlas jika harus melepaskan Clarissa begitu cepat. Tapi apalah daya, dia juga tidak boleh egois.


~Tiba-tiba~


"Hen Hen" ucap Bryan.


"Clarissa" teriak Mahen. Ternyata itu hanyalah mimpi.


"Akhirnya kamu bangun juga. Bagaimana bisa kamu tertidur disini" ucap Bryan.


Mahen langsung melihat kesekelilingnya. Dia masih dibandara, tempat dia beristirahat tadi. Ternyata karena kecapean dia akhirnya tertidur. Dan tadi...


Ternyata hanya mimpi. Mimpi yang begitu nyata. Mimpi bertemu dengan Clarissa, seseorang yang sangat dia cintai.


"Clarissa Mana yan?" tanya Mahen sambil melihat ke kanan dan kiri, berharap jika itu bukanlah mimpi.


Bryan langsung menggeleng dan menatap Mahen dengan tatapan yang begitu sedih. Begitupun dengan Nathan, Alex dan Nadin yang hanya bisa menatap Mahen penuh iba.


"Clarissa sudah berangkat kak" ucap Nadin.


"Yang tabah ya bro" ucap Nathan sambil memegang bahu Mahen.


"Tapi tadi aku bertemu dengan Clarissa" ucap Mahen.

__ADS_1


"Jangan halu, jelas-jelas kamu tidur disini Hen, ayo pulang" ucap Nathan.


-Bersambung-


__ADS_2