
Sesampainya di rumah sakit, Mahen langsung berlari menuju tempat Clarissa di rawat.
Dia bahkan mengabaikan beberapa orang yang hampir dia tabrak. Dia begitu bahagia, hingga rasanya kalau bisa dia ingin mempunyai kemampuan teleportasi sehingga bisa langsung sampai di ruangan Clarissa.
Setelah sampai di ruangan Clarissa. Mahen langsung merapikan baju sekolahnya. Dia mengetuk pintu perlahan kemudian membukanya.
Matanya langsung tertuju pada seorang wanita yang saat ini tengah terlelap.
"Mahen" ucap Kirana.
Tubuh Mahen langsung melemah, bayangannya bahwa Clarissa sudah sadar ternyata salah.
"Apa Nadin membohonginya" batinnya.
Dia mendekati Clarissa kemudian menatap Clarissa yang terlihat begitu pucat.
"Apa benar tadi Clarissa sadar Tante" tanya Mahen yang saat ini berganti fokus pada Kirana.
Kirana mengangguk.
"Iya, dia baru saja tertidur. Sepertinya dia kelelahan. Dari sejak bangun dia terus-terusan menangis" ucap Kirana.
Mahen berganti melihat Clarissa. Dia memegang tangan Clarissa erat.
"Ingatannya kembali Tante?" ucap Mahen.
__ADS_1
"Iya nak" ucap Kirana.
Mahen hanya bisa terdiam. Ketakutannya benar-benar terjadi. Entah apa reaksi Clarissa saat melihatnya nanti. Dia benar-benar tidak bisa membayangkannya.
Apakah Clarissa membencinya. Atau kah sebaliknya.
Tapi apapun itu dia akan berusaha untuk selalu berada di dekat Clarissa. Dia akan berusaha untuk menjadi benteng pertama Yang akan selalu menjaga Clarissa.
"Maafkan aku Ca" ucap Mahen kemudian mencium tangan Clarissa.
****
Disisi lain, Nadin saat ini tengah adu mulut dengan Sindy di mobil.
Selesai jam pelajaran, mereka langsung memutuskan untuk menjenguk Clarissa, karena mereka mendapat kabar Clarissa sudah sadar.
"Hey, mau-mau gue lah mau ikut atau nggak. Ini mobil pacar gue, jadi gue juga berhak
disini" ucap Sindy tidak mau kalah.
"Huh, mimpi kali ya. Aku nggak akan pernah setuju kak Nathan sama nenek sihir. Aku akan bilang kelakuan kakak sama mama dan papa" ucap Nadin sambil menjulurkan lidahnya.
"Sial" ucap Sindy hendak ingin menjabat rambut Nadin, namun diurungkannya karena tidak ingin gagal jadi calon mantu.
"Nggak berani kan, haha" ucap Nadin.
__ADS_1
"Kalian bisa diem nggak sih. Ribet banget sih" ucap Alex yang saat ini juga berada di samping Nadin. Yups Nadin berada di tengah-tengah orang yang begitu menyebalkan. Seandainya Clarissa sehat, mungkin Clarissa yang saat ini di sampingnya bukan orang-orang menyebalkan ini.
"Diem" ucap Nadin dan Sindy bersamaan.
Nathan dan Bryan yang saat ini tengah di depan kemudia hanya bisa menggeleng melihat tingkah mereka.
"Aku nggak kebayang, kalau Kamu jadi sama Sindy Nat. Bisa jadi pasar seketika rumah kamu" ucap Alex.
"Ihh, Aku udah bilang, Aku nggak akan setuju kak Nathan sama Kak Sindy. Jadi jangan bayangin hal yang tidak mungkin terjadi" ucap Nadin.
"Kalau aku sama kamu gimana? Mungkin nggak?" Tanya Alex tiba-tiba.
Lagi-lagi Nadin terdiam karena pertanyaan Alex yang terkadang absurb.
Tiba-tiba mobil itu menjadi sunyi dan sepi, karena mereka seperti menunggu jawaban dari Nadin
"Nggak" ucap Nadin.
"Sok kecantikan lu" ucap Sindy yang lagi-lagi memancing emosi Nadin.
Namun kali ini Nadin memilih tidak membalas ucapan Sindy. Karena dia merasa hawa di sampingnya mulai berbeda.
Dia melihat ke arah Alex. Tatapannya terlihat berbeda.
"Apa kak Alex serius dengan ucapannya tadi" batin Nadin yang saat ini malah merasa bersalah.
__ADS_1
-Bersambung-