
"Akhirnya, sudah yang Nona" ucap Dokter Tedy. Clarissa langsung mengucapkan terima kasih kemudian hendak turun dari kasur rumah sakit. Namun Mahen menghentikannya.
Mahen langsung menggendongnya kembali.
"Makasi" ucap Mahen kemudian membawa Clarissa kembali ke mobil.
"Kak Mahen, yang sakit itu lengannya Clarissa, bukan kakinya. Kenapa sampai digendong segala sih. Malu kak" ucap Clarissa.
"Diam" ucap Mahen tidak mau terbantahkan.
"Kambuh deh kulkas" batin Clarissa.
"Kak, pengobatan nya nggak dibayar" ucap Clarissa sebagai alasan agar dia diturunkan.
"Ini klini milikku. Untuk apa bayar" ucap Mahen kemudian langsung membawa Clarissa masuk ke mobil kembali.
"Eh, serius kak? Kok aku nggak tahu?" ucap Clarissa sambil melihat lagi nama klinik tersebut.
"Astaga, aku baru sadar" ucap Clarissa. Dia kemudian menatap Mahen yang saat ini tengah menatapnya dengan wajah kaku.
"Kak, jangan lihat Clarissa kayak gitu" ucap Clarissa kemudian menundukkan wajahnya.
Mahen kemudian mengangkat wajah Clarissa sehingga Clarissa menatapnya kembali.
"Kamu tahu kesalahanmu?" Tanya Mahen.
__ADS_1
"Nggak tahu kak" ucap Clarissa. Setetes air mata keluar begitu saja, Dia benar-benar tidak sanggup ditatap seperti itu.
Mahen langsung melepaskan wajah Clarissa. Dia menggenggam erat stir kemudi. Dia kemudian menyetir mobil dengan kecepatan tinggi seperti sedang melampiaskan semuanya. Hingga membuat Clarissa ketakutan.
"Kak Mahen Clarissa takut" ucap Clarissa dengan air mata yang terlihat mengalir semakin deras. Dia ingin menghentikan Mahen namun lengannya masih terasa sakit.
Mahen langsung mengerem mobilnya dan menghentikannya dipinggir jalan yang cukup sepi.
Dia menarik nafasnya kemudian menghembuskan nafasnya perlahan. Berharap emosinya mereda.
"Ca, janji sama aku. Jangan lakukan itu lagi" ucap Mahen dengan mata yang terlihat menahan sesuatu. Matanya terlihat basah namun terlihat jelas dia sedang menahannya agar tidak jatuh.
"Iya kak, Clarissa janji nggak akan kayak gitu lagi. Maafin Caca kak" ucap Clarissa dengan air mata yang sudah tidak mampu di tahan lagi.
Mahen diam saja, dia pun langsung menatap ke arah jalanan di depannya.
"Maafin kakak juga" ucap Mahen kemudian memeluk Clarissa erat.
Mungkin terlihat berlebihan. Tapi melihat Clarissa yang terluka tadi, membuatnya mengingat kejadian 11 tahun lalu. Seorang anak perempuan yang sok pemberani menyelamatkannya dari musuh papanya. Hingga anak perempuan tersebut terluka karenanya. Anak perempuan itu adalah Clarissa. Yang menjadi pacarnya sekarang.
Dia tidak ingin hal itu terulang kembali. Untuk itulah dia berjanji untuk menjaga Clarissa.
Tapi karena sikap Clarissa yang pemberani dan suka menolong. Membuatnya akan sedikit sulit merealisasikan janjinya.
"Clarissa yang harus nya minta maaf kak. Udah buat Kak Mahen khawatir. Bahkan kak Mahen sampai nangis sekarang. Hiks" ucap Clarissa.
__ADS_1
"Hey, mana ada kakak Nangis" ucap Mahen kemudian melepaskan pelukannya.
Clarissa tersenyum.
"Tadi kakak nangis loh. Nah itu ada bekasnya" ucap Clarissa sambil menunjuk pipi Mahen.
Mahen langsung mengelap pipinya. Namun kering, tidak ada apapun disana. Karena seingetnya tadi dia langsung menghapus air matanya saat memeluk Clarissa.
"Haha, itu kan bener. Kak Mahen udah nangis. Buktinya langsung pegang pipi" ucap Clarissa dengan tawa yang memenuhi mobil tersebut.
"Kakak nggak nangis Ca" ucap Mahen.
Namun Clarissa menggeleng.
"Nggak percaya. orang jelas-jelas tadi Kak Mahen nangis. Wekk" ucap Clarissa.
"Ya ampun. terserah dah" ucap Mahen kemudian kembali melajukan mobilnya.
Sedangkan Clarissa saat ini tengah tersenyum sambil memandang Mahen.
"Makasi ya kak. Udah khawatir. Caca sayang kak Mahen. I love u" ucap Clarissa.
Mahen pun tersenyum kemudian melihat Clarissa sekilas.
"Me Too" ucap Mahen.
__ADS_1
-Bersambung-