
"Kok berhenti sih bang?" protes Satya, saat El menepikan mobilnya dipinggir jalan ketika perjalanan pulang dari rumah orang tua Stela.
"Mau beli bunga." jawab El singkat, seraya membuka pintu mobil dan berjalan menuju sebuah toko bunga yang masih buka di jam sembilan malam ini.
"Dih, buat apa coba beli bunga segala." gerutu Satya.
"Mungkin buat kak Kinar kali bang, abang kan masih romantis sampe sekarang." sahut Cantika yang duduk didepan, tepatnya di samping El.
"Masa sih dek buat kak Kinar, coba lihat deh! bang El belinya bunga rontokan, bukan bunga yang biasa dibikin buket, setahu abang itu kan bunga yang biasa ditaburin diatas kuburan, masa iya buat kak Kinar, yang ada dia ngambek! terus nggak bolehin bang El tidur bareng sampai dua bulan."
Sementara itu El yang baru saja kembali, langsung duduk ditempatnya semula, menatap satu persatu adiknya yang menatapnya heran.
"Pada kenapa sih, ngelihatinnya gitu banget?''
"Itu, elo beli bunga buat apa bang?" ujar Satya penasaran.
"Disuruh ayah."
"Ayah! buat apa?"
"K-e-p-o." balas El dengan penuh penekanan, membuat Satya mendengus.
"Ck, kagak asik lo bang."
"Buat mandiin Satria." jawab El kemudian, dan mulai melajukan kembali mobilnya.
"Apa hubungannya, mandiin Satria sama bunga kuburan,bang?" sambung Satya yang belum puas dengan jawaban sang abang.
"Sembarangan! itu bukan bunga kuburan, tapi kembang tujuh rupa."
__ADS_1
"Apa lagi tuh, serem amat!"
"Ayah bilang, sepulang dari sini Satria harus dimandiin kembang tujuh rupa, biar kagak sawan tuh bocah."
"Eh iya juga sih bang, emang tuh anak aneh banget kagak sih, dari tadi diem aja! sekarang malah molor!" menoleh kearah Satria yang memejamkan matanya sejak naik mobil dari rumah orang tua Stela sepuluh menit yang lalu.
"Yaudah, buruan ngebut bang! gue udah kagak sabar pengen ikut mandiin juga, tangan gue udah gatel nih."
"Yoi."
*
"Kamu istirahat aja duluan ya, aku sama bang El mau ngerukiyah si Satria dulu." ujar Satya saat mereka sudah tiba dirumah.
"Kakak ada-ada aja."
Sementara itu, didalam kamar mandi Satria tampak mendengus, menatap sang abang dengan tatapan permusuhan, karena sudah memandikannya dalam keadaan terkantuk-kantuk.
"Udah sadar dia bang?" tanya Satya yang menyembulkan kepalanya dipintu kamar mandi.
"Ngamuk dia." El tergelak, sembari memegangi gayung, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Satria menyerangnya.
"Ajig, sodara kagak ada ahlak, keluar sono!" Satria mendorong tubuh El dan Satya hingga keluar dari kamarnya, mengusap wajah dengan helaan nafas kasar ia kembali kekamar mandi, melanjutkan untuk mandi karena kepalang basah.
Selesai mandi dan berganti pakaian hangat, ia menaiki ranjang duduk berselonjor dengan punggung menyender pada headboard.
Meraih benda pipihnya, yang terlihat bergetar beberapa detik yang lalu, ia tertegun saat mendapati beberapa pesan chat masuk dari orang yang sama.
"Stela?" gumamnya, dan segera menghubungi nomor milik calon istrinya tersebut.
__ADS_1
"Hallo yang?"
"Kemana aja." suara disebrang sana terdengar merajuk.
"Maaf yang, aku abis mandi."
"Kenapa malem-malem begini."
"Biasa, dapet balasan jail." Satria terkekeh geli.
"Makanya jadi orang jangan jail, oh iya barusan aku nggak sengaja denger obrolan papa aku sama ayah kamu ditelpon, katanya p-pernikahan kita mau di adain tiga hari lagi."
"Masa sih yang."
"Aku serius."
"Bagus dong!"
"Kok bagus?"
"Kalau kita udah sah, kita udah bisa main kuda-kudaan yang."
"Satria! me*sum sih."
"Lah, siapa yang me*sum, emang salah kalau aku bilang kita akan main kuda-kudaan, itu lho yang, yang biasa ada dipinggir danau, satu putaran dua puluh lima ribu."
*
*
__ADS_1