Pesona Twins S

Pesona Twins S
Mengantar Cantika


__ADS_3

"Ihs abang lama banget, Tika udah nungguin dari tadi tahu?" sergah Cantika ketika sang abang yang tak lain adalah Satya baru saja tiba dirumah sekitar jam 15:55 padahal sore ini ia sudah berjanji pada sang adik untuk mengantarnya ketempat les.


Satya tersenyum, seraya mengusap kepala adik kesayangannya itu, "Maaf ya, tadi abang bantuin bang Rizal dulu dibengkel, tunggu ya! abang mandinya bentar doang kok."


"Ya udah cepetan."


"Siap nyonya." mengangkat sebelah tangannya hormat, yang membuat sang adik terkekeh geli.


"Bang, abang sakit?" tanyanya pada Satria yang juga baru saja tiba dari DenadaCafe, sang abang terlihat pucat dan lemas.


"Dikit dek, kepala abang pusing." keluhnya berjalan dengan sedikit sempoyongan, dan dengan sigap Cantika pun membantu untuk memapahnya agar tiduran di sofa.


"Abang kayaknya demam, badannya panas banget bang." ujar Cantika yang kini menempelkan punggung tangan mungilnya di kening sang abang.


"Bentar, Tika panggilin bunda dulu ya."


"Hmm, iya dek!" gumamnya, dengan kedua mata terpejam.


Gegas Cantika pun berlari menghampiri sang bunda yang tengah membantu bi Sari memasak menu makanan untuk makan malam ini.


"Kenapa sih dek, belum berangkat? bukannya tadi bilang ke bunda lagi buru-buru ya!"


"Itu bun, bang Satria demam, kasihan lihat deh bun." menggandeng tangannya, tanpa menunggu persetujuan sang bunda terlebih dulu.


"Kok bisa sih bang Satria sakit."


"Tika juga nggak tahu, pulang-pulang langsung tiduran di sofa, wajahnya pucet bun, katanya kepalanya juga pusing."


*


"Satria kenapa bun?" tanya Satya yang kini tengah bersiap-siap untuk mengantar sang adik.


"Panas banget badannya, tumben banget ni anak demam begini." jawab sang bunda sembari mengompress kening Dan bagian tubuhnya yang lain.


"Padahal tadi siang dia nggak apa-apa deh bun, tapi tadi pulang sekolah emang loyo sih, katanya abis ditolak cewek."


"Ck dasar anak muda."


"Yaudah Satya pamit dulu bun, kasihan Cantika udah nungguin dari tadi takut ngambek." meraih tangan sang bunda kemudian menciumnya.


"Hati-hati jangan ngebut."

__ADS_1


"Siap!"


*


"Tika udah sampe, ayo masuk dek!" Mutia mempersilahkannya untuk masuk.


"Kak Satya juga masuk aja kak, diluar gerimis kayaknya." menoleh kearah Satya yang hanya berdiri memegangi helm.


"Ayo nggak apa-apa."


"Buruan abang, masuk!" Cantika menarik tangan sang abang, saat dirinya tak merespon ucapan mutia sama sekali.


"Mau teh apa kopi kak?" tawar Mutia ketika Satya baru saja mendudukan bokongnya di sofa sederhana yang terletak di ruang depan.


"Teh aja kak, bang Satya nggak suka kopi soalnya." Cantika yang menyahut.


"Kalau Tika mau minum apa dek?"


"Apa aja kak."


"Es jeruk mau?"


"Boleh."


"Siap kak."


Seperginya Mutia kedapur, Satya menatap tajam sang adik, "Dek kamu apaan sih!"


"Dih abang yang apaan, diem-diem mulu, malu yah sama kak Muti, kak Muti cantik kan bang?"


"Diem anak kecil."


"Kak Muti baik lho orangnya, asik lagi."


"Ck, ni anak."


"Silahkan teh nya kak." Mutia meletakan secangkir teh dan juga segelas es jeruk untuk Cantika.


"Makasih ya, maaf udah ngerepotin." ujar Satya tak enak.


"Nggak ngerepotin sama sekali kak."

__ADS_1


"Gimana Tika udah siap belajar?" mengambil beberapa buku yang biasa Cantika pelajari saat belajar bersamanya.


"Siap kak."


"Sampai mana ya kemarin, kalau nggak salah Bab:7 ya!"


"Iya kak."


Kedua nya pun larut dalam aktifitasnya, Cantika yang sibuk menulis dan menghafal, sedangkan Mutia begitu sabar dan telaten membimbingnya.


Sementara Satya diam-diam terus mencuri pandang wajah Mutia, yang terlihat manis dan menggemaskan saat sedang fokus.


Jika tidak sekarang, kapan lagi pikir nya.


Untuk itu ia tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


*


Tidak Teresa satu jam pun berlalu, yang berarti waktu belajar telah habis, Satya dan Cantika pun berpamitan untuk segera pulang.


"Terimakasih ya,!" ucap Satya sebelum menghampiri sang adik yang sudah terlebih dulu menaiki motor nya.


"Sama-sama kak."


"Oh iya, itu_"


"Kenapa kak, ada yang ketinggalan?" tanyanya seraya menoleh kedalam kostan.


"Iya, ada sih!" jawabnya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, antara bingung dan salah tingkah.


"Apa kak, biar saya ambilkan!"


"Tunggu bukan itu."


"T-terus?"


"Nomor Handphone kamu."


Deg!


.

__ADS_1


.


__ADS_2