
"Besok maen lagi ya, om belum selesai lho ceritanya, ok!" bisik Satria pada Gala yang kini berada digendongan El sang ayah.
"Om juga punya cerita lho, yang belum om ceritain, pokoknya besok main lagi ya, entar om beliin es cream yang banyak." kini giliran Satya ikut berbisik.
"Racun emang lo berdua." gerutu El, membuat keduanya tergelak bersama.
"Boleh yah?" tanya Gala memasang wajah imutnya.
"Apanya sayang.''
"Becok main kecini lagi, boleh?" izinnya, salah satu sikap Gala yang El sukai karena anak balita tersebut selalu meminta izinnya atau Kinar terlebih dahulu jika ingin melakukan sesuatu.
"Besok ayah sibuk nak, nggak ada yang ngantar kesininya." balas El lembut, berusaha memberi pengertian pada Gala, karena besok kerjaannya memang sangat menumpuk dan tidak bisa ditunda-tunda.
"Lah kan ada gue!" sahut Satria seraya menunjuk wajah nya sendiri, yang kemudian diangguki oleh Satya.
"Iya bang, kan ada kita yang jemput."
El tersenyum tipis mencondongkan wajah berbisik diantara keduanya, "Gue pikir gue bakalan ngijinin anak gue lagi maen sama lo berdua, nggak akan.!"
"Dih, pelit lo bang! awas aja entar kalau gue udah produksi sendiri kagak bakalan gue pinjemin." balas Satria membrengut kesal.
"Bodo amat! gue juga bisa, Gala gede ya tinggal bikin lagi, gampang kan?"
"Anjir, lo berdua pada ngomongin apaan sih, kok keknya cuma gue deh yang paling kagak ngerti kemana arah pembicaraan lo berdua." ujar Satya memasang wajah polos.
"Pura-pura kagak ngarti lo!" desis Satria.
"Lah emang gue kagak ngarti, diantara kita bertiga kan cuma gue yang paling polos dan kagak tahu apa-apa." jawab Satya, yang sontak mendapat bonus toyoran di kepala dari keduanya.
"Ini cucu twins Oma, sehat kan ya didalem, jangan terlalu kecapean lho istri kamu El." ujar Nada sembari menggandeng tubuh Kinar menuju mobil karena terlihat mulai kesulitan untuk berjalan, padahal usia kandungannya baru memasuki bulan ke tujuh.
__ADS_1
"Dia itu paling susah di bilangin Bun, katanya masih kuat bolak-balik ngurusin butik." sahut El dibelakangnya.
"Sayang, dengerin apa kata bunda sama bang El, jangan terlalu kecapean ya, bunda khawatir."
"Iya bunda, Kinar pamit ya!" balas nya seraya tersenyum lembut, memuluk tubuh sang ibu mertuanya, sebelum kemudian masuk kedalam mobil untuk pulang kerumahnya.
*
*
"Eit, mau kemana lagi kamu,? kamu nggak lihat ini udah jam berapa? jalan ngendap-ngendap udah kayak perampok aja." sergah Nada, menarik ujung hoodie yang kini dikenakan anak bujangnya itu.
"Eh bun, bunda belum tidur?" jawab nya cengengesan.
"Nggak usah senyam-senyum gitu jelek!"
"Elahhh bun."
"Bunda tanya ini jam berapa Satria?" suaranya mulai naik satu oktaf.
"Kamu mau ngerjain bunda, lihat itu!" menunjuk jam dinding yang kini menunjukan pukul 22:09 malam.
"Eh, kok beda ya sama yang dikamar." ringisnya.
"Alasan! mau kemana kamu?"
"Euhmz itu bun, mau.. mau_"
"Mau apa?"
"Biasa Bun, nongkrong diwarung."
__ADS_1
"Warung yang mana lagi sekarang?"
"Emang ada banyak warung disini bun?"
"Satriaaa!"
"Eh?"
"Salah ngomong mulu." gumamnya lirih.
"Pokoknya balik kamar, tidur! besok kamu harus sekolah Sat, males deh bunda bangunin kamu yang tidurnya kaya gajah pingsan."
"Eh?"
"Tidur, nggak pake protes!"
"Tapi temen-temen aku udah pada nungguin bun."
"Bunda nggak mau tahu."
"Please dong bun, sekali ini aja ya, ya!" pintanya dengan raut memohon, membuat Nada mendelik, seraya memutar bola mata malas.
"Ok bunda izinin, tapi_"
"Tapi apa bun?"
"Tapi kalau sampai besok kamu kesiangan, jatah uang jajan hilang."
"Yah, bun! jangan gitu dong."
"Terserah, bunda cuma ngasih kamu pilihan!" jawab nya Dan berlalu pergi, sementara Satria menggaruk kepalanya, hingga acak-acakan, berperang dengan hatinya antara memilih tetap keluar nongkrong bareng teman-temannya, atau masuk kamar dan tidur.
__ADS_1
.
.