
"Dipanggil ayah tuh, suruh keruang kerjanya! kamu bikin masalah apa lagi sih Sat, sampai ayah manggil kamu." ujar Nada sang bunda ketika menemukan anak laki-laki nya itu yang tengah meneguk air mineral dingin yang diambilnya dari dalam lemari es yang berada di dapur.
"Mana aku tahu bun, perasaan nggak bikin salah deh."
"Yaudah buruan samperin gih ayahnya, kamu tahu sendiri kan ayah paling nggak suka nunggu lama."
"Iya bun."
Satriapun berjalan menghampiri sang ayah yang berada diruang kerjanya, memasuki ruang tersebut setelah mengetuk pintu dan mendapat perintah dari sang ayah agar segera masuk.
Satria berdiri didepan pintu setelah menutupnya kembali, memperhatikan sang ayah yang tengah sibuk memeriksa beberapa dokumen penting milik perusahaan.
"Pacar kamu udah pulang Sat?" tanyanya tanpa menoleh atau menatap putranya langsung, sibuk membuka lembaran dokumen dan sesekali memperbaiki letak kacamata nya yang terus bergerak turun.
Meski sedikit kebingungan, Satria berusaha untuk terlihat tetap tenang, sembari berpikir keras tentang darimana ayahnya tahu kalau Stela datang, dan sejurus kemudian ucapan mang Ujang tadi terngiang-ngiang di kepalanya.
Mungkinkah! Satria menggeleng pelan.
"Udah yah.'' jawabnya lirih, kemudian mengambil duduk dikursi yang berada tepat di hadapan sang ayah.
Ando menghela nafas, menyimpan kacamata nya kemudian beralih menatap Satria yang merupakan putra keduanya itu.
"Sat, kamu serius sama pacar kamu yang namanya,_ siapa?"
__ADS_1
"Stela yah."
"Kamu nggak lupa kan Sat, kalau kamu sama gadis itu masih dalam tahap pacaran, nggak ada ikatan yang lebih baik, atau dikatakan halal."
Satria mengangguk pelan.
"Coba kamu lihat ini." Ando menggeser pelan benda segi empat yang ada dihadapannya kearah Satria, disana dilayar segi empat tersebut terdapat sebuah vidio yang menayangkan reka adegan yang dilakukannya dengan Stela beberapa menit yang lalu.
"Ayah tidak mau hal seperti ini sampai terulang lagi, dimanapun!" ucap Ando dengan nada tegas, menarik kembali benda tersebut kemudian mematikan dan menutupnya.
"Ayah tidak mengajarkan kamu, maupun saudara kamu yang lain seperti ini, ayah lebih setuju jika kalian menikah, diusia kalian yang masih sangat muda sekalipun, dari pada ayah harus melihat hal seperti ini pada anak-anak ayah."
"Masih mending kamu melakukannya diruangan terbuka seperti tadi, bagaimana kalau kamu melakukannya ditempat tertutup, ayah yakin kamu nggak akan sanggup melawan untuk tidak meneruskan ke hal lain yang akan membuat kamu cukup puas."
"Tapi yah aku__"
"Maaf yah."
"Sudah berapa lama kamu kenal gadis itu?"
"Tiga bulan yah."
"Kamu serius sama dia, atau hanya main-main seperti yang sudah-sudah."
__ADS_1
"Kali ini serius yah."
"Kamu mencintai dia?"
"Iya yah."
"Kalau begitu ajaklah pacarmu menikah, ayah dan bunda akan merasa lebih tenang jika seperti itu saja."
"Bagaimana dengan kedua orang tuanya, mereka tahu kalian berpacaran?"
"T-tahu yah."
"Baiklah, sekarang kamu tidur, ini sudah hampir larut malam."
"Iya yah."
Ando menghela nafas beratnya, menatap punggung Satria yang perlahan menghilang dibalik pintu, ada rasa tak tega usai memarahi putranya tadi, namun sebagai seorang ayah ia harus cukup tegas dalam mendidiknya.
Terlebih Satria memang memiliki sikap yang berbeda dari anak-anaknya yang lain.
Sementara dikamarnya Satria sedikit cemas memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, memikirkan bagaimana dengan kedua orang tua Stela, memikirkan cara agar Stela mau menikah dengannya, yang bahkan pernah menolaknya beberapa kali.
"Ribet juga hidup gue." gumamnya, seraya mengusap wajah frustasi.
__ADS_1
*
*