
"Tapi om, saya tidak memacari keduanya secara bersamaan, saya kenal Nira dua tahun yang lalu, bahkan kita pacaran hanya seminggu."
"Tapi sama aja kan kalau kamu pernah memacari keduanya."
"Saya tahu om, saya salah! masa muda saya dihabiskan dengan sesuatu yang tidak berguna, saya memacari semua gadis yang menyatakan cintanya pada saya, tapi kali ini saya benar-benar serius om, saya serius sama Stela putri om."
"Serius untuk memacari putri saya, begitu?" ujar Adrian dengan wajah datar.
"Bukan om, kalau om mengijinkan! saya akan menikahi Stela secepatnya."
Deg!
Adrian tertegun mendengar ucapan Satria, serta sedikit kaget dengan sikap berani pemuda tersebut.
"Kamu masih terlalu polos dan muda, saya yakin kata-kata kamu ini hanya berlaku sementara, saya tahu anak seusia kamu ini masih sangat labil."
"Apa om perlu bukti, kalau saya ini serius dengan ucapan saya?"
"Coba saja buktikan, saya mau lihat seberapa serius kamu terhadap anak saya."
"Baik om."
__ADS_1
*
*
Langit malam, yang berhiaskan beribu bintang dengan cahaya yang cukup terang, menjadikan malam ini terasa begitu indah.
Mutia menengadah menatap hiasan langit tersebut dengan senyum merekah, sementara Satya yang berada di sampingnya tak berhenti menatap wajah sang istri dari samping tanpa Mutia sadari.
Karena bagi Satya tidak ada yang lebih indah selain wajah manis Mutia yang sedang tersenyum.
Keduanya kini tengah berada dibalkon depan kamar, duduk berdua di sebuah kursi kayu panjang yang biasa Satya duduki saat santai atau bermain gitar sebelum menikah dulu.
"Sayang?" bisiknya, yang membuat Mutia repleks menoleh.
Deg!
Sementara Satya berdeham pelan, sedikit menarik tubuhnya memberi jarak diantara mereka.
"Maaf, aku_ aku nggak sengaja." ucapnya lirih, ia tidak mau membuat Mutia takut atau merasa telah memanfaatkan situasi.
Suasana mendadak hening, kecanggungan menghampiri keduanya.
__ADS_1
Baik Satya maupun Mutia tak berani untuk memulai kembali percakapannya, hingga suara dering yang berasal dari ponsel milik Satya membuat keduanya mendesah lega.
"Ada apa?" ucap Satya setelah telponnya tersambung.
"Lo lagi ngapain, sorry banget kalau gue ganggu, gue udah ketuk-ketuk pintu kamar lo tapi kagak di buka-buka, gue cuma mau ngambil gitar gue yang ketinggalan di kamar lo waktu itu." ujar si penelpon yang tak lain adalah Satria.
"Bentar." Satya mematikan telponnya, kemudian beranjak mengambil gitar dan memberikannya pada Satria.
"Nih gitarnya, makanya jangan ditinggal-tinggal dikamar gue." ujar Satya yang menyembul dibalik pintu kamarnya.
"Ck, ngapain lo lihatin gue kek gitu?" lanjut Satya ketus, saat Satria memperhatikan dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Udah berapa kali gol Sat, gimana rasanya?'' ucap Satria dengan suara berbisik.
"Kepo lo, lo kalau mau tahu rasanya cepet married lah, pokoknya gue jamin lo bakalan nyesel kalau kagak buru-buru married, rasanya bikin candu woyy, dan bikin kagak mau berhenti." Satya balas berbisik, menampilkan senyum menyebalkan.
"Ajig, bkin badan gue gerah aja lo, mana gitarnya?" Satria menarik kasar gitarnya dari tangan Satya.
Sementara Satya hanya terkekeh memandangi punggung Satria yang perlahan menghilang.
"Gue aja belum ngerasain gimana rasanya Sat, lo udah nanya-nanya." gumam Satya seraya mengacak rambutnya.
__ADS_1
*