
"Nih!" Cantika memberikan selembar kertas kearah sang abang yang sudah rapi mengenakan celana jeans hitam dengan atasan kaos berwarna putih, serta jaket jeans hitam yang tersampir di bahu.
Ia tengah mengikatkan tali sepatu yang saat ini di kenakannya.
Bau parfum menguar dari tubuh pemuda yang merupakan kakaknya tersebut.
"Wangi banget bang, mau ketemu cewek ya?" ujar Cantika polos, seraya kembali mengendus bau parfum dari tubuh sang abang yang sudah begitu ia kenali.
"Ini wangi parfumnya, Tika kaya kenal deh bang." lanjut Cantika, gadis kecil yang merupakan adik kesayangannya itu memang tak pernah berhenti berbicara jika sang abang belum menjawab seluruh pertanyaannya.
"Diem deh dek, berisik banget anak kecil." mengacak rambut Cantika, hingga membuat gadis itu mendengus seraya menepis tangannya.
"Kebiasaan ih abang!" pekiknya kesal.
"Dibaca dulu itu kertasnya bang." lanjut Cantika saat melihat sang abang memasukan kertas tersebut kedalam saku celananya.
"Entar aja dek, abang lagi buru-buru nih."
"Ihs, awas aja kalau lupa, entar pulang-pulang di marahin bunda." teriak Cantika, karena sang abang sudah melesat pergi, tanpa menghiraukannya.
*
Sebelum berangkat ke tempat yang akan ditujunya malam ini, Satria mengarahkan motornya kerumah Stela terlebih dahulu untuk menjemput gadisnya.
Tidak masuk sekolah, ditambah dengan nomornya yang tidak aktif seharian membuat perasaan Satria diliputi kekhawatiran yang berkepanjangan.
Dan satu-satunya cara untuk mengobati rasa khawatirnya adalah dengan menemui gadisnya secara langsung.
Motor yang ditumpangi Satria berhenti tepat didepan rumah Stela, mengerutkan kening saat pintu gerbang serta pintu rumah Stela yang tampak terbuka lebar.
"Den Satria ya?" ujar mang Rahmat yang akhir-akhir ini sudah pernah bertemu dengannya beberapa kali.
"Eh iya mang, Stelanya ada?"
"Ada den, kebetulan non Stela baru aja pulang."
__ADS_1
"Pulang? pulang dari mana mang?" tanyanya, mengerutkan kening, sambil menebak-nebak kemana seharian ini gadisnya pergi, dan tak sempat memberi kabar kepadanya.
"Katanya non Stela abis beli ponsel baru den."
"Ponsel? memangnya ponsel Stela kenapa, perasaan masih baru kan mang?"
"Iya den, masih baru memang, tapi gara-gara keributan yang terjadi semalam ponsel non Stela jadi rusak!"
"Ribut, sama siapa mang?" tanyanya mulai panik.
"Sama kakaknya, mbak Nira."
Deg!
"Kok bisa sih mang?"
"Entahlah den, dari non Stela kecil rumah ini selalu dijadikan tempat ribut terus, dimulai dari tuan dan nyonya, ditambah lagi sama kakak tirinya itu, kadang saya bingung dengan mereka, dan saya juga kasihan sama non Stela, tapi saya juga nggak bisa berbuat apa-apa den, saya sadar diri siapa saya." jelas mang Rahmat.
Bagi mang Rahmat sendiri dengan menceritakan kisah hidup majikannya memang terdengar tidak sopan, namun semakin hari ia tidak tahan melihat keadaan majikan mudanya yang selalu menjadi korban.
"Iya den, silahkan!"
Satria berjalan dengan sedikit tergesa-gesa memasuki rumah Stela yang pintunya memang sudah terbuka lebar.
Mendesah lega saat mendapati gadisnya tengah duduk di sofa yang terletak diruang depan, gadis itu tampak sangat fokus nengetikan sesuatu di layar ponsel barunya, hingga tak menyadari kedatangan Satria yang kini sudah berada di sampingnya.
"Yang?"
"Yaaannng?"
Untuk yang kedua kalinya ia memanggil Stela dengan suara yang lebih keras, membuat gadis yang tengah fokus memainkan ponsel barunya tersebut terlonjak kaget, kemudian repleks berdiri.
"S-sat, kok d-disini?" tanyanya dengan nada sedikit tergagap.
"Menurut kamu kenapa?"
__ADS_1
"S-sat, itu_ aku, aku minta maaf ya hari ini nggak masuk sekolah, nggak ngabarin kamu juga, maaf!"
Satria menggeleng, "Nggak apa-apa, kalau kamu capek, kalau kamu pusing, kamu memang lebih baik istirahat, aku kesini cuma mau ngajak kamu nonton konser di depan rumah juragan Kardun yang ada diujung jalan." ujar Satria berusaha terlihat tenang didepan Stela.
Ia sudah tahu semuanya dari mang Rahmat, alasan Stela tidak masuk sekolah maupun tidak menghubunginya seharian ini.
Jadi ia rasa, ia tak perlu lagi bertanya kenapa dengan Stelanya hari ini.
*
"Siap?" ujar Satria saat keduanya kini sudah berada diatas motor Satria yang siap melesat menuju ke tempat tujuan.
"Pegangan yang, nanti kamu jatuh! orang bilang jatuh dari motor nggak seindah saat jatuh cinta yang." ujar Satria yang kemudian tergelak sendiri.
Sementara Stela hanya mengulum senyum, menuruti kemauan laki-laki dihadapannya untuk berpegangan dengan cara memeluknya.
"Yang?"
"Hmmm."
"Kamu ngerasain sesuatu nggak?"
"Apa?" tanya Stela setengah berteriak, untuk mengalahkan suara angin yang berhembus cukup kencang.
"Pelukan di motor aja rasanya udah begini yang, apa lagi kalau di kasur kali ya."
"Apa?! kamu ngomong apa Sat, aku nggak denger!" Lagi-lagi Stela berteriak.
"Pelukan diatas kasur lebih enak yang."
"Apa sih, kamu ngomong apa, aku nggak denger!" suara bising yang berasal dari deru mesin kendaraan yang lain serta hembusan angin yang semakin kencang membuat Stela tak mampu mendengar dengan jelas ucapan Satria.
"Nggak apa-apa yang, lebih baik kamu nggak denger, entar aja kalau udah nikah di praktekin langsung." gumamnya terkekeh sendiri, sambil membayangkan yang iya-iya.
*
__ADS_1
*