Pesona Twins S

Pesona Twins S
Terlalu Senang


__ADS_3

"Kak?" Mutia berusaha mendorong tubuh laki-laki yang kini sudah resmi berstatus sebagai pacarnya itu.


"Aku seneng banget sumpah! makasih ya, udah ngasih aku kesempatan, aku janji aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu."


"I-iya kak, tapi lepas dong kak, nggak enak ini lagi dirumah sakit." bisik Mutia.


"So-sorry, aku terlalu seneng." melepas pelukannya, dengan senyuman yang tak kunjung hilang, bahkan ia tak berhenti untuk tersenyum.


"Kak Satya senyum-senyum mulu sih?"


"Gimana nggak senyum-senyum, lagi seneng kok."


"Masa sih seseneng itu?"


"Emang kamu nggak seneng?" tanyanya, dengan senyuman yang pudar seketika, membuat Mutia meringis bingung.


"I-iya se-seneng kok."


Satya mendaratkan bokongnya duduk disamping Mutia, menunduk lesu, menghela nafas cukup dalam, menoleh menatap gadisnya.


"Maafin aku ya, mungkin aku terlalu terburu-buru."


"Nggak, maaf maksud aku bukan gitu." ucap Mutia merasa bersalah.


"Aku ngerti kok."


"Kalau gitu, aku nganterin bunda dulu ya, nanti aku balik lagi, please kamu jangan kemana-mana ya." mengusap kepala Mutia, kemudian melangkahkan kakinya menuju keberadaan sang bunda.


"Hai bund."

__ADS_1


"Aduh, aduh! apa-apaan ini, kamu dateng-dateng langsung nyiumin bunda begini." Nada menatap putra ketiganya itu dengan tatapan curiga.


"Lagi seneng aja."


"Dih, senyum-senyum lagi, abis ketemu siapa sih?" tanyanya, sembari celingukan menoleh ke kiri dan kekanan, dan juga ke belakang tubuh Satya, namun tak menemukan siapapun disana.


"Nyari apa sih bun?" tanyanya sembari mengikuti arah tatapan sang bunda.


"Itu, nyari temen kamu, bunda kira ikut kesini?"


"Dia kan lagi sakit, tadi pagi abis kecelakaan."


"Ih serius, kasian banget! siapa sih, Arkan apa si Sam yang kecelakaan?" tanyanya, karena Nada sudah mengenal sangat baik kedua sahabat putra gantengnya itu.


"Bukan dua-duanya bun."


"Lah, terus yang mana dong, bukannya kamu cuma punya dua sahabat, kok bunda nggak tahu sih kalau ada sahabat kamu yang lain."


"Tuh kan senyum-senyum lagi, kenapa sih?"


"Yang ini beda bun."


"Beda gimana, bukan manusia apa gimana?" tanyanya penasaran.


"Ck, bunda ih! masa iya, anak seganteng ini temenan sama mahluk halus."


"Abisnya kamu nggak jelas sih."


"Maksud aku, bedanya yang satu ini mungkin bakalan jadi sahabat seumur hidup."

__ADS_1


"Hah?" Ibu dari empat anak itu mendadak bengong, mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh salah satu putra kembarnya tersebut.


"Mau kemana?" saat tersadar kembali ia bergegas mengejar langkah Satya yang melenggang hendak memasuki ruang bersalin tempat kakak iparnya berada.


"Mau lihat bayi lah bun."


"Bunda belum selesai ngomong lho tadi, kamu main pergi gitu aja, mau kualat?"


"Eh, aku pikir udah selesai bun." Satya menggandeng tangan sang bunda mengajak nya untuk kembali duduk di kursi besi yang berada diruang tunggu.


"Jadi maksud ucapan kamu tadi apa?"


"Yang mana?"


"Satyaaaa!" ucap Nada nyaris berteriak, membuat Satya repleks menoleh ke kiri dan kekanan, untuk memastikan bahwa disekitar sana tidak ada siapapun.


"Iya, iya bun! jadi gini, euhmmz." Satya berdeham pelan, dengan perasaan yang berubah gugup.


"Sat?" menyentuh bahu Satya karena anak laki-lakinya itu tak kunjung melanjutkan ucapannya.


"Kamu mau ngomong apa sih Sat, kaya yang serius gitu, kamu ada masalah.?"


"Iya bun aku lagi ada masalah." jawabnya lirih.


"Masalah apa, ih serius dong, jangan bikin bunda khawatir."


"Masalahnya, a-aku_ aku_ pengen nikah bun."


"Hah?" Nada menutup mulutnya tak percaya.

__ADS_1


*


*


__ADS_2