Pesona Twins S

Pesona Twins S
Berdebar 2


__ADS_3

Mutia menggeliat pelan saat merasakan sebuah tangan kekar menimpa tubuhnya, kemudian ia mengerjapkan matanya secara perlahan, menoleh kesamping dimana sang suami yang masih tertidur pulas, dengan sebelah tangan yang memeluk tubuhnya.


Deg!


Wajah Mutia mendadak merona ketika ia mengingat kejadian tadi malam, yang bahkan membuatnya hanya bisa tidur tidak lebih dari dua jam.


Dimana ketika dirinya yang hampir kewalahan mengimbangi permainan suaminya yang mirip seperti singa yang tengah kelaparan.


Tak menyangka jika Satya sang suami yang ia kenal begitu lembut dan kalem, tiba-tiba tadi malam berubah beringas dan tak sabaran.


Dengan hati-hati Mutia menggeser tangan Satya, menyibak selimut, dan ia tertegun sebentar menyaksikan tubuhnya sendiri yang masih polos tanpa sehelai benang pun yang tersisa.


Melirik suaminya yang masih memejamkan mata, dan dirasa ia memang masih tidur buru-buru Mutia menurunkan kakinya mengambil bajunya yang teronggok dilantai, kemudian memasuki kamar mandi dengan tertatih-tatih.


Sesekali ia meringis merasakan sesuatu dibagian inti tubuhnya yang terasa perih dan ngilu.


Saat bercermin didalam kamar mandi yang memperlihatkan bagian tubuh atasnya, Mutia hampir saja menjerit, namun buru-buru menutup mulutnya khawatir jika Satya sang suami akan bangun lebih cepat jika mendengar teriakannya.


"Yaampun kak Satya." gumamnya, menatap geli bagian tubuh atasnya yang dipenuhi bekas gigitan berwarna merah kebiru-biruan.


Tak ingin terus menatap tubuhnya yang terlihat menggelikan tersebut, ia pun bergegas mandi dan memakai pakaian yang semalam ia kenakan.

__ADS_1


Saat ia keluar, dilihatnya Satya tengah bersandar memijat kepalanya, menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi yang ditutup.


Tersenyum, seraya menepuk tempat tidur disebelahnya, yang mengisyaratkan agar sang istri mendekat dan duduk di sampingnya.


Mau tak mau Mutia pun melangkah mendekatinya dengan wajah menunduk, seraya memilin ujung baju yang dikenakannya.


"Pagi sayang?" ucapnya, dan dengan sekali tarikan tubuh Mutia jatuh terjerembab kepangkuannya.


"Kak?" protes Mutia saat Satya mulai menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mutia, hingga ia dapat merasakan hembusan nafas Satya yang terasa hangat menerpa kulitnya, bahkan dengan santainya laki-laki yang berstatus sebagai suami sesungguhnya sejak tadi malam itu menggesek-gesekan hidungnya di leher Mutia.


"Kamu kok udah mandi sih?" tanyanya menatap Mutia dengan raut wajah yang terlihat kecewa.


"Emangnya kenapa, ini udah mau pagi kok."


Deg!


Wajah Mutia mendadak panas, dengan debaran jantung yang berdetak tak menentu, baru saja ia mau melupakan kejadian tadi malam, namun sang suami justru dengan santai membahasnya.


"Gimana, boleh nggak?" sebelah tangannya sudah bergerak kemana-mana.


"Euhmz itu_ ini- ini masih sakit kak." jawabnya lirih, seraya menggigit bibir bawahnya menahan malu.

__ADS_1


Sementara Satya terdiam sebentar, kemudian menghela nafas pelan menatap istrinya.


"Yaudah, kita lanjut nanti malam aja, sekarang aku mau mandi dulu." ucapnya, seraya beranjak menuju kamar mandi dengan tubuh yang hanya mengenakan boxer.


Cukup lama Satya berada di kamar mandi, bahkan sudah terhitung tiga puluh lima menit lamanya sejak laki-laki itu memasuki kamar mandi.


Membuat Mutia sedikit khawatir dan kebingungan, khawatir jika Satya marah karena telah menolaknya, kemudian bingung dengan apa yang dilakukan suaminya berada dikamar mandi selama itu.


Saat pintu terbuka, cepat-cepat Mutia menoleh, kearah pintu kamar mandi yang menampilkan sang suami yang terlihat segar sehabis mandi.


Tanpa sadar ia terus memandangi wajah sang suami yang tengah tersenyum kepadanya.


Entah mengapa dalam pandangan Mutia pagi ini laki-laki yang semalam telah mengambil sesuatu berharga miliknya itu, kini terlihat berkali lipat lebih tampan dari biasanya.


Dada putih yang terekpos bebas itu terlihat menggiurkan seiring dengan jatuhnya tetesan air yang berasal dari ujung rambutnya yang basah.


Kemudian ia mendadak gugup saat pandangannya berhenti pada bagian bawah tubuh Satria yang hanya terbalut handuk sebatas pinggang hingga lutut.


Terlebih dibagian tersebut sangat kentara dengan sesuatu yang bergerak pelan, dan ia masih mengingat dengan jelas seperti apa bentuk serta ukurannya.


Arrggh.. ia menggeleng pelan, demi menghilangkan pikiran anehnya itu, ingin melupakan tapi tak mampu, justru semakin membayang-bayanginya hingga kini.

__ADS_1


*


*


__ADS_2