Pesona Twins S

Pesona Twins S
Baikan


__ADS_3

Satria menggenggam kedua tangan Stela yang melingkar di perutnya, kemudian ia membalikan tubuh menatap penuh cinta wajah gadisnya.


Senyum indah terbit dari bibir Satria, wajah yang semula kusut bagaikan benang tanpa sepul itu kini terlihat berseri-seri.


"Kita nggak jadi putus kan yang?" ucapnya dengan senyuman yang tak kunjung pudar.


Sementara Stela memalingkan wajah dengan bibir yang sedikit mengerucut. "Tergantung!"


"Tergantung gimana?"


Stela mengangkat kedua bahunya, melangkah kembali menuju gazebo yang semula mereka duduki.


"Eh yang, maksudnya gimana?" Satria berusaha mengejar dibelakangnya, hingga ia dapat mengimbangi langkah Stela, kemudian keduanya duduk di gazebo.


"Yang?"


Plakkk..!!


"Kok di pukul sih yang?" Satria menyentuh dadanya yang terasa sedikit nyeri sesaat setelah Stela memukulnya.


"Biarin, siapa suruh ngeselin! kamu tahu nggak sih, beberapa hari ini aku kesel banget sama kamu, rasanya aku sampe pengen nangis tiap hari kamu cuekin, kamu sengaja ngobrol sama Tiara didepan aku beberapa kali, handphone kamu juga nggak aktif." Cerocos Stela seraya memukuli kembali dada Satria.


"Kamu juga nggak pernah ngasih aku kesempatan buat ngomong, selain itu kamu juga nggak jelasin kesalahan aku dimana, sampai kamu_"


"Maaf." potong Satria lirih, sembari menge cup jemari Stela satu persatu, tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Stela, membuat gadis tersebut terdiam, seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Sat?"

__ADS_1


"Hmmm."


"Ng-ngapain sih?" tanyanya gugup, saat Satria mulai menempelkan telapak tangannya di wajahnya.


"Tangan kamu lembut banget yang." ucapnya, kemudian memejamkan mata, hanya sebentar! karena detik berikutnya ia kembali membuka matanya saat tiba-tiba teringat sesuatu.


"Yang, jaket aku kemarin kok bisa di kamu?"


"Menurut kamu, siapa yang ninggalin sembarangan jaketnya di tukang bubur."


"K-kamu_ kamu kesana malem itu?" tanyanya setengah tak percaya, pasalnya ketika ia memutuskan pulang malam itu, jam sudah menunjukan jam sembilan malam.


"Emangnya kenapa?"


"Yang denger! kamu itu cewek, nggak baik keluar malem-malem."


Deg!


"Nanti kalau terjadi sesuatu gimana?" lanjutnya, ada nada khawatir dalam setiap kata yang ia ucapkan.


"Aku lagi bosen dirumah, apalagi setelah berusaha nelponin kamu beberapa kali, tapi hasilnya sama! nggak aktif."


"Maaf!" ungkapnya, dengan raut wajah bersalah.


"Ng-ngapain sih?" untuk yang kesekian kalinya Stela terlihat salah tingkah, saat Satria menatapnya tanpa berkedip.


"Kamu cantik."

__ADS_1


Deg!


Pujian tersebut memang bukan yang pertama, namun mampu membuat wajah Stela bersemu setiap kali Satria mengatakan dirinya cantik.


"Yang?"


Tangan yang sempat terlepas itu ia genggam kembali, Satria menunduk untuk menge cupnya berulang kali, "Aku harap setelah ini, nggak ada lagi masalah dalam hubungan kita yang."


"Kamu tahu betapa tersiksa nya aku, saat berusaha menghindarimu dua minggu ini, hatiku hampa yang, aku cuma bisa mandangin kamu dari jauh, diwaktu malam aku juga cuma bisa lihatin rumah kamu, numpang duduk di tukang bubur."


"Salah sendiri."


"Tapi kalau nggak gitu, kamu nggak akan pernah peduli sama aku yang."


Stela tertegun, selama ini Stela memang tidak pernah peduli dengan hubungannya maupun Satria, tak menyangka bahwa laki-laki yang berstatus pacarnya itu memiliki kepekaan yang tinggi.


Hari semakin malam, cuaca pun berubah semakin dingin, Stela yang hanya menggunakan piyama berlengan pendek itu pun mulai kedinginan, badannya sedikit menggigil.


"Badan kamu dingin yang." ucapnya, yang kemudian membuka jaket miliknya dan mengenakannya di tubuh Stela.


"Sat, kamu gimana?"


"Kalau deket kamu aku nggak pernah kedinginan, yang ada gerah terus." jawabnya tersenyum penuh arti.


*


*

__ADS_1


__ADS_2