Pesona Twins S

Pesona Twins S
Jalan berdua


__ADS_3

"Lho kok lewat sini?" protes Stela saat jalan yang dilewati Satria bukanlah jalan menuju rumah nya.


"Kita jalan-jalan sebentar ya."


"Tapi_"


"Please Ste, sebentar aja!" pinta Satria yang mendadak suaranya berubah menjadi lebih lembut, sementara Stela yang sudah merasa lelah karena pekerjaannya hari ini lebih banyak me milih mengalah, dan menurut.


"Ok tapi jangan macam-macam."


"Nggak kok, gue nggak akan macem-macem, kecuali lo yang izinin gue buat macem-macem."


"Ck!"


"Mau kemana sih sebenernya.?"


"Ada deh, nanti juga lo tahu sendiri."


*


"Ok, kita udah sampai!" ujar Satria seraya menepikan motor gedenya di sebuah parkiran khusus.


"Ini tempat apaan?" tanya Stela, sembari melihat-lihat kearah sekitar, disana terlihat ramai yang dipenuhi beberapa tenda para pedagang yang menjual berbagai macam model baju, sepatu, tas, makanan, dan sebagainya.


"Ini tempat wisata danau buatan, lo belum pernah kesini emang?" Satria melangkah terlebih dahulu, "Yuk kita nyari tempat duduk yang enak."

__ADS_1


"Awww!" pekik Stela, saat rombongan anak-anak yang diperkirakan usia sebelas tahunan, berlarian menuju gerobak yang menjual burger dengan bandrol seharga lima ribuan, yang tanpa mereka sadari telah membuat Stela jatuh terduduk.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Satria dengan nada khawatir, dan repleks memeriksa beberapa bagian tubuh Stela.


"Gue nggak apa-apa, cuma kaget aja."


"Bisa berdiri?" tanya nya yang langsung mendapat anggukan kecil dari Stela.


Satria pun membantu memapahnya menuju salah satu tempat duduk yang kosong dipinggir danau, meski Stela sudah menolaknya beberapa kali.


"Gue bilang gue nggak apa-apa."


"Gue yang takut lo kenapa-napa Ste, bisa nggak sih lo nurut sama gue sebentar aja."


"Lo tunggu disini bentar ya!"


"Yang jelas bukan mau ninggalin lo."


"Ck, udah pergi sana!" ucap Stela ketus, sementara Satria mengulum senyumnya, berjalan santai menuju sebuah warung yang menjual berbagai macam minuman dingin.


"Nih!" menyodorkan satu botol minuman dingin yang baru saja dibelinya.


"Tenang! nggak gue kasih jampi-jampi kok, apalagi racun! kalau suatu saat lo tergila-gila sama gue itu bukan karena jampi-jampi yang gue masukin ke minuman itu, tapi karena gue yakin, gue layak dicintai." ujar Satria saat melihat raut wajah Stela yang terlihat ragu saat menerima minuman yang di berikan olehnya.


"Dasar, playboy!" gumam Stela lirih.

__ADS_1


"Itu dulu Ste, sumpah! sekarang gue mau berubah, gue mau serius! gue siap kok kalau disuruh nikahin lo sekarang juga." ujar Satria yang sontak membuat Stela hampir tersedak.


"Lo gila ya, omongan lo lama-lama jadi ngelantur sih, sadar nggak sih lo itu masih sekolah."


"Salahnya dimana, gue juga ngomong gini atas kesadaran yang penuh, emangnya kalau nikah muda apa salahnya coba, bokap sama abang gue juga dulu nikah muda."


"Elo nggak ngerti sat.''


"Apanya, gue bisa kok jadi cowok yang tanggung jawab, gue bisa kerja, gue bisa kasih lo nafkah lahir batin."


"Menikah itu bukan cuma soal nafkah aja, ada banyak hal lain yang harus dipahami, gue nggak mau seperti mereka_" ujar Stela dengan tatapan lurus kedepan, dan dari nada bicaranya Satria dapat menebak, ada begitu banyak permasalahan yang gadis itu pikul sendiri dalam hidupnya.


"Ste_"


"Kedua orang tua gue bercerai."


"Ste_"


"Dan lo tahu, semenjak mereka bercerai gue ngerasa bahwa gue udah nggak lagi diinginkan, gue seperti sampah yang terbuang gitu aja."


"Bokap gue udah punya kehidupan barunya, sementara nyokap gue sibuk dengan dunianya sendiri." ungkap Stela sendu.


"Lo boleh ungkapin apapun yang akan membuat perasaan lo lebih lega."


.

__ADS_1


.


__ADS_2