
"Terserah lo mau ngomong apa."
"Minggir! gue mau balik."
"Nggak mau."
"Tiara lo_" ucapannya terhenti saat seseorang yang ia tunggu sejak tadi melewatinya seolah tak menyadari keberadaannya. repleks Satria pun berlari untuk mengejar nya.
"Stela tunggu,"
"Lepasin!" bentaknya, yang membuat Satria terlonjak kaget.
"Ste, k-kenapa?" tanyanya dengan wajah memerah, bentakan Stela membuat hatinya begitu sakit, karena ini merupakan untuk yang kesekian kalinya ia mendapatkan penolakan dari gadis yang benar-benar dicintainya itu.
"Dengar! gue nggak suka sama cowok yang kasar sama pacarnya sendiri." ucap Stela, yang kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.
"Ste, tunggu! maksud lo pacar siapa, lo salah paham!" Satria berusaha mengejar langkah Stela, yang terkesan terburu-buru.
"Masih mau ngelak?"
"Gue nggak ngelak Ste, sumpah! dia cuma mantan nggak lebih."
"Nggak lebih lo bilang."
"Tapi itu kenyataannya, dan dari awal juga gue nggak cinta sama dia."
"Kenapa ya kebanyakan cowok ngomong nggak cinta setelah mereka putus, aneh nggak sih?"
"Tapi itu faktanya."
"Terserah lo mau ngelak sampai mana, gue nggak peduli, lagi pula kita nggak ada hubungan apa-apa kan, jadi terserah lo mau gimana pun, gue beneran nggak peduli."
"Jadi secara langsung lo nolak gue Ste, gue harus apa biar lo percaya bahwa kali ini gue benar-benar tulus, gue nggak mau punya cewek lain lagi selain lo." ujarnya, dengan mata mengembun.
"Tunggu Ste, lo mau bukti kan?" Satria melompat ketengah jalan raya yang bertepatan didepan gerbang sekolahnya, dan saat itu sebuah mobil berwarna silver sedang melaju dengan kencangnya, membuat Stela menjerit.
__ADS_1
"Satriaaaa!"
Ckitttt..
Baik Stela maupun Satria sama-sama memejamkan matanya, dan secara perlahan kedua kelopak mata Satria kembali terbuka saat ia tidak merasakan apapun dengan tubuhnya.
"Woyy, cari mati lo?" teriak seseorang yang menyembul dari kaca mobil, terlihat geram menatap Satria, rupanya pemilik mobil tersebut masih sempat mengerem mobilnya hingga tidak mengenai tubuh Satria.
"Anak brandal." lanjut pemilik mobil tersebut, yang kemudian melaju kan mobilnya kembali.
"Lo apa-apaan sih, lo udah gila!" Stela memukuli tubuh Satria dengan perasaan kesal, sementara Satria membiarkannya begitu saja hingga gadis itu berhenti memukulinya setelah merasa lelah dengan sendirinya.
"Kalau terjadi apa-apa sama lo gimana, lo nggak mikirin gimana perasaan orang tua lo dirumah." bentak Stela dengan mata berkaca-kaca.
"Lo peduli sama gue?"
"Nggak."
"Ste,?"
"Apa." jawabnya ketus.
"Nggak butuh rayuan."
"Jadi, serius lo peduli sama gue Ste?" tanyanya dengan tatapan dalam dan lembut.
"Nggak."
"Kalau gitu gue boleh minta tolong nggak?"
"Apa?"
"Tolong bunuh gue!"
"Lo gila!" pekik Stela.
__ADS_1
"Lebih baik gue mati kalau nggak bisa hidup tanpa lo Ste, lo bener! gue gila, gila karena lo!"
"Sat?"
"Ste, kasih gue kesempatan." ujarnya yang kemudian berlutut dihadapan Stela, dengan wajah putus asa, sama sekali tak mempedulikan keadaan sekitar, tak peduli lagi dengan kepribadiannya yang dianggap sebagai cowok cool dan bermartabat disekolah.
Tak perduli lagi dengan tatapan para murid perempuan yang menatapnya penuh tanya.
"Bangun Sat, jangan kaya gini dong malu dilihatin orang." bisik Stela, namun tak digubrisnya, membuat Stela akhirnya memilih pergi.
*
*
"Ngapa tuh muka lecek banget! udah kaya keset yang kagak dicuci satu abad." celetuk Satya, yang juga baru sampai dirumah sepulang sekolah siang ini.
Keadaan Satria saat ini memang benar-benar terlihat sangat kacau, rambut yang selalu tertata rapih itu kini justru terlihat sangat berantakan, dasi yang selalu melekat dileher kini berpindah menjadi tersampir dibahu.
Begitupun dengan seragam sekolahnya yang terlihat kotor dengan kedua kancing baju yang terbuka dibagian atasnya.
"Lo ngapa dah Sat, abis sekolah apa abis nyangkul sih?"
"Abis guling-guling dicomberan, puas lo!"
"Lah ngambek bocah!"
"Gue beneran di tolak Sat." bergerak memeluk tubuh Satya yang seketika membuat tubuh saudaranya itu menegang.
"Tolongin gue, hati gue perih Sat, hancur banget rasanya."
"Mungkin ini udah saatnya kali Sat."
"Maksud lo apaan?" repleks Satria melepaskan pelukannya dari tubuh Satya.
"Karma! iya, lo kena Karma."
__ADS_1
.
.