
"Cape?" tanya Mutia, sembari mengelus kepala Satya yang kini berada di pangkuannya.
"Lumayan yang, cape banget!" keluhnya, sembari menciumi sebelah tangan Mutia yang sejak tadi digenggamnya.
"Minum obat mau?" tawarnya, yang dijawab spontan Satya dengan gelengan kepala.
"Terus maunya gimana?"
"Kamu."
"Ihs kak__"
"Seriusan,! yang satu ini bisa bikin capeku hilang." bisiknya, seraya mengungkung tubuh mungil Mutia dibawahnya, kemudian menyambar bibir merekah istrinya dengan luapan rindu.
Beberapa hari tak menyentuhnya membuat perasaan Satya begitu menggebu, menuntaskan hasrat yang kian tertahan.
Menjadi Maba dikampus yang akan menjadi tempatnya menyambung ilmu, benar-benar menguras waktunya beberapa hari ini, hingga ia tak sempat menghabiskan waktunya bersama sang istri tercinta, terutama diatas ranjang.
*
Dikamar yang berbeda, sepasang manusia saling tatap setelah melewati olahraga malamnya yang berlangsung beberapa menit yang lalu.
"Katanya cape, tapi__" tak melanjutkan kata-katanya Stela memilih mengerucutkan bibirnya kesal menatap sang suami.
"Yang satu ini nggak ada cape-capenya yang, sampai pagi pun Abang sanggup kok." bisiknya, dengan tatapan menggoda, membuat Stela mendelik memalingkan wajah dengan senyum di ku lum.
Memukul pelan tangan suaminya, "Me*sum!"
"Sama istri sendiri lho yang, bukan sama penjaga warteg yang ada dibelokan." Satria terkekeh pelan.
__ADS_1
"Awas aja kalau berani."
"Nggak sama sekali, kalau yang dirumah bisa muasin kenapa musti nyari yang lain, iya nggak yang.?"
"CK, ihs! udah ah aku mau tidur."
"Yang, sekali lagi napa yang, jangan tidur dulu."
"Nggak ada."
"Kamu tega sama aku?"
"Biarin."
Merasa gemas, Satria pun menarik selimut yang dikenakan Stela hanya dengan satu kali tarikan, hingga tubuh polos itu terpampang jelas dihadapannya.
"Satria!" ucap Stela, nyaris berteriak.
"Nggak."
"Kalau begitu, malam ini bukan hanya akan terjadi sekali lagi, tapi benar-benar nyampe pagi."
"Sat_" ucapan Stela tenggelam, saat bibir Satria me ***** bibirnya dengan penuh na*fsu, dan semakin memperdalamnya ketika mulai terdengar lenguhan kecil dari bibir istrinya.
Dan di menit berikutnya tubuh mereka kembali menyatu, hingga keduanya merasa kelelahan setelah mencapai puncak kenikmatan untuk yang kesekian kalinya.
"Makasih sayang." seperti biasa usai melakukan kegiatan panasnya Satria akan mencium dahi sang istri serta mengucapkan ucapan terimakasih yang terdengar tulus.
"Maaf ya yang, kita belum bisa ngadain resepsi pernikahan kita karena Mutia belum lulus sekolah, tahu sendiri kan bunda maunya acara resepsinya dibarengin."
__ADS_1
"Soal itu aku nggak masalah Sat_"
"Abang yang! atau kamu sengaja ya, biar kita bisa ngulangin yang barusan, ayok siapa takut!" ucapnya, yang membuat Stela melebarkan matanya seketika, saat Satria kembali hendak menindihnya.
Mau seperti apa jadinya jika ia terus-terusan digempur Satria malam ini, sementara tubuhnya sudah kelelahan setelah mengikuti kegiatan di kampus tadi siang.
"Eng.. iya Abang,"
"Gitu dong, aku seneng dengernya." menge cup bibir Stela singkat, kemudian kembali ke posisi semula, bersender dipapan ranjang.
"Jadi kamu nggak keberatan yang, setahun lagi lho."
"Sama sekali nggak."
"Tapi itu tandanya, kamu nggak akan ketemu mama kamu selama setahun penuh ini, dulu kan sebelum dia kembali ke Bandung, dia bilang nggak akan pernah datang kesini, kecuali jika ada acara resepsi pernikahan kita."
"Sat, eh_ abang, aku sama sekali nggak masalah dengan hal itu, aku juga udah terbiasa tanpa mama, aku udah nggak mau lagi menuntut banyak hal dari mama."
"Kamu yakin?" tanyanya memastikan.
"Iya."
*
*
Tinggal beberapa chapter lagi cerita ini akan segera End ya☺️☺️
*
__ADS_1
*