Pesona Twins S

Pesona Twins S
Menasehati


__ADS_3

"Eh abang kok udah nyampe, cepet banget!" ujar Cantika sedikit kaget ketika melihat sang abang sudah berada didepan kostan milik guru les nya, padahal belum ada lima menit sejak ia mengirimkan pesan untuk menjemputnya sore ini.


Satya tersenyum lembut, "Iya dong, kasihan kan kalau abang telat kamu jadi lama nunggu, terus berakhir kena omelan bunda deh." jawabnya masih dengan senyum manisnya.


"Oh iya kak Mutia nya kemana, kok nggak kelihatan dek?" tanyanya celingukan menoleh kearah kostan.


"Lagi nyimpen buku kedalem, tapi Tika udah pamitan kok, jadi kita bisa langsung pulang aja." jawabnya sembari mencangklong tas punggung warna pink nya, dan bergegas menghampiri Satya.


"Tunggu dulu deh kakak nggak enak, main pergi gitu aja."


"Ck alasan! bilang aja pengen lihat kak Mutia kan, secara dia cantik banget, hayo ngaku! abang suka kan sama kak Mutia?'' tuduhnya, yang membuat sang abang gelagapan.


Menarik ujung hidung Cantika, serta menyentil keningnya pelan, " Pelajaran buat anak kecil yang suka sok tahu!" ujar nya, ketika melihat sang adik hendak protes dengan tindakannya itu.


"Ihs, Tika udah gede tahu, bentar lagi lulus SMP lho." balasnya tak terima.


"Iya masih kecil."


"Ck, abang nyebelin!"

__ADS_1


"Tika udah mau pulang ya?" ujar seseorang yang membuat perdebatan kedua adik kakak itu berhenti seketika.


Menoleh kearah suara.


"Iya kak, Tika pamit ya!" sahut Cantika, sementara Satya tersenyum kaku, dan bergegas melajukan motornya tanpa sanggup menatap Mutia lebih lama lagi.


*


*


"Gimana Sat, tadi udah ke Cafe?" ujar Nada, ketika mereka tengah berkumpul di meja makan untuk makan malam, malam ini.


"Loyo banget, berapa hari kamu nggak makan Sat?" Ando ikut berbicara yang disertai kekehan kecil.


"Seminggu kayak nya yah." kini giliran Cantika yang menyahut.


"Gimana kamu udah tahu kan apa yang harus kamu lakukan Disana,?" lanjut Nada.


"Nggak tahu bund, Satria nggak ngerti yang begituan, kenapa nggak si Satya aja yang pegang semuanya sih!"

__ADS_1


"Ok nggak masalah Satya yang pegang semuanya, tapi apa kamu nggak masalah juga kalau kamu kehilangan uang jajan juga."


"Ck, kok gitu sih bun?" protes nya dan hendak beranjak dari duduknya.


"Nggak usah protes dulu, duduk!" tegasnya dengan nada penuh perintah.


"Kamu udah waktunya belajar dewasa Sat, udah waktunya belajar menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab, kamu tahu Ayah, bang El, dan Satya itu sudah mulai bekerja sejak muda, dan kamu harus tahu Satu hal, bunda berbicara seperti ini bukan karena bunda tak mampu memberikan apapun yang kamu mau, tapi ini merupakan salah Satu bukti rasa sayang bunda sama kamu.''


"Supaya apa, supaya kamu menjadi laki-laki yang sukses! kamu tahu Sat, cerita kehidupan itu tidak bisa di tebak, bisa saja kan keadaan berubah sewaktu-waktu, tiba-tiba kamu menemukan seorang gadis yang begitu kamu cintai, dan kamu berniat menikahinya dalam waktu dekat, lalu ketika kamu sudah menikah, kamu sama sekali belum mengerti apa itu pekerjaan, apa itu tanggung jawab seorang suami, apa menurut kamu istri kamu akan diam saja."


"Bund?"


"Ingat ucapan bunda ini baik-baik."


"Iya bund." jawab Satria pada akhirnya, ia memang sedikit nakal, namun ia paling tidak bisa jika tidak menuruti ucapan Nada, terlebih jika sang bunda terlihat mulai emosi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2