
"Kita ulang lagi nanti malam." bisiknya, yang kemudian ngeloyor mengambil bajunya yang terletak didalam lemari.
Sementara Mutia yang baru saja tersadar dari lamunannya mendesah pelan dengan nafas tercekat, merutuki kebodohannya yang dengan tidak tahu malunya terus memikirkan sesuatu yang mereka lakukan tadi malam.
"Nggak usah dibayangin terus yang." Satya yang telah selesai mengenakan bajunya berjalan menghampiri Mutia dan memeluk nya dari belakang.
"Nyesel nggak?" bisiknya.
"M-maksud kakak a-apa?"
"Sama kejadian semalem.''
"M-maksudnya?" Mutia pura-pura tidak mengerti, padahal sudah jelas kejadian semalam yang dimaksud Satya adalah saat mereka melakukan hubungan layaknya suami istri pada umumnya.
Satya terkekeh, seraya menggit pelan ujung kuping Mutia gemas, "Malam pertama kita semalem."
"Ng- itu."
"Kamu nyesel yang?"
"Ng-nggak." jawab Mutia gugup bercampur malu.
"Tapi kok aku malah nyesel ya,?"
Ucapan terakhir Satya membuat Mutia terdiam, dan detik berikutnya ia melepaskan tautan tangan Satya yang membelit perutnya, kemudian ia membalikan tubuh hingga posisinya berhadapan langsung dengan Satya.
"M-maksud kakak?"
"Maksud apanya?" Satya mengerutkan kening bingung.
"Nyesel udah ngelakuin_"
"Nyesel karena nggak dari kemarin-kemarin aja ngelakuinnya." potong Satya dengan senyum di kulum.
"Kak?" rengeknya, seraya mencubit tangan Satya membuat sang pemiliknya tergelak.
__ADS_1
"Aku kedapur dulu ya, bantuin bunda masak, bunda bilang hari ini opa sama oma mau dateng."
"Kuat emang jalannya, udah nggak sakit?" tanyanya sembari memperhatikan tubuh Mutia dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Nggak! kak ihs, jangan ngelihatin kaya gitu." ucap Mutia salah tingkah terlebih saat melihat tatapan Satya yang mengarah pada bagian penting dirinya.
"Ngelihatin gimana.?" tersenyum dengan senyuman menggoda.
"Ihs."
Grep!
Satya menarik tubuh Mutia dan memepetkannya dengan tubuhnya.
"Ngelihatin yang kek gimana sayang, begini? apa begini?" Satya mendekatkan wajahnya dan sedikit memiringkannya hingga wajah keduanya hampir beradu, yang berakhir dengan sebuah ciuman panas.
"Kak_"
"Mau yang, boleh ya!" pintanya dengan wajah memerah menahan sesuatu.
"Jadi gue musti main solo lagi ini." gumamnya menunduk lesu, kemudian ngeloyor memasuki kamar mandi dengan langkah berat.
*
"Bunda mau masak apa?" tanya Mutia yang kini sudah berada di dapur.
Nada yang sedang mencuci beberapa macam sayuranpun menoleh, tersenyum saat melihat Mutia, gadis yang beberapa hari ini telah menjadi menantu sekaligus ia anggap sebagai putrinya sendiri.
"Lumayan banyak, soalnya bang El sama kak Kinar juga mau kesini, bawa Gala sama si kembar juga."
"Wah seru dong bun."
Nada kembali tersenyum, "Iya, rame kalau ada mereka, lebih rame kalau suamimu, Satria sama bang El ketemu, ribut terus!"
"Masa sih bun?"
__ADS_1
"Iya, mereka itu kaya perpaduan dari tiga kucing jantan yang memperebutkan satu kucing betina, ribut mulu."
"Bisa gitu ya bun." Mutia ikut terkekeh, sementara tangannya bergerak mengambil bawang merah dan bawang putih, kemudian mengupas nya tanpa diminta.
"Iya kedengarannya aneh memang, tapi bunda tahu sih meskipun mereka tidak saling menunjukan rasa pedulinya, tetapi dalam hatinya mereka saling menyayangi satu sama lain."
"Oh iya, gimana Satya, masih cuek nggak, atau masih suka sibuk sendiri, mengabaikan kamu?" lanjut Nada.
"Eh_ euhmz itu, ng-nggak kok bun, kak Satya lebih perhatian sekarang."
"Baguslah, bunda seneng dengernya kalau gitu, jadi kalian bisa secepatnya kasih bunda cucu." ujar Nada dengan santainya, sementara Mutia mendadak gugup.
"Tapi kalau Muti belum siap, jangan dulu, bunda nggak maksa kok, dan bunda yakin Satya juga bakalan ngerti, tapi saran bunda jangan KB ya, lakukan dengan cara kalian sendiri untuk mencegah agar tidak cepat hamil." jelas Nada.
"I-iya bun."
"Lagi pada ngobrolin apa sih, keknya seru banget!" Ucap seseorang yang baru saja tiba didapur, yang tak lain adalah Satya.
"Kepo kamu."
"Yah bunda kok gitu sih?"
"Kamu abis dapet apa Sat, mukanya bercahaya gitu?" ujar Nada menatap putranya yang terus tersenyum dengan wajah berseri-seri.
"Rahasia dong."
"Nggak perlu dikasih tahu, bunda juga tahu sih." kini gantian Nada yang senyum-senyum sendiri.
"Dih apa coba, bunda malah senyum-senyum gitu."
"Rahasia."
"Ck!"
*
__ADS_1
*