Pesona Twins S

Pesona Twins S
Sesuatu yang tak bisa dibeli


__ADS_3

Suara riuh rendah terdengar menggema didalam gedung yang menjadi tempat acara pertandingan basket berlangsung, kedua tim basket tampak masih bersemangat saling berebut bola untuk mendapatkan nilai paling unggul, seolah tidak ingin salah satu dari tim keduanya terkalahkan.


Puluhan penonton tampak antusias, berteriak, bertepuk tangan, bahkan sesekali meneriakan nama dari salah satu pemain yang mereka idolakan.


Terutama mereka para gadis.


"Satria.. semangat gantengnya aku."


"Semangat calon masa depan."


"Semangat pangeran Samudera."


Dan masih banyak lagi teriakan-teriakan dari puluhan gadis yang mengidolakan Satria sejak lama.


Dijajaran kursi paling depan, Stela tampak ikut bersemangat seperti yang lainnya, meski sepanjang pertandingan berlangsung ia merasa sangat risih, karena rupanya pacarnya itu begitu banyak yang mengidolakan.


Namun, haruskah ia merasa bangga saat ini, karena dari sekian banyak gadis yang pernah dekat dengan Satria hanya dirinyalah yang ia pilih sebagai gadis yang akan dijadikannya calon istri.


Stela menutup kedua telinga dengan mata terpejam, saat teriakan-teriakan yang lebih keras dari sebelumnya menggema didalam gedung tersebut.


Terlalu larut dalam lamunan, rupanya ia tidak menyadari bahwa permainan telah berakhir, dan kemenangannya dimenangkan oleh tim Satria dari sekolah SMA Samudera yang juga menjadi tempatnya bersekolah saat ini.


"Lama ya,?" ucap Satria, yang kini menghampiri Stela mengabaikan sapaan dan ucapan selamat dari gadis-gadis yang meneriakinya tadi.


"Nggak kok, selamat ya tim kamu pemenangnya."


"Makasih sayang, kalau gitu mana hadiahnya buat aku." ucapnya dengan nada yang terdengar manja.

__ADS_1


"Iya entar kapan-kapan aku beliin, aku kan nggak tahu kalau kamu mau tanding, atau mau aku teraktir makan sepulang dari sini."


"Aku nggak mau hadiah kaya gitu yang, aku maunya sesuatu yang nggak bisa di beli, dan itu ada dalam diri kamu."


"M-maksudnya?"


"Mau kan nikah sama aku?"


Deg!


"Kamu nyari siapa?" tanya Satria saat Stela menoleh ke kiri dan kekanan dan mengabaikan ucapannya.


"Kamu bisa-bisanya ngomong kaya gitu disini, untung nggak ada orang yang denger." ujar Stela kesal.


"Jadi, jawabannya masih tetap sama!" Satria menunduk lesu dengan helaan nafas berat, "ayok pulang!" Satria berjalan terlebih dahulu dan menyuruhnya untuk menunggu di pelataran parkir, karena ia ingin mengganti pakaiannya kembali.


Tak membutuhkan waktu lama, hanya lima menit saja dia sudah selesai mengganti baju, namun belum sampai ia ketempat parkir, seseorang menghadangnya.


Satria mendesah, ia terlalu bosan menghadapi gadis yang satu itu, entah harus berapa ribu kali ia mengatakan bahwa dia memang tak pernah benar-benar menyukainya sejak dulu, terutama setelah ia tahu Tiara telah mengkhianatinya beberapa kali.


Jadi apa yang musti ia pertahankan, pikirnya.


"Gue rasa lo udah tahu kan jawabannya, kalau sampai kapanpun antara kita nggak akan ada apa-apa lagi, kita udah selesai Ra, ngerti nggak sih!"


"Tapi gue nggak bisa ngelupain lo Sat, gue terlalu sayang sama lo."


"Bisa, lo bisa ngelupain gue lama-lama, pelan-pelan aja."

__ADS_1


"Tapi_"


"Sorry Ra, apapun yang lo lakuin nggak akan ngerubah apapun, gue tetap dengan pilihan gue saat ini, gue cinta sama Stela, dan gue berharap lo juga segera dapet pengganti gue yang jauh lebih baik, yang sayang dan cinta sama lo, yang bisa ngasih sesuatu yang nggak lo dapetin dari gue."


Setelah mengatakan hal tersebut, Satria melanjutkan langkahnya untuk menemui Stela, khawatir jika gadisnya terlalu lama menunggu.


*


*


"Kamu istirahat ya, aku pulang dulu." ucap Satria yang kini bersiap melajukan motornya kembali, sesaat setelah mengantar Stela ke rumahnya.


"Tunggu Sat, euhmz i-itu kamu yakin kamu serius, soal kata-kata kamu." Stela menahan tangannya, sementara Satria mengerutkan dahi bingung.


"Yang mana?"


"S-soal ajakan kamu untuk N-nikah."


Satria membuang nafas pelan, menunduk beberapa saat, kemudian kembali menatap Stela dengan lembut dan penuh cinta seperti biasanya.


"Apa selama ini aku terlihat masih main-main yang, aku bahkan udah kenalin kamu sama keluargaku, apa semua itu kurang jelas!"


Untuk beberapa saat, Stela pun hanya terdiam, sembari menatap wajah Satria yang memancarkan banyak cinta didalamnya.


"K-kalau gitu, besok kamu datengin ayahku dirumahnya."


Setelah mengatakan hal itu, ia memasuki rumahnya dengan sedikit berlari, sementara diluar Satria terperangah dengan mulut terbuka, menatap punggung sang pujaan hati yang perlahan hilang dari pandangannya.

__ADS_1


*


*


__ADS_2