
Selama mengikuti pelajaran disekolahnya, Satya tidak dapat fokus sama sekali, pikirannya dipenuhi dengan rasa khawatir terhadap sang pujaan hati dan juga kakak iparnya Kinar, yang ia yakini saat ini tengah berjuang melahirkan dua keponakan kembarnya.
Berulang kali Satya mendapat teguran dari pak Benny, selaku guru Matematika yang selalu bangga dengan dirinya karena selalu mendapatkan nilai yang fantastis dibandingkan murid yang lainnya.
"Kamu tumben nggak fokus begini Sat, lagi ada masalah?" tegur pak Benny saat jam pelajarannya telah habis.
"Maaf pak, semalem saya kurang tidur." Satya menunduk malu.
"Baiklah, mulai besok pastikan waktu istirahat kamu cukup, saya sangat bangga terhadap kamu, jadi tolong jangan kecewakan saya.'' tegas pak Benny.
"Baik pak!"
"Oy, kenapa lo Sat, serius gue nanya?" Sam menghampirinya setelah pak Benny pergi.
"Biar gue yang jawab, lo lagi ada masalah kan, karena ketahuan nyuri kolor kong rojak lagi." timpal Arkan, seraya menarik kursi bergabung dengan keduanya, melirik kearah Sam dengan tatapan menyebalkan.
"Ck, elo mah ingetnya ke dosa orang mulu, seneng amat lo nistain gue njir!" Sam menoyor kepala Arkan.
"Yaudah gue ganti deh, isi kolor." bisik Arkan Santai, tak mempedulikan raut wajah Sam, yang mendelik menatapnya kesal, Arkan memang sering kali mengungkit kejadian yang telah berlalu, meski hal tersebut terjadi setelah bertahun-tahun lamanya.
"Ck, ini anak kagak punya adab ya, emang!"
"Lo inget kagak wajah kong rojak sampe memerah nahan kesel, karena kolornya yang dijemur di ladang hilang." sambung Arkan.
"Ajig, gue kagak nyuri, cuma minjem bentar." sentak Sam pada akhirnya, karena tak lagi tahan dengan ucapan Arkan.
Sementara Arkan terkekeh geli, menoleh kearah Satya yang masih saja diam dengan kedua mata terpejam, bersender di sandaran kursi.
"Sssttt...woyy Sat, lo masih inget kan si Sam nyuri kolor?"
"Hmmm."
"Kira-kira kong rojak murka kagak ya, kalau tahu siapa yang udah nyuri kolornya?"
"Paling diceburin ke kolam lele jumbonya, udah ah bu Vina dateng tuh." menunjuk kearah pintu dimana bu Vina baru saja melewatinya.
***
Setelah jam pelajaran habis, ia pun bergegas menuju rumah sakit, Cahaya Cinta. tempat yang sama dimana ada Kinar dan juga Mutia.
Menghubungi sang bunda terlebih dahulu untuk menanyakan dimana letak keberadaannya.
"Bun,?" menyalami sang bunda, yang tengah duduk di kursi tunggu di depan kamar bersalin.
"Gimana keadaan kak Kinar sama bayinya bun,?"
"Kak Kinar sama anaknya baik, sehat, ketiganya selamat!" jawab sang bunda dengan raut wajah yang terlihat bahagia.
"Bunda serius?"
"Ck kamu ini, bunda serius lah." mencubit perut Satya.
"Syukurlah bun." Satya menghela nafas lega.
__ADS_1
"Tapi kok bunda masih diluar?"
"Si kembar lagi dimandiin, jadi bunda nungguin dulu disini, kak Kinar juga lagi ganti baju."
"Kira-kira masih lama nggak bun, selesainya?"
"Mungkin sekitar setengah jam an lah."
"Yaudah, kalau gitu Satya kesana dulu sebentar ya bun, nanti balik lagi kesini, bentar doang kok!"
"Lah, mau kemana?"
"Nengokin temen."
"Yaudah, nanti kesini lagi lho ya, anterin bunda mau pulang dulu ganti baju."
"Lah nganterin pake apa bun, aku aja kesininya pake Taxi."
"Memangnya motornya kemana?"
"Ketinggalan di jalan bun." jawabnya dan bergegas pergi begitu saja.
"Eh tunggu, tunggu! ampun itu anak maen pergi aja."
*
*
"Gimana, masih sakit?" tanyanya, setelah membuka pintu ruangan tempat Mutia dirawat, melangkah menghampiri Mutia yang terlihat sedikit terlonjak dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Udah makan?"
Lagi-lagi Mutia menggeleng, "Nggak laper, pengen pulang kak."
"Ok kita pulang, tapi sebelum itu kamu harus makan dulu ya?"
"Tapi kak_"
"Please! Mutiara Indah Permata, makan dulu ya!" mengambil makanan yang disediakan perawat diatas meja.
"Kenapa lagi, malah bengong?"
"Darimana kakak tahu nama panjang aku?"
"Kamu mau tahu?"
Mutia mengangguk.
"Dari sepupu kamu."
Deg!
"M-maksud kak Satya_"
__ADS_1
"Nabila kan nama sepupu kamu."
Deg!
"Kok kak Satya bisa ta_"
"Aku tahu semua tentang kamu."
"Tap-tapi_"
"Aku juga tahu alamat rumah kamu dibandung."
Deg!
"Kalau udah saatnya, aku pasti akan datang kerumah orang tua kamu." lanjutnya seraya tersenyum penuh arti.
Deg!
"Kak_"
"Makan dulu." mengangsurkan satu sendok bubur tepat didepan mulut Mutia, membuat ia mau tak mau terpaksa membuka mulutnya.
"Kak Satya nggak sibuk?" tanyanya, setelah menelan makananya.
"Nggak."
"Bukannya kalau siang kakak kerja ya?"
"Aku bisa meluangkan waktu kapanpun buat kamu."
Deg!
"Kak?''
"Apa?" jawabnya penuh kelembutan.
"Se-sebelumnya, kak Satya udah p-punya pacar belum?"
"Kenapa nanya begitu,?"
"Ya, ya pengen tahu aja."
"Aku bisa aja sih ngasih tahu apapun yang ingin kamu tahu tentang aku."
"Lagi." Satya kembali mengangsurkan satu sendok makanan ke mulut Mutia.
"Ummz kak, se-sebenernya aku_ aku nggak dibolehin pacaran dulu sama orang tua aku." ucap Mutia terbata, seraya menunduk, memilin ujung seragam sekolah yang dikenakannya.
Satya mengulum senyum. "Nggak boleh pacaran, tapi nikah boleh?"
"Hah?"
*
__ADS_1
*