
"Jaga dirimu baik-baik ya dek, Abang janji kalau luang abang akan sering mengunjungimu." El tampak berkaca-kaca memeluk adik perempuan satu-satunya yang begitu ia sayangi.
"Beneran ya bang, jangan bohong! terus kalau kesini bawa kak Kinar, Gala, sama si Twins juga."
"Iya, jangan nakal selama disini, Abang pasti bakalan kangen."
"Aku juga."
"Jangan jadi gadis yang nakal, belajar yang bener! jangan pacar-pacaran dulu, pacaran nya nanti kalau udah gede."
"Abang bisa banget, abang aja dulu nikahnya masih sekolah, CK!" cibirnya, yang membuat El tergelak, soal itu ia selalu kalah telak dari adiknya.
"Dasar Abang!"
"Nggak usah ditiru, kamu jangan dek! Abang belum rela kamu ada yang memiliki selain kita."
"Abang udah ah, Tika mau peluk teman berantem Tika dulu."
"Siapa?"
"Bang Satria."
"Yaampun dek, segitunya nganggap Abang." Satria merentangkan kedua tangannya, membuat Cantika menghambur kepelukannya.
"Abang, Tika minta maaf! karena sering bikin ribut, Tika sayang Abang." ucapnya didalam pelukannya, membuat kedua mata Satria memanas, ia masih belum percaya bahwa akan berpisah dengan adiknya secepat ini.
"Kamu nggak pernah punya salah dek, Dimata Abang kamu tetap adik abang yang lucu dan menyenangkan, Abang lebih menyayangi mu." balasnya, dengan air mata yang mengaliri kedua pipinya.
"Kalau sempat, nanti abang kesini bawa Dede bayinya ya."
"Iya dek, Abang usahakan."
__ADS_1
"Udah ah, Lo mah cengeng! malah nangis segala, gantian!" ujar Satya menggeser tubuh Satria, berganti menarik tubuh sang adik kedalam pelukannya.
Satya terisak, tanpa mampu mengucapkan apapun terlebih dulu.
"Ngatain cengeng! dia malah lebih parah!" gerutu Satria dibelakangnya.
"Abang ihs, baju aku basah! malah nangis terus." protes Cantika.
"Abang masih belum rela dek." lirihnya, betapapun selama ini ia belum pernah jauh dari sang adik.
Nada dan Ando yang sejak tadi menyaksikan kesedihan yang dirasakan anak-anaknya tak kuasa untuk tidak menangis mereka berdua akhirnya berhambur memeluk Cantika yang masih berada dalam pelukan Satya.
Tak ada kata yang terucap, selain Isak tangis yang tertahan.
*
Sekembalinya dari Jogja, semuanya kembali ke rutinitas mereka masing-masing seperti biasanya, walaupun dalam hatinya ada rasa hampa yang menyelimuti.
Mereka mencari kesibukan yang sedikit dapat melupakan kesedihan karena tak ada lagi si periang disisi mereka.
Kandungan nya yang memasuki bulan ketujuh, tampak lebih besar dari bulan yang seharusnya, karena didalam perut Stela terdapat dua janin yang sedang tumbuh.
Ya, setelah melakukan USG beberapa kali Stela dinyatakan memiliki bayi kembar laki-laki.
"Apa yang kamu rasain yang, begah, pegal, sakit?" tanya Satria yang kini bersiap memijat kaki istrinya seperti biasa, saat Stela mengeluh pegal dikedua kakinya yang terkadang terlihat membengkak.
Semenjak Stela hamil dan mengalami masa-masa sulit diawal kehamilan, Satria semakin posesif dan semakin siaga terhadapnya.
"Nggak bang, nggak ada yang dirasain." jawabnya seraya tersenyum.
"Aku makin gendutan ya bang?"
__ADS_1
''Kamu tetap cantik yang."
"Jadi beneran aku gendut?"
"Nggak sayang, cuma perut kamu doang yang gendut, wajar kan ya orang hamil perutnya gede, kalau hamil perutnya kecil malah jadi pertanyaan lho yang, bayinya nyungseb dimana coba."
"Abang serius?"
"Aku selalu serius yang, sayang." ia menge cup bibir sang istri sekilas, namun dilakukan nya secara berulang-ulang.
Kemudian keduanya saling pandang, dengan tatapan cinta yang sama besarnya.
"Yang?!" suara Satria yang terdengar sedikit serak dan berat, membuat Stela tersenyum, ia yang sudah berstatus sebagai istrinya selama setahun ini sudah cukup paham dengan sikap suaminya.
"Abang mau."
Satria tampak melebarkan kedua matanya.
"Emang masih boleh?!"
Stela mengangguk kecil sebagai jawaban, membuat Satria tak tahan untuk tidak tersenyum.
Ia tentu tidak akan pernah menolak untuk tawaran yang satu ini, pelan ia mendekatkan kembali wajahnya mendaratkan satu ke cupan manis didahi sang istri, sebelum kemudian menyusuri hidungnya dan berakhir ditempat yang paling membuatnya merasakan candu yang tiada akhirnya.
Menye sapnya lembut, kemudian menerobos menyapa setiap inci didalam hangatnya mulut Stela.
Satria memang pandai dalam menggoda, lihai dalam mendamba, yang mampu membuat Stela melenguh dibawah rengkuhannya.
Satria bergerak pelan, melakukannya penuh kelembutan dan kehati-hatian.
Dan malam indah itu mereka lalui bersama, tanpa menyakiti dua buah hati mereka yang masih berada didalam perut Stela.
__ADS_1
*
*