
"Sial! tumben, kok macet sih?" gerutu Satya, sembari melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya berulang kali.
"Bisa telat nih gue!" sambungnya, masih menggerutu pelan.
"Misi bang, pak, maaf ada yang tahu nggak, didepan ada apa ya, tumben macet begini?" tanyanya pada beberapa pengendara yang berada diurutan paling depan diantara motornya.
"Barusan temen saya telpon, katanya ada yang kecelakaan di deket lampu merah depan, sangat parah, jadi beberapa pihak berwajib menyetop laju seluruh pengendara untuk mengevakuasi korban dan mobilnya yang menghalangi jalan, sabar ya, sebentar lagi keadaannya aman kok." jelas salah satu pengendara yang berada disampingnya, membuat Satya mengangguk mengerti.
Benar saja, tak lama berselang, seluruh kendaraan yang mengular tersebut satu persatu mulai bergerak melaju memberi sedikit kelonggaran dijalan raya tersebut.
Drrttt... drttt..
"Siapa lagi ini yang nelpon,?" gerutunya, sembari menepikan motornya sejenak, merogoh benda pipih yang berulang kali bergetar di saku jaketnya.
"Ah elah Sat, ngapain sih nelpon gue jam segini, telat nih gue?" sergahnya, saat mengetahui siapa yang menelponnya di jam rawan pagi ini.
"Jangan ngambek dulu, sorry deh gue ganggu! gue juga disuruh bunda, entar siang pulang sekolah suruh mampir ke Rumah sakit Cahaya Cinta."
"Lah siapa yang sakit?"
"Kak Kinar."
"Lo seriusan kak Kinar sakit, dia lagi hamil kan?" tanyanya panik.
"Ya justru itu, justru karena kehamilannya yang bikin dia sakit."
"Maksud lo gimana sih, jangan bikin gue tambah khawatir nih!"
"Kak Kinar mau ngelahirin.''
"Ajig! ngomong kek dari tadi, muter-muter mulu lo ngomong, kek komedi putar.''
__ADS_1
"Yaudah-yaudah gue tutup dulu ya telponnya, lo takut telat juga kan?"
"Ck!"
Setelah menyimpan kembali ponselnya kedalam saku jaket, Satya pun bergegas melajukan kembali motornya, namun belum jauh dari tempat tersebut, pandangan matanya teralihkan pada kerumunan warga yang tengah mengelilingi seseorang yang Satya yakini adalah korban kecelakaan.
"Masih ada waktu dua puluh menit lagi sih." gumamnya, setelah melihat jam dipergelangan tangannya.
Dengan diliputi rasa penasaran, Satya pun menepikan kembali motornya, melompat membelah kerumunan orang-orang tersebut.
"Kenapa pak?" tanyanya pada salah satu pengendara yang ikut berkerumun disana.
"Korban tabrak lari dek, kasian! mana anak perempuan lagi." jawabnya membuat Satya memutuskan untuk menghampiri gadis tersebut.
Deg!
Satria tertegun, dengan nafas tercekat, saat mengetahui pemilik wajah tersebut, bergegas berjongkok dihadapan gadis itu dan membantunya untuk berdiri.
"K-kak Satya?"
"Nggak apa-apa kak." jawabnya lirih, dengan suara seraknya.
"Nggak apa-apa gimana, ini kaki kamu berdarah Muti, mana lagi yang sakit,?"
"K-kak?"
"Bapak-bapak semuanya terimakasih telah membantu pacar saya, sebelum saya datang tadi, bapak-bapak semua tidak usah khawatir, saya akan membawa pacar saya kerumah sakit." ujar Satya dihadapan mereka, membuat Mutia menatapnya tak percaya.
"Oh pacarnya toh! baiklah kalau begitu kami pamit, jangan lupa segera di obati ya pacarnya." ujar salah seorang dari mereka.
"Baik Pak."
__ADS_1
Setelah semuanya bubar, Satya pun bergegas memanggil Taxi untuk mengantarkan Mutia kerumah sakit.
"Kak, nanti kakak telat sekolahnya gimana?" ujar Mutia merasa tak enak.
"Kamu nggak usah mikir macem-macem, yang penting luka kamu bisa di obati tepat waktu, soal motor kamu, nanti aku nyuruh pegawai bengkel buat ngambil kesana, kebetulan motor aku juga ada disana."
"Kenapa kakak ngelakuin ini?"
"Melakukan apa?" Satya menoleh, menatap gadis yang duduk disampingnya, membuat gadis tersebut repleks memalingkan wajahnya.
"Kenapa kakak mau bantuin aku,?" tanyanya dengan wajah menunduk.
"Siapapun yang ada diposisi kamu saat ini, aku pasti berusaha buat bantu."
"Kak?"
"Kita udah sampai." potongnya cepat, bergegas membuka pintu Taxi dan menggendongnya memasuki rumah sakit.
Ia sama sekali tak mempedulikan Mutia yang berulang kali membrontak meminta untuk diturunkan.
*
Setelah memastikan luka Mutia selesai di obati, Satya pun meminta izinnya untuk pergi ke sekolah.
"Muti, sorry banget aku harus kesekolah, aku lupa hari ini aku ada ulangan, tapi aku janji pulang sekolah bakalan datang lagi kesini, tapi kamu juga janji ya, jangan pulang dulu sebelum aku dateng, ok!"
''Tapi k-kak?"
"Please, tolong nurut kali ini aja."
Melihat tatapan Satya yang begitu mempesona, Mutia hanya bisa mengangguk pasrah.
__ADS_1
*
*