Pesona Twins S

Pesona Twins S
Izin Stela


__ADS_3

Pagi menyapa, dengan langkah malas Satria berjalan menuju meja makan dimana ada sang Ayah dan sang bunda yang sedang sarapan, begitu juga dengan Satya, Mutia, dan juga Cantika yang sudah menyantap sarapannya lebih dulu.


"Sat, pulang sekolah nanti nggak usah ke Cafe dulu ya, tolong kamu bantu Meta mengantar pesanan bolen pisang kerumah nya tante Marina, yang rumahnya di samping rumah temen kamu itu lho, Haikal ya kalau nggak salah."


"Emangnya dia nggak bisa sendiri bun, kenapa musti dianter segala." sahutnya seraya menarik kursi dan memilih duduk disamping Cantika.


Meta merupakan salah satu karyawan sang bunda yang berada di Denada Cake&bakery, dan Satria kurang menyukai gadis itu yang menurut Satria terkesan sangat genit, dan sudah beberapa kali mencoba mencari perhatian darinya.


"Pesenannya banyak, kasihan kalau Meta ngitung sendiri, sore ini bunda mau nemenin ayah keacara ulang tahun sahabatnya, lagi pula kamu juga kenal kan sama dia."


"Tapi bun_"


"Nggak cuma nganter kerumah tante Marina Sat, habis itu kamu musti nganter kerumah om Gerry juga temen lama Ayah, yang terakhir nganter kerumah tante Salsa untuk acara khitanan cucunya lusa, dan jumlahnya emang bener-bener nggak sedikit, semuanya berjumlah sekitar empat ribu porsi Sat."


"T-tap_"


"Kamu nggak mau?" ujar Nada dengan suara yang sedikit meninggi.


"I-ya, iya." Satria mendesah pelan, ia tak mampu menolak setiap kali sang bunda memerintahnkannya, ia hanya perlu mencari cara agar tidak terlalu dekat dengan Meta nantinya.

__ADS_1


Karena selain ia tak suka dengan gadis tersebut, ia juga tak ingin jika Stela sampai salah paham lagi.


*


"Yang, nanti aku nggak ke Cafe." ujar Satria ketika pulang sekolah siang ini, ia sengaja menunggu Stela sang pacar untuk memberitahunya secara langsung, sekaligus untuk mengantarnya pulang.


"Kenapa?" tanya Stela seraya menatap pacar gantengnya yang memiliki porsi tubuh yang tentu lebih tinggi darinya.


"Aku disuruh bunda nganterin pesenan kerumah temennya, dan jumlahnya nggak sedikit, bunda bilang ada kalau sekitar empat ribu porsi."


Stela terdiam sebentar, sebelum kemudian mengangguk mengerti.


"Yaudah nggak apa-apa, bunda kamu yang nyuruh kan?"


"Tapi kenapa?" Stela kembali memandang Satria yang terlihat ragu.


"A-aku perginya nggak sendiri, ada Meta karyawan bunda yang ikut bareng aku."


"Dia perempuan, masih gadis?"

__ADS_1


Satria mengangguk, sembari memperhatikan raut wajah Stela yang berubah sendu.


"Tapi aku janji yang, aku bakalan jaga jarak kok sama dia." jelasnya, berusaha agar Stela percaya dan tidak meragukan ketulusannya.


Terlihat Stela menghela nafasnya pelan, menundukkan wajahnya menatap kedua ujung sepatu ketsnya.


Entah mengapa akhir-akhir ini perasaannya begitu sensitif mengenai kemana dan dengan siapa saja Satria pergi, ia sendiri bingung dengan perasaannya sendiri mengapa? apa mungkin ia memang sudah mulai menyayangi Satria, atau bahkan mungkin sudah mulai jatuh cinta padanya.


Stela menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir apapun yang memenuhi pikirannya saat ini.


Ia tak ingin terlihat terlalu mengekang keseharian Satria, meski sebenarnya ia ingin, namun ia juga butuh kebebasan dan tak ingin jika Satria sampai mengekang nya, dan saat ini yang perlu ia lakukan hanyalah percaya bahwa Satria akan selalu setia padanya.


"Aku percaya kok sama kamu, dan aku berharap kamu nggak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang aku kasih ini."


Satria mengulum senyum, "Siap sayang!"


Kemudian ia menyodorkan helm yang ada ditangannya, sekaligus membantu gadisnya untuk mengenakan helm tersebut, dengan senyum yang tak pernah luntur.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatapnya penuh benci.

__ADS_1


*


*


__ADS_2