Pesona Twins S

Pesona Twins S
Salah paham lagi


__ADS_3

"Dan satu lagi, lo nggak usah bawa-bawa masa lalu kita didepan orang tua elo, terutama bokap Stela."


"Bokap gue juga." sela Nira, ia tak terima jika Adrian hanya disebut sebagai ayah Stela saja.


Terlebih selama ini hubungan ia dan Adrian lebih kuat dibandingkan dengan Stela yang notabene anak kandungnya.


"Gue peringatin, lo jangan memperkeruh keadaan, lo tahu sendiri gue nggak pernah main-main dengan ucapan gue."


"Apa sih kelebihannya cewek kampung itu sampai lo segininya nyakitin gue Sat, lo tahu kan gimana perasaan gue dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah sedikitpun."


"Lo mau tahu kelebihan Stela apa,?"


"Apa?"


"Dia cantik_"


"Emangnya gue nggak?" potong Nira, yang membuat Satria mendesah kasar.


"Dia itu cantik luar dalam, dan yang paling utama adalah karena gue cinta sama dia, gue sayang sama dia, bahkan melebihi dari gue mencintai diri gue sendiri." jelas Satria, membuat Nira menggigit bibir bawahnya seraya memalingkan wajah menahan getaran di dada yang membuat perasaannya hampir meledak-ledak.


Tidakkah Satria tahu, betapa ucapannya barusan terlalu menyakitkan untuknya, bagaimana bisa ia mengatakan kejujuran itu dihadapannya, sementara ia tahu persis bahwa dirinya begitu membenci Stela.


"Ok gue ngerti, jadi lo nggak perlu jelasin apa-apa lagi ke gue," Nira mengepalkan kedua tangan dan meletakan nya di kedua sisi tubuhnya ia berusaha mati-matian untuk menahan air mata yang kini sudah menggenang di kedua kelopak matanya.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apa-apa lagi ia segera berbalik melangkah dengan sedikit berlari meninggalkan Satria yang menatap kepergian nya.


"Sorry Nir, cinta gue cuma buat Stela, dan hati gue cuma milik dia seorang, meski gue tahu sampai saat ini dia belum mencintai gue." gumam Satria.


Hari semakin sore, bahkan awan yang semula berwarna biru cerah kini telah berubah, berganti dengan warna jingga, Satria kembali menaiki motornya dan melajukannya kerumah Stela, entah mengapa beberapa jam tidak bertemu membuat ia hampir gila.


Seperti biasa, Satria akan menunggu didepan gerbang, kemudian menelpon Stela agar segera menemuinya, benar saja tak lama Stela keluar dengan wajah masam, menatapnya kesal.


"Ck, kok gitu sih yang mukanya?" Satria turun dari motor, menghampiri gadisnya.


"Yang?" lanjutnya, sembari meraih kedua tangan Stela dan menggenggamnya.


"Ngambek? aku salah apa lagi coba yang."


"Lho, bukannya tadi udah bilang, aku mau nganter pesenan sama Meta."


"Terus?"


"T-terus ketemu Nira." ucapnya tanpa sadar, yang membuat Stela semakin membrengut kesal.


"Sebenernya hubungan kamu sama Nira masih berlanjut nggak sih sering banget ketemu dia, kamu__"


"Yang, aku nemuin Nira karena aku cuma mau buat perhitungan sama dia karena udah jual kamu sama si Brandon sialan itu, aku nggak terima yang."

__ADS_1


"K-kamu tahu soal itu?" Stela tergagap.


Tak menyahut, namun Satria menganggukan kepalanya pelan.


"Sat aku__"


"Kenapa kamu nggak pernah cerita soal ini, kamu tahu kan betapa berartinya kamu buat aku, dan aku nggak rela siapapun nyakitin kamu dibelakangku, apa sebegitu tidak berarti nya aku dimata kamu, sampai segala sesuatu yang kamu alami, kamu tidak mau menceritakannya ke aku."


"Apa menurut kamu aku ini bukan orang yang cukup bisa dipercaya yang,?" lanjut Satria dengan tatapan yang berubah sendu.


"Bukan, bukan gitu Sat, aku cuma nggak mau kamu khawatir, dan aku juga nggak mau kamu ikut terseret dalam masalah aku."


"Terus kamu mau supaya aku jadi cowok pengecut dan lemah, yang nggak bisa ngelakuin apapun buat pacarnya, begitu kan?"


"Sat, nggak buk__"


"Dari awal aku tahu kamu nggak pernah nerima aku sepenuhnya, dan aku yakin sampai sekarang pun perasaan kamu masih sama, mungkin aku terlalu percaya diri dengan hubungan kita."


"Sorry aku udah ganggu waktu istirahat kamu." Satria mengusap kepalanya sebelum kemudian melesat pergi menunggangi kuda besi kesayangannya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2