
"Tapi kamu sudah sangat keterlaluan mas! kamu menentukan semuanya sendiri tanpa berdiskusi terlebih dahulu denganku, aku juga ibunya! aku yang lebih berhak menentukan, lagi pula dia masih sekolah, jadi kenapa harus_"
Tersadar dengan sesuatu, Cintya menoleh kearah Stela, mengangkat kedua bahunya secara paksa, hingga gadis itu repleks berdiri.
"Apa yang sudah kamu lakukan Ste, sampai harus menikah di usia muda seperti ini hah? tidak ada anak sekolah yang menikah kalau bukan karena_"
"Cukup Cintya." Adrian menepis kasar, tangan Cintya yang mencengkram keras bahu putrinya.
"Kalau kamu berpikiran yang tidak-tidak terhadap putri kita, itu tandanya kamu benar-benar tidak mengenalnya dengan baik selama ini, dengar! aku yang mengijinkannya menikah, aku juga yang meminta semua orang merahasiakannya darimu, karena aku sudah menduga hal ini pasti akan terjadi."
"Mas!" protes Cintya, yang menunjukan bahwa ia benar-benar tidak suka dengan tindakan mantan suaminya itu.
"Duduk!" perintah Adrian, ia sendiri menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, dengan helaan nafas berat.
Sementara itu Cintya pun ikut duduk, sembari menatap kearah lain.
"Sudahlah Cintya, biarkan Stela bahagia dengan suaminya! aku yakin dia akan mendapatkan limpahan kebahagiaan dan kasih sayang dari keluarga Satria, yang nggak akan pernah dia dapatkan dari kita." ucap Adrian yang terdengar jelas ada nada sendu dibalik makna ucapannya.
__ADS_1
"Suami Stela berasal dari keluarga terhormat! dan mertuanya siap menjamin kehidupan Stela, serta mendukung apapun yang Stela cita-citakan, kamu tidak perlu lagi khawatir tentang Putri kita." Adrian mengelus rambut hitam legam milik putrinya, yang kini kembali duduk dengan wajah tertunduk.
"Kalau kamu kesepian kamu juga bisa menikah lagi kan?" lanjutnya, menatap Cintya.
"Itu tidak penting sekarang! lagi pula aku bukanlah seseorang yang mudah jatuh cinta begitu saja." ucap Cintya yang tanpa ia sadari telah membuat Adrian tertegun hingga beberapa detik.
"Lebih baik sekarang kamu keluar mas, aku ingin berbicara berdua saja dengan Stela."
"Kau mengusirku?" Adrian menatapnya tak percaya.
"Kenapa tidak,? bahkan diantara kita tak ada hubungan apapun, kamu bukan siapa-siapa aku, jadi untuk menghindari fitnah tetangga lebih baik sekarang kamu keluar!"
"Keluar!"
*
Setelah kepergian Adrian, Stela memilih untuk diam, bersiap menerima apapun yang dikatakan sang mama, atau memukulnya sekalipun.
__ADS_1
Namun jauh dari dugaannya, Cintya justru malah terisak sembari menghampiri Stela, kemudian memeluknya dari samping, dan sesekali menciumi kepala anak gadis nya tersebut.
"Maaf! maafin mama, karena keegoisan mama selama ini kamu tak mendapatkan kasih sayang, mama tahu kesalahan mama ini tak mudah dimaafkan."
"Mama terlalu sibuk menata hati mama yang hancur, hingga tanpa mama sadari ternyata mama sudah menghancurkan perasaan putri mama sendiri, bagian hidup mama yang paling berharga."
"Maafin mama nak," lanjut Cintya di sela isak tangisnya.
Stela mengangguk, ia memang kecewa terhadap sang mama, namun rasa sayang yang ia miliki jauh lebih besar, dan mampu mengalahkan semua rasa kecewanya selama ini.
Stela membalas pelukan sang mama, sebuah pelukan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari wanita yang sudah melahirkannya delapan belas tahun yang lalu.
"Pertemukan mama dengan suamimu nak, mama ingin melihat secara langsung seperti apa suami mu, bagaimana bisa dia memenangkan hati putri mama yang satu ini, jujur mama sangat syok!" lanjut Cintya yang kini menangkup wajah Stela.
"Ternyata waktu begitu cepat berlalu, mama pikir anak mama masih kecil, ternyata kini mama baru sadar kalau anak mama ini sudah beranjak dewasa, mama benar-benar melewatkan banyak momen berharga denganmu, mama begitu egois!" Cintya semakin terisak.
Sementara Stela kehilangan kata-kata, ia hanya bisa menenangkan sang mama dengan kembali memeluknya, dan memberinya tepukan kecil dipunggungnya seolah mengisyaratkan bahwa semuanya sudah berlalu, dan kini semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
*