Pesona Twins S

Pesona Twins S
Sepi dan Rindu


__ADS_3

"Boleh saya bawa jaketnya mang?" Ujar Stela setelah menghabiskan semangkuk buburnya.


"Saya kayaknya kenal mang sama yang punya jaket ini."


"Neng Stela yakin?"


Stela mengangguk mantap.


"Kalau saya memang salah orang, besok malem jaketnya saya bawa lagi kesini, saya kasihin lagi ke mamang." jelasnya.


"Yasudah neng, sok dibawa aja jaketnya."


Setelah membayar semangkuk buburnya Stela pun berpamitan pada mang Jamal untuk segera pulang.


Sesampainya dirumah Stela pun bergegas memasuki kamarnya, duduk disisi ranjang dengan punggung yang disandarkannya di headboard kasur.


Perlahan ia menurunkan jaket yang sejak tadi di dekapnya di dada, hingga aroma parfum khas milik seseorang itu menguar memenuhi indra penciumannya hingga masuk kedalam rongga dada.


Tiba-tiba perasaan rindu dan sepi datang secara bersamaan, dan tanpa sadar ia meneteskan air mata, hingga beberapa menit berlalu tangisnya semakin menjadi, ia sesenggukan sembari memeluk jaket tersebut.


Luka yang sudah ada dari sejak dulu, kini semakin bertambah dan rasanya terlalu menyakitkan bagi Stela.


Ia butuh seseorang, ia butuh cinta dari keluarganya, dan kini ia butuh cinta dari laki-laki itu.


*


*


"Lo tahu nggak Ste, gue sebel banget deh sama si Tiara_ Tiara itu ganjennya minta ampun, lo tahu kan si Satria temen sekelas kita yang terkenal playboy itu." ucap Arimbi bersungut-sungut, Arimbi merupakan teman baru Stela disekolah Samudera.

__ADS_1


Mendengar dua nama itu disebut, repleks Stela pun menoleh kearah Arimbi, yang sedang memberengut, terlihat sekali bahwa gadis itu benar-benar sangat kesal.


"Emangnya kenapa sama Tiara?" Stela berusaha untuk terlihat biasa saja, meski hatinya merasa cemas.


"Tadi didepan kelas dia meluk Satria, parahnya didepan semua anak-anak, gila nggak sih!"


Deg!


Langkah Stela menuju kantin saat istirahat siang ini mendadak terhenti, gadis itu mematung, dengan kedua mata memanas.


"Ste lo kenapa, lo nggak apa-apa?" tanya Arimbi khawatir.


"Eh, nggak kok Bi, gue_ tenggorokan gue kering banget, pengen minum es." bohongnya.


"Yaudah yuk, buruan! kita pesen es, sama gue juga haus soalnya, apa lagi kalau ingat pemandangan tadi, sumpah gue tuh dongkol banget."


"Gue lagi pengen makan bakso, enak kali ya!" Arimbi menunjuk berbagai macam menu bakso kearah Stela.


"Mau nggak Ste, nih yang mercon enak kali ya!" lanjut Arimbi terlihat antusias.


"Jangan terlalu yang pedes kan bisa Bi, sakit perut kamu entar."


"Nggak apa-apa lah sekali-kali, dibilangin gue lagi kesel, butuh pelampiasan!"


Arimbi saja kesal! apa lagi dia yang pacarnya, batin Stela.


Pacar?


Sejak kapan ia mengakui Satria sebagai pacarnya, Stela menggeleng keras.

__ADS_1


"Gue yang biasa aja, yang bentuknya kecil-kecil juga."


"Ok, tunggu disini! gue mau nemuin bi Arum dulu, lama kalau nungguin disamperin." ujar Arimbi beranjak dari duduknya.


Benar saja, hanya membutuhkan waktu lima menit, gadis itu kembali dengan membawa nampan yang berisi dua buah mangkuk bakso yang masih mengepulkan uap panas.


"Selamat makan!" Arimbi terlihat bersemangat, dan mulai membelah bakso besar miliknya yang mengeluarkan lelehan saus merah yang terbuat dari cabai asli.


Sementara Stela hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat barunya itu, yang terkadang mudah marah, dan juga mudah tersenyum dalam waktu dekat.


"Enak banget sumpah! pedesnya nampol." komentar Arimbi sembari mengipas-ngipasi mulutnya yang kepedasan.


"Bakso bi Arum emang juara." ucap Stela, yang sudah memakan bakso hampir separo dari mangkuknya.


''Oh ya Bi_"


Ucapan Stela menggantung saat kilasan matanya menangkap sosok Satria yang tengah bercanda bersama ketiga sahabatnya yang berada di meja paling ujung.


Laki-laki itu tampak santai menghisap benda kecil yang terselip di jari manisnya.


Deg!


Tak sengaja tatapannya bertemu dengan laki-laki itu, namun hanya beberapa detik, karena setelahnya Satria memalingkan wajah menatap kearah teman-temannya.


*


*


.

__ADS_1


__ADS_2