
"Sat, kamu lagi butuh sesuatu dari Ayah kan? apa bilang aja!" ujar sang ayah yang sejak tadi sudah gatal ingin berbicara mengenai kelakuan aneh Satria saat ini, sementara Nada sudah terlebih dulu masuk kedalam rumah.
"Iya sih ada yang mau aku pinta dari ayah sama bunda."
"Nggak salah lagi, ada udang dibalik batu." lirih Ando.
"Ayah udah tahu emangnya?" kedua bola mata Satria tampak membulat sempurna.
"Bukan! maksud ayah begini, kamu pasti menginginkan sesuatu dari ayah, yasudah cepat katakan ayah mau mandi soalnya, keburu magrib."
"Itu yah, soal Stela dia_ dia udah setuju mau nikah sama aku?"
Ando mengerutkan kening terlihat berpikir, menghela nafas pelan kemudian mengajaknya untuk duduk di kursi rotan yang berada di teras. "Gini Sat, pertama ayah mau tanya, hubungan kalian sudah sejauh mana, kamu nggak ngapa-ngapain dia kan? selain insiden yang dilakukan di samping rumah kemarin itu?" Ando menatap putranya penuh selidik.
"Eh nggak kok yah, percaya deh sama aku."
"Apa buktinya, kalau kamu memang nggak macam-macamin anak orang?"
"Ya nggak ada buktinya, tapi aku jujur lho yah ini."
"Tapi ayah juga perlu bukti, bukan sekedar omongan kamu doang."
"Yaampun yah, apa perlu aku lihatin ke ayah kalau ubi kayu aku masih tersegel dengan baik! masih utuh yah, kalau ibarat mobil baru tuh masih ada plastik nya yah."
Ando mengusap wajahnya, berusaha menyembunyikan tawa dengan sikap frontal putra nya itu, bisa-bisanya Satria membahas soal ubi kayu miliknya di hadapan sang ayah.
"Kamu ini Sat ada-ada aja, mana ada begituan ada segelnya, apa lagi ada plastik nya, kamu pikir es lilin."
"Lah kan tadi ayah suruh buktiin."
"Ck, nggak gitu juga."
__ADS_1
"Yasudah ayah percaya, jadi intinya kamu meminta ayah supaya melamarkan gadis itu kan, memangnya kamu yakin sudah siap dengan pilihan kamu ini Sat, menikah itu bukan lagi hal main-main lho Sat, selain dituntut nafkah lahir, kamu juga akan dituntut nafkah batin, sampai sini paham?"
"Aku sanggup kok yah, paham!"
"Kamu janji mau serius dengan pernikahan kamu nantinya, berhenti main-main dengan gadis mana pun fokus sama istri dan keluarga kecil kamu, bisa.?"
"Iya yah."
"Serius lho Sat?"
"Aku lebih serius yah."
Ando memijat dahinya, kemudian beralih memijat rahangnya, melihat bagaimana keseharian Satria selama ini membuat ia memiliki banyak kekhawatiran dengan kehidupan rumah tangga Satria kedepannya.
"Yasudah, jadi kapan kira-kira ayah harus datang kerumah orang tua gadis itu."
"B-besok yah."
"Baiklah, ayah akan usahakan."
*
*
Jeongmal kaseumi otteokae dwenabwa
Nunmeon sarange babo ga dwenabwa
Ojik hangoman maeil hangoman
Neoran seulpeun bitcheul baraboda.
__ADS_1
Cantika tampak bersemangat menyanyikan sebuah lagu ost Boys Before Flowers yang pernah populer pada masanya.
Duduk bersila diatas karpet permadani yang digelarnya diruang tengah.
Di sampingnya Mutia tampak tersenyum, sesekali bertepuk tangan merasa kagum dengan suara sang adik iparnya yang terdengar lembut dan merdu.
Satya sendiri yang memainkan gitarnya tampak bersemangat, karena jarang-jarang sang adik mau bernyanyi seperti sekarang ini padahal memiliki suara yang khas dan menenangkan.
"Suara kamu bagus banget lho dek, kenapa nggak jadi penyanyi aja?" ujar Mutia saat lagu yang dinyanyikan Cantika telah usai.
"Nggak ah males kak, nggak ada minat buat nyanyi." sahut Cantika dengan bibir setengah mengerucut yang membuktikan bahwa ia benar-benar tidak menyukai bakat yang satu itu.
"Yah, sayang banget sih dek."
"Aku pengennya jadi guru TK kak, ngebayanginnya aja kayaknya seru banget, berbaur sama anak-anak kecil, nggak masalah lah kalau nyanyiin lagu anak-anak buat mereka."
"Tuh kak Satya aja yang jadi penyanyi, ayah juga dulu kan jadi penyanyi." lanjut Cantika menunjuk sang abang menggunakan dagunya.
"Lho kok abang, janganlah! nanti ada yang ngambek terus kalau abang jadi penyanyi, secara abang kan ganteng gini, otomatis dikelilingi cewek-cewek terus." sahut Satya yang mengedipkan sebelah matanya kearah Mutia.
"Ihs pede abis abang!"
"Iyalah takut dia dek, nggak bisa main kuda-kudaan, nggak dapet jatah keringat kalau malem, yang pastinya nggak bisa uh ah." Satria yang duduk di atas sofa sendiri ikut menimpali.
"Apaan sih abang nggak nyambung kok jadi kuda-kudaan aneh! nggak sekalian aja tuh main gajah-gajahan." sahutnya polos, yang membuat Satria terkekeh geli.
Sementara wajah Mutia sudah memerah seperti tomat, sedangkan Satya sendiri beranjak dari duduknya berjalan menuju rak sepatu milik sang ayah, dimana ada kaos kaki bekas yang dipakai ayahnya tadi terselip didalam sepatu, mengambilnya kemudian bergegas membius Satria dengan kaos kaki tersebut.
"Ahh.. jig, lep-lepass Sat."
"Pingsan, pingsan lo! makanya kalau ngomong didepan anak kecil tuh di saring dikit napa." ujar Satya gemas, dan semakin menindih tubuh kakak kembarannya itu, sembari terus menekankan kaos kaki tadi dihidungnya.
__ADS_1
*
*