
Setelah beberapa detik mematung dengan keterkejutan nya, Langit tertawa terbahak seraya mengacak rambut Cantika.
"Kamu ini apaan sih anak kecil udah ngomongin cinta-cintaan segala, pulang gih! belajar yang bener sana." Langit kembali tergelak, seolah ungkapan Cantika hanya sebuah candaan anak-anak seusianya.
Membuat Cantika berdecak tak suka.
"Abang, Tika serius! Tika nggak lagi bercanda, Tika suka sama abang, Tika mau jadi pacar abang."
"Kamu makin ngelantur dek, pulang gih! kalau Abang kamu tahu kamu disini, bisa dimarahin lho kamu."
"Bang, Tika beneran suka sama abang, Tika sayang sama abang." lanjutnya dengan bibir bergetar, bahkan kedua matanya telah dipenuhi genangan air, membuat Langit mendesah tak percaya.
Kedua tangannya terangkat, menyentuh bahu Cantika lembut.
"Dek dengar Abang! kamu masih terlalu kecil untuk mengerti soal Cinta, dan lagi abang nggak bisa ngasih cinta sama kamu, karena_" Langit terdiam sesaat, memandangi wajah imut dihadapannya yang tengah menatapnya dengan kedua mata yang telah mengalirkan air.
"Abang cuma nganggap kamu adek, sama seperti abangmu Satria dan Satya."
"Abang nggak mau kasih aku kesempatan?" tanyanya dengan isak yang mulai terdengar menyayat hati.
Langit menggeleng, "Nggak."
"Yaudah, sekarang Tika pulang ya, abang mau mengerjakan tugas." ucapnya sembari melepaskan cekalan dikedua bahu milik Cantika, berbalik menuju teras rumahnya, namun belum sampai ia menggapai pintu, langkahnya terhenti saat Cantika memanggil namanya kembali.
"Abang, bisakah kita berteman baik?" tanyanya penuh harap, membuat Langit lagi-lagi terdiam, namun detik berikutnya ia mengangguk kecil, tanpa menoleh kearah Cantika, melanjutkan langkahnya memasuki rumah begitu saja.
Sementara diluar, Cantika tampak mematung memandangi pintu kupu-kupu didepannya yang tertutup rapat.
Menunduk dalam, dengan kedua tangan terkepal, menahan perasaan yang terasa menghimpit dadanya yang begitu menyesakkan.
Kali pertama jatuh cinta, kemudian ditolak! terasa begitu menyakitkan bukan?
*
__ADS_1
Esok harinya, Cantika kembali mendatangi rumah Langit, membawa banyak sekali buku dengan tujuan untuk meminta diajari olehnya, padahal jelas-jelas dirumahnya ada Mutia yang sekarang menjadi kakak iparnya yang siap membimbing ia belajar kapanpun ia mau.
"Lho, ini_ ini mau kemana?" tanya Langit bingung, saat melihat ada banyak tumpukan buku yang diletakkan Cantika didepan pintu rumahnya sepagi ini.
"Mau belajar bareng, sama abang."
"Tapi kan_"
"Ini hari minggu bang."
"Tapi ab_"
"Katanya mau jadi teman baik?"
Langit mendesah, ia rasanya tidak memiliki kekuatan untuk melawan gadis kecil dihadapannya, hanya mengangguk pasrah, kemudian mempersilahkan nya untuk masuk.
"Kamu tunggu disini, abang mau mandi dulu."
Langit mengangguk.
"Ihs Abang, belum mandi aja ganteng banget."
CK!
Langit melengos, tak mempedulikan gombalan receh dari gadis dihadapannya yang tampak terkekeh, lalu ngeloyor memasuki kamarnya.
*
Cukup lama mereka menghabiskan waktunya untuk belajar di ruang tamu, lebih tepatnya Langit yang menjelaskan, sementara Cantika hanya mendengarkan dan sesekali mencuri pandang kearah wajah tampan Langit yang tampak serius menjelaskan.
"Abang laper, makan diluar yuk, tenang! aku yang yang teraktir, abang kan udah ngajarin Cantika dari tadi."
"Abang nggak bisa, soalnya mau_"
__ADS_1
"Abang kok gitu sih, katanya kita teman,?" Cantika menekankan kata teman, agar Langit mau menuruti nya.
Lagi-lagi Langit mendesah, "yaudah ok."
Keduanya memasuki sebuah Cafe, yang tak jauh dari rumah Langit, kemudian memesan makanan yang mereka inginkan.
"Bang, abang punya pacar nggak?" tanyanya, di sela mengunyah Cake yang sedang ia makan.
"Kalau punya kenapa, kalau nggak kenapa?"
"Umz, kalau abang punya pacar nanti cemburu dong kalau abang jalan sama aku, kalau abang nggak punya pacar kenapa abang nolak pacaran sama aku.?"
"Aku nggak punya pacar, dan sekarang ini lagi nggak mau pacaran dulu."
"Tapi kenapa?"
"Ya, karena nggak ingin."
"Tapi bang, Tika mau jadi pacar abang."
"Cantika, bukannya kamu udah iya in mau jadi teman abang kemarin, mau ngingkarin janji?"
Cantika mengangguk lemah.
"Suatu saat, jika kamu udah dewasa pasti bakalan ada banyak laki-laki yang suka sama kamu."
"Cantika jelek ya bang."
"Nggak, kamu cantik!"
Deg!
Mendapat pujian dari orang yang kita cintai tentu membawa kebahagiaan tersendiri bukan? begitulah yang Cantika rasakan saat ini, meskipun Langit tak menginginkan nya, tapi setidaknya kalimat yang berupa pujian itu membuatnya merasa bahagia.
__ADS_1