Pesona Twins S

Pesona Twins S
Frustasi


__ADS_3

Hari ini didalam kelas terasa begitu kosong dan hampa bagi Satria, pasalnya hari ini Stela tidak masuk, entah karena alasan apa hingga gadis itu tidak masuk sekolah.


"Bro,entar malem cabut yuk!" ujar Haikal yang tengah memasang helm hendak menaiki motornya yang berada di pelataran parkir sekolah.


"Kemana?" Andre yang menjawab.


"Gue denger, anaknya juragan Kardun hari ini ulang tahun, katanya sih malemnya ada acara kek konser gitu, asik nggak sih!"


"Wah keren tuh, boleh deh Kal, suntuk dirumah mulu, berasa kek anak perawan rumahan gue." Adam tampak bersemangat.


"Kalau lo gimana Sat, ikut kagak?" Haikal menoleh kearah Satria yang tampak lesu.


"Kemana?" tanyanya malas, karena sejak tadi ia memang tak fokus dengan obrolan ketiga sahabatnya.


"Ck, ni bocah ngelamun pasti, entar malem mau ikut kagak keacara ulang tahun anaknya juragan Kardun, ada konser bro, dan gue denger-denger ada salah satu band yang lo suka itu."


"Ok gue ikut." jawab Satria setelah beberapa menit berpikir.


"Gitu dong, kan asik jadinya." Haikal bersemangat.


"Tapi gue nggak sendiri." lanjut Satria yang membuat ketiga sahabatnya menoleh seketika.


"Gue bawa cewek gue."

__ADS_1


Ketiganya terdiam, dan saling melempar tatapan penuh tanya.


"Cewek lo yang mana lagi sekarang Sat, lo kagak balikan sama si Tiara ratu demit itu k_" ujar Andre yang repleks menjeda ucapannya saat mendapat bonus cubitan diperutnya.


"Apa sih dam, nyubitin perut gue, lo minta duit, kagak punya gue, minta emak lo sono." sentak Andre menatap Adam kesal.


"Lo ngomong sembarangan banget, pake ngatain si Tiara demit segala." timpal Haikal tak mau kalah.


"Gue kagak ngatain, tapi emang kenyataannya dia ratu demit kan, emang menurut lo cewek gatel model gitu bagusnya musti di panggil apa."


"Jin Ifrit."


"Hah?"


"Jin pengganggu." ucap Haikal singkat, sementara Andre dan adam tampak bingung.


"Lo mau tahu kenapa dia gue panggil jin ifrit."


"Kenapa?"


"Karena mereka punya kesamaan, yaitu sama-sama pengganggu."


"Gue pergi sama Stela." jawab Satria, yang membuat ketiganya kembali saling pandang.

__ADS_1


*


*


"Ya nggak bisa dong pa, kalau kayak gitu caranya papa jelas pilih kasih sama anak-anak." sentak Lia tak terima, saat Adrian mengatakan jika ia lebih mendukung hubungan Satria dengan Stela.


Sementara Nira yang ditemani Stefany sedang menangis tersedu-sedu, duduk disalah satu sofa paling ujung, ia marah, kesal, kecewa, karena rencana untuk membuat hubungan Stela dan Satria berantakan, malah berakhir dengan diberikannya restu oleh sang papa.


"Lia, untuk kali ini saja, kamu juga tolonglah mengerti, kamu tahu bagaimana Stela hidup selama ini, aku tak bisa memberi apapun yang menjadi haknya, teman, serta kasih sayang dariku dia tak mendapatkannya." jelas Adrian.


"Maksud kamu apa, kamu mau mulai perhitungan sekarang, karena sejak kita menikah anakku Nira mendapatkan seluruh perhatian dari kamu, kamu lupa ucapan kamu dulu, bahwa kamu mencintaiku maka kamu akan mencintai anakku juga, lalu sekarang apa, kamu mau mengungkitnya?" ujar Lia setengah berteriak.


"Bukan, bukan begitu Lia_"


"Lalu apa? tapi sudahlah! kamu lakukan apapun yang menurut kamu baik, jangan pernah pedulikan perasaan Nira." ucap Lia ketus, seraya mengantar sang anak menuju kamarnya.


Sementara Adrian menghela nafas panjang, kemudian mengusap wajahnya frustasi.


Ia tak menyangka jika Lia, wanita yang sudah menemaninya hampir empat belas tahun ini, akan bersikap begitu tak pedulinya terhadap Stela yang merupakan putri kandungnya.


Padahal sudah jelas dan Lia tahu pasti bagaimana ia mencintai dan menyayangi Nira yang notabene adalah anak tirinya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2