
Evans berjalan menuju kamar Mutia, membuka pintunya perlahan setelah mendapatkan izin untuk masuk dari sang adik.
Mutia memang tidak kembali ke Jakarta dulu, sebelum urusan serta lamaran yang akan diselenggarakan esok hari selesai.
"Eh bang Evans, Muti kira mama." ucapnya, menghampiri sang abang yang terlihat sedih.
"Abang kenapa?" tanyanya heran, tidak biasanya sang abang menampakan raut kesedihan meski ia sedang dilanda banyak masalah sekalipun.
"Dek, apa kamu bahagia?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca membuat Mutia semakin kebingungan.
"A-aku bahagia bang, memangnya kenapa?"
Tak ada kata lagi yang keluar dari mulut Evans, laki-laki itu menarik tubuh sang adik kedalam pelukannya.
Mungkin didepan orang lain dia terlihat paling kuat, dan terlihat paling merelakan sang adik untuk menempuh hidup barunya, namun nyatanya ia paling tak sanggup diantara yang lain, betapapun Evans begitu menyayanginya.
Dan meski kini Evans sudah memiliki seorang Putri, akan tetapi Mutia tetap adik yang paling ia cintai.
*
*
"Kamu serius Sat, jadi kamu diterima?" pekik Nada, menutup mulut dengan kedua tangannya tak percaya, bercampur sedikit kesal, pasalnya anak gantengnya itu tadi sempat menangis seolah menyiratkan sebuah kegagalan yang besar.
"Mungkin!" jawabnya lirih, ia sendiri sedikit ragu keluarga Mutia menerimanya atau tidak.
__ADS_1
"Bunda akan kasih tahu ayah," ucapnya antusias dan melenggang pergi.
Satya tersenyum kecil, orang tuanya aja sesenang itu, apalagi dia! pikirnya.
Sore itu juga Nada membawa Satria, Satya, Cantika dan juga Ando untuk membantunya mencari keperluan untuk lamaran.
Satria awalnya menolak, karena moodnya sedang buruk, namun pada akhirnya ia ikut juga karena Cantika terus memaksanya, dan mengancam tidak akan membantunya jika suatu hari nanti ia juga akan mengadakan acara lamaran untuk kekasihnya.
Disinilah kini ke lima orang tersebut, di sebuah pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai macam barang yang dibutuhkannya.
Ando, Satria, dan Cantika berhambur mencari makanan terlebih dahulu, sementara Nada dan Satya mampir ke toko perhiasan.
"Sat sini deh, cincin mana yang menurut kamu cocok untuk Mutia." Nada menunjukan berbagai macam model cincin yang tentunya untuk kalangan remaja.
"Menurut bunda ajalah yang mana bagusnya, aku yakin pilihan bunda selalu yang terbaik." ucapnya tersenyum geli.
"Pake uang aku aja bund." Satya mengeluarkan kartu andalan miliknya, membuat Nada menyimpan kembali uang cashnya.
Sebelumnya Satya memang sudah berpesan pada sang bunda agar segala sesuatu yang ia butuhkan ingin memakai uangnya sendiri.
Ia ingin membuktikan pada keluarga Mutia, bahwa ia sudah sanggup memberikan Mutia materi yang cukup, tiga tahun bekerja, selain mengelola Cafe dan bengkel milik ayahnya, Satya juga sudah memiliki Cafe sendiri, yang cukup ramai dan terkenal.
"Bunda tahu uang kamu juga cukup, dan bunda sangat bangga karena kamu cukup mandiri Sat, tapi sebagai orang tua bunda juga mau membantu apa yang anak bunda butuhkan." ujar Nada setelah keduanya selesai membeli cin-cin.
Langkah Satya terhenti, "Bun?"
__ADS_1
"Kenapa."
"Bunda ingat nggak dengan cerita masa muda ayah?"
"Yang mana, bunda rasa cerita masa muda ayah terlalu banyak." Nada terkekeh geli.
"Ayah bilang, dia juga menikahi bunda menggunakan uangnya sendiri, hasil kerja kerasnya sendiri."
"Kamu benar!"
"Apa aku udah seperti ayah bun?"
Nada tersenyum lembut, "Beda, kamu dan ayah jelas berbeda."
"Bedanya?"
Tak menjawab, Nada melangkah terlebih dulu membuat Satya bergegas mengikutinya.
Nada menggeleng-gelengkan kepala, dari segi rajin dan juga bertanggung jawabnya yang tinggi keduanya memang memiliki kesamaan, tapi tidak dengan sikap dan juga kecerdasannya.
Satya lebih dari segalanya.
*
Namun meski begitu, ia sangat bangga terhadap suaminya.
__ADS_1
*
*