
Saat bel berbunyi yang menandakan belajar mengajar telah usai, Stela memutuskan untuk cepat-cepat keluar dari sekolah tersebut, bukan tanpa alasan ia terburu-buru seperti itu, melainkan berjaga-jaga agar siang ini ia tidak bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang bernama Satria.
Sementara ditempat yang sama, Satria nampak gelisah berdiri disamping motor nya, sesekali melirik jam dipergelangan tangannya yang terasa lambat untuk bergerak.
Mendengus dengan sentakan nafas cukup kasar, saat lagi-lagi harus melihat seseorang yang sama sekali tidak ingin ia temui.
"Sat, lo nungguin gue?" ujar seorang gadis dengan senyum sumringah, seorang gadis yang tak lain adalah Tiara.
"Pede lo," jawab nya ketus, bergegas menaiki motor dan melajukannya meninggalkan area sekolah.
Selama di perjalanan Satria bersenandung lirih, hari ini ia ingin menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan mengelilingi beberapa tempat yang sering ia kunjungi.
Namun saat ia hendak membelokan motor nya, kilasan matanya tak sengaja menangkap sosok yang ia tunggu sejak tadi.
"Kebetulan banget!" gumamnya seraya tersenyum tipis memandangi gadis yang masih memakai seragam yang sama dengannya dari kejauhan.
"Jangan panggil gue Satria, kalau gue nggak bisa dapetin lo." ucap nya yang kembali melajukan motor nya, saat gadis yang bernama Stela itu selesai membeli buah-buahan dan kembali menaiki mobil yang ditumpanginya.
Cukup lama Satria mengikuti mobil berwarna hitam didepannya, yang memakan waktu selama tiga puluh menit, hingga mobil tersebut berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah.
Tak lama Stela turun dari mobil, menenteng satu kresek buah-buahan yang dibelinya tadi, sementara Satria hanya melihatnya dari kejauhan, sembari melihat-lihat apa saja yang ada disekitar rumah Stela.
Cukup lama ia berada disana, hingga ia kembali melihat Stela yang keluar dari rumah nya, gadis itu terlihat lebih cantik menggunakan dress selutut, dengan rambut yang dikuncir menyerupai ekor kuda.
"Mau kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri.
*
*
"Cewek hobinya emang gitu sih ya, kagak aneh! kalau nggak jalan-jalan ya shopping." gerutu Satria, saat kembali mengikuti Stela yang kini memasuki sebuah butik.
Sebuah butik yang ternyata tidak jauh dari DenadaCafe, dan lebih tepat nya bersebrangan.
Masih penasaran dengan apa yang dilakukan Stela, Satria pun memutuskan untuk melihatnya dari depan Cafe saja, sekaligus untuk minum karena tenggorokannya terasa kering, panas-panasan sejak tadi.
"Hayo, mas Satria lihatin apa_ eh maksudnya siapa?" Wenny mengagetkannya hingga membuat Satria terperanjat dari kursi yang di dudukinya.
"Ck, anjir!" Satria repleks memegangi dadanya.
Sementara Winny tergelak, menutup mulut menggunakan sebelah tangannya.
"Ihhh, kaget ya! sorry mas," ujar Winny yang kembali tertawa.
"Ganti rugi nih."
"Hah, apa nya yang musti diganti rugi?" protes Winny.
"Nggak mau tahu, pokoknya mbak harus buat kan minum yang paling seger di Cafe ini."
"Halah, bilang aja haus! tapi oke lah tunggu bentar ya!"
"Sip, thank you mbak cantik."
__ADS_1
"Ck giliran ada maunya aja bilang mbak cantik." Winny mendengus seraya melangkah memasuki Cafe.
"Nih," Winny meletakan satu gelas jus melon yang ia ketahui adalah favorit Satria, menarik salah satu kursi lalu duduk didepan laki-laki yang berstatus anak majikannya tersebut.
Diam, memperhatikan gerak-gerik Satria, lalu mengikuti arah pandang nya.
"Mau diganti lagi, perasaan baru tiga bulan deh! udah diganti lagi aja." ujar Winny, yang seketika membuat Satria menoleh kearahnya.
"Apanya yang diganti mbak?"
"Itu," menunjuk kearah sebrang dimana butik itu berada. "Papan nama butik." tambahnya.
"Yang punya butik itu masih muda lho mas, mbak rasa seumuran mas Satria gini, tapi bedanya dia perempuan, mbak kasian banget sama dia, denger-denger dia itu harus pindah sekolah karena sering di bully sama saudara tirinya."
"Hah?" Satria merubah posisi duduk nya menghadap Winny, lalu menatapnya serius.
"Kenapa lihatin mbak gitu banget, mbak cantik ya! ihs kamu terlambat menyadari mas, jangan bilang suka! mbak udah nikah udah punya anak juga." ujar Winny yang membuat kepala Satria mendadak pusing.
"Mbak tahu nggak nama pemilik butik itu?"
"Kenapa memang nya, dih kepo!"
"Mbak!" Satria mendengus kesal.
"Namanya Stela, orang nya cantik banget! mbak udah beberapa kali belanja disitu, model bajunya bagus-bagus."
Deg!
"Dia kesini setiap hari?"
"Ya hampir sih, setiap hari, kan dia sendiri yang merancang model baju-bajunya."
"Ok mbak thanks!" ucap nya berdiri sembari menepuk pundak Winny dengan senyum sumringah, dan berlalu pergi begitu saja, membuat Winny terheran-heran.
*
*
"Bunda, bun_"
"Berisik banget sih abang, si Moly jadi ke bangun kan!" gerutu Cantika menatap Satria kesal, pasalnya kucing kesayangannya yang susah payah ia tidur kan seketika terbangun kembali.
"Elah timbang kucing doang, bangun woyy.. bangun!" berteriak tepat ditelinga Moly, membuat kucing gendut tersebut kaget dan repleks berlari.
"Abaaaanggg!" teriak Cantika, sementara Satria bergegas menaiki tangga sembari menutup kedua kuping nya.
"Eh bunda disini?" ujar Satria menyalami sang bunda, serta menoyor kepala Satya, yang tengah membantu sang bunda memasangkan beberapa Foto di dinding depan kamar nya yang berada di lantai atas.
"Dari mana aja kamu jam segini baru pulang?" seru Nada ketus.
"Biasa bun." jawabnya sambil tersenyum.
"Kebiasaan."
__ADS_1
"Jangan marah dong bun, oh iya bun ucapan bunda waktu itu masih berlaku kan?"
"Yang mana, ucapan bunda itu banyak." Nada menjawab masih dengan sangat ketus.
"Yang waktu bunda bilang suruh megang DenadaCafe.''
Nada terdiam mendengar kan, sembari melipat tangannya didepan dada.
"Aku udah mutusin mau kerja mulai besok bun." ujarnya dengan raut wajah yang terlihat serius.
"Kamu serius?" seru Nada tak yakin.
"Serius bun, Satria pasti buktiin."
"Tapi bunda nggak yakin kamu bisa." lanjut Nada, karena ia memang benar-benar tak yakin mengingat betapa bandelnya Satria selama ini.
"Please bun, kasih Satria kesempatan buat buktiin semuanya."
Terlihat Nada berpikir, sembari memandangi wajah putra kedua nya itu yang entah mengapa kali ini terlihat bersungguh-sungguh.
Setelah berpikir cukup lama, Nada pun menganggukan kepalanya, "Oke mulai besok kamu mulai kerja, buktiin ke bunda sama Ayah kalau sekarang seorang Satria sudah mulai dewasa dan berkembang." ujar Nada yang membuat Satria seketika melompat dan memeluknya.
"Makasih bun, Satria janji akan bekerja sebaik mungkin." menciumi pipi sang bunda beberapa kali, bersenandung girang memasuki kamarnya.
Sementara Satya yang sejak tadi berada disamping sang bunda, terbengong-bengong dengan tingkah Satria yang menurutnya sangat aneh itu.
"Bunda?" lirih Cantika, yang diiringi isakan tangis.
"Lho, lho! anak cantik bunda kenapa nangis?" tanyanya, sembari menghampiri anak perempuan satu-satunya itu.
"Moly bun."
"Kenapa, Moly nya kenapa sayang?"
"Manjat pohon bun." jawabnya dengan tangis yang semakin kencang.
"Lho kok bisa?"
"T-tadi lagi tidur, diteriakin bang Satria, jadinya ketakutan."
"Yaampun itu anak kenapa sih, doyan banget jailin adeknya." gerutu Nada, menoleh ke arah pintu kamar Satria, melangkah mendekat dan bergegas mengetuknya.
"Satria buka!"
"Apa sih bun, teriak-teriak!'' ucapnya malas.
"Tanggung jawab! manjat pohon, turunin si Moly."
"Hah?"
.
.
__ADS_1